Bayi Syafitri, Satu Badan Dua Kepala
Senin, 14 Aug 2006 12:15:21
Pdpersi, Jakarta - Kepala kanan Syafitri bergerak perlahan, matanya mengerjap dan akhirnya sedikit terbuka. Namun, tak lama kemudian, mata itu kemudian terpejam. Ia kembali tertidur.
Tak lama kemudian, giliran kepala kiri bayi berusia tiga hari itu yang bergerak. Sedikit mengerang, namun kemudian ikut terlelap.
Kendati berada dalam satu raga, dua kepala Syafitri, bayi variasi kembar siam yang memiliki satu tubuh dengan dua kepala itu memang kerap tak kompak. Kepala kanan Syafitri cenderung lebih aktif, seiring dengan degupan jantung di dadanya yang terlihat lebih kasat mata. Semburat kebiruan juga muncul di wajah kepala kanan Syafitri. Sementara, kepala kiri Syafitri lebih tenang. Tertidur lebih lelap dan tak banyak menangis.
Syafitri lahir dengan satu tubuh, sepasang kepala, sepasang kaki, dua tangan dan dua kepala dengan hanya memiliki satu jantung, satu ginjal, satu lambung, satu liver, satu kelamin, dua paru-paru serta dua sistem syaraf tulang belakang. Syafitri lahir lewat operasi sesar dengan berat badan 3,95 gram, tinggi 45 cm, lingkar kepala kanan 32 cm dan kepala kiri 34 cm.
Kendati sepintas terlihat sehat, Syafitri yang lahir di RS Pelni Petamburan Jakarta Barat 7 Agustus pukul 23.00 itu mengalami gangguan serius pada jantungnya. Jantung Syafitri tak memiliki klep yang memisahkan serambi jantung yang mengolah darah kotor dengan darah bersih. Akibatnya, kepala kanan Syafitri membiru.
Selain itu, ginjal yang hanya satu juga terbilang serius