Jumat, 3 Sep 2010  
 
 
 
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 

 
 
 
   
 
   
   
 
.:: Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1431 H, Pusat Data PERSI dan Sekretariat PERSI Pusat libur mulai Hari Rabu tanggal 8 September 2010 sampai dengan Rabu tanggal 15 September 2010, masuk pada Hari Kamis tanggal 16 September 2010, Segenap Pengurus Pusat Data PERSI dan PERSI Pusat mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H, Minal Aidzin wal Faidzin - Mohon Maaf Lahir dan Batin ::.
 
Inisiasi Menyusui Bayi
Bayi Tau Apa Yang Dia Mau

Selasa, 8 Jan 2008 09:53:31

Pdpersi, Jakarta - Bayi itu masih merah, usianya baru hitungan detik. Setelah tali pusarnya dipotong dan tubuhnya dilap oleh petugas medis yang menangani persalinan, ia segera ditelengkupkan di dada ibunya. Sungguh menakjubkan, bayi yang baru dilahirkan itu tergoleh nyaman di dada ibunya. Seketika ia berhenti menangis. Matanya sesekali terbuka. Tangan serta kakinya bergerak perlahan, mirip gerakan merayap seakan-akan mencari dan memburu sesuatu. Menit demi menit berlalu. Naluri kebayiannya menghantarkan ke tempat yang dituju, yaitu putting payudara ibu. Mulut si bayi terbuka dan lidahnya mengecap daerah aerola, seperti hendak memastikan benar inilah yang dicari. Kemudian mulut mungil itu pun melahap putting ibunya dan mulai menyusu sampai ia merasa puas.

Semua ini terlihat jelas dalam rekaman video persalinan yang diperlihatkan khusus pada wartawan usai peresmian berdirinya Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) di Jakarta, Agustus lalu. Peristiwa yang terjadi pada ibu dan bayi yang baru dilahirkan tersebut dikenal dengan istilah inisiasi menyusu dini (IMD). Dr. Utami Rusli, Sp.A. MBA, IBCLC dari RS St Carolus Jakarta menjelaskan, IMD merupakan pengenalan awal pada bayi proses menyusu yang dilakukan sesegera mungkin dalam fase 1 jam setelah kelahiran.

Proses IMD dilakukan sesaat setelah bayi lahir dalam keadaan sehat dan menangis, sesudah dipotoong tali pusarnya dan dilap dengan kain hangat (dengan tetap mempertahankan vernix). Bayi dibiarkan telanjang dan diletakkan di dada ibu yang juga telanjang dengan posisi tengkurap menghadap kearah ibu. Bayi sengaja dibiarkan mencari sendiri putting susu ibunya. Proses pencarian memakan waktu bervariasi, sekitar 30-40 menit. Dalam hal ini segala tindakan atau prosedur yang membuat bayi stress atau merasa sakit ditunda dulu, seperti menimbang, mengukur dan memandikan bayi dilaksanakan setelah IMD selesai dilakukan. IMD dapat dilakukan pada bayi yang dilahirkan dengan cara normal maupun operasi sesar. Salah satu bayi yang ditayangkan video AIMI, lahir secara sesar dan berhasil menyusu setelah “berjuang” selama 70 menit.

Menurut Utami, IMD dapat melatih dan membiasakan bayi mengisap payudara ibu yang nantinya berperan penting dalam mewujudkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama dan berlanjut dengan pemberian ASI sampai anak berusia 2 tahun. Yang paling menggemebirakan, IMD membantu bayi mendapatkan kolustrum, seseuatu yang sangat dibutuhkannya dalam menyongsong kehidupan dunia. Kolustrum mengandung zat antibody, zat aktif imunitas, dan protein protektif lainnya.

Meski tidak ditutupi selembar benang pun, bayi tidak akan kedinginan, sebab tubuh ibu akan membantu menghangatkan bayi dengan suhu yang tepat. Hal ini terlebih diperlukan oleh bayi yang lahir atau dengan berat lahir rendah. Detak jantung ibu membuat bayi merasa tenang, stabil, dan tidak stress. IMD juga membantu meningkatkan daya tubuh bayi terhadap infeksi. Kuman yang pertama kali terpapar ke tubuh bayi berasal dari ibu yang kebanyakan tidak berbahaya dan telah direspons dengan factor protektif yang tersedia dalam ASI.

Rasa Sakit Pun Hilang
Bagi ibu, sentuhan atau tekanan tangan, mulut, sundulan kepala bayi serta isapan pada payudara merangsang produksi hormone oksitosin. Hormone ini merangsang kontraksi rahim dan membanut keluarnya plasenta secara alami, serta membantu mengurangi perdarahan pasca persalinan. Oksitosin menstimulasi hormon-hormon lain untuk meredam rasa sakit, membuat ibu merasa tenang, rileks, dan “jatuh cinta” pada bayinya. Ini sebuah keajaiban yang nyata. Begitu bersentuhan dengan bayinya, rasa sakit persalinan langsung berkurang banyak. Bahkan ketika jalan lahir dijahit pasca persalinan, ibu hanya merasakan sakit yang sedikit. “Saya hanya mengaduh kecil ketika dijahit,” kata Sophie Novita, istri Pongky Jikustik yang turut menjalani IMD pada kelahiran anak kedua mereka.

Satu lagi, oksitosin juga merangsang aliran ASI dalam payudara ke mulut bayi. Ini akan memudahkan aktivitas menyusu selanjutnya. Penelitian menunjukkan kontak kulit dan pemberian kolustrum pada awal kelahiran ini berkaitan dengan penurunan kematian pada bayi.”Satu jam pertama inisiasi menyusu dini dan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan telah menyelamatkan lebih dari sejuta bayi,” tutur Utami.

Hambatan
Sayangnya, IMD ini belum banyak dipraktikkan di Indonesia. Selain karena sosialisasi yang belum meluas, promosi menjalankan persalinan tanpa rasa sakit turut mempengaruhi minat ibu-ibu menjalankan IMD. Utami mengatakan, medikasi yang bertujuan menghilangkan rasa sakit persalinan, seperti metode Intrathecal Labor Analgesia (ILA), tidak bisa disejalankan dengan IMD, karena ketika ibu dibius bayi yang dilahirkan ikut “teller” sehingga tak bisa “berjuang” menggapai putting ibu. “Andai saja para ibu itu tahu bahwa rasa sakit melahirkan itu tak ada artinya dibandingkan dengan manfaat yang didapat dari IMD,” tukas Utami.

Selain itu, hambatan juga datang dari kalangan medis. Dr.Nurwansyah SpOG, spesialis penyakit dalam dari RSAB Harapan Kita, mengatakan, sampai saat ini belum semua dokter dan rumah sakit menerima IMD dengan alas an bervariasi. Antara lain khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, misal bayi masuk angina atau terjatuh. Padahal kekhawatiran ini tidak perlu ada karena ibu dan bayi senantiasa dalam pengawasan. “Ini lumrah di Indonesia, sesuatu yang baru seringkali di-reject sebelum dikaji lebih dulu sisi manfaatnya,” kata Nurwansyah.

Dalam acara peresmiannya, AIMI bertekad akan menyebarkan informasi IMD ke khalayak luas. Semoga kalangan medis turut menjadi target sosialisasi, karena bagaimanapun, dokter dan bidan adalah ujung tombak terlaksananya IMD di lapangan.

Sumber : Parameter (edisi khusus stroke)
 
 
Bias Wanita Lainnya :
Anak dan Perempuan Harus Dilindungi dari Rokok
Vaginal Dryness : Ketika Vagina Sudah Tidak Ampuh lagi
Aktifitas Fisik Memang Ampuh Mencegah Kanker Payudara
Botox Merusakan Syaraf Otak
Trik Berpuasa Bagi Ibu Hamil dan Menyusui
 
Lihat Arsip Bias Wanita
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
 
Comparative Sudy & Umroh Plus - Health Financing And Hospital Finance
Workshop Metode Baru : Perencanaan SDM Rumah Sakit - Gelombang 3
Pelatihan Perawatan Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Di Rumah Sakit
Seminar Nasional X PERSI - Seminar Tahunan IV Patient Safety - Hospital Expo XXIII Tahun 2010
Workshop Di Alam Asri - Keselamatan Pasien Dan Manajemen Risiko Klinis - PERSI - KKPRS - KARS & IMRK
 
 
Kandungan
(dr. Ferry A. Firdaus Mansoer, MM, SpOG.)
Anak
(dr. Rudi Hartono, SpA)
Andrologi
Prof. DR. dr. H. Nukman Moeloek. SpAnd
 
 
  Login
  Berita PERSI
  Teknologi Informasi & Keselamatan Pasien
 
  Berita RS
  RS Lansia Akan Berdiri di Sleman
 
  Manajemen RS
  Waspadai Penggunaan Sarana & Prasarana RS Sebelum Bermasalah Dan Membahayakan
 
  Artikel Gizi Klinis
  KANDUNGAN ENERGI DAN MINERAL PISANG YANG DAHSYAT
 
  Kehumasan RS
  Pasien Harus Tahu Hak-haknya
 
  Artikel IT
  Apa itu Cookies ?
 
 
 
 
 
 
Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi tulisan ini dalam bentuk media apapun tanpa izin tertulis dari pdpersi.co.id


Copyright © 2003  PDPERSI.CO.ID

PUSAT DATA & INFORMASI - PERHIMPUNAN RUMAH SAKIT SELURUH INDONESIA
Alamat: Komplek Sentra Bisnis Artha Gading
Jl. Boulevard Artha Gading Blok A-7A No. 28
Kelapa Gading Jakarta Utara
Telp. 021-45845223, 45845291, 45845303, 45845304   Fax. 021-45845291


BEST VIEWS 1024 x 768 Pix RESOLUTION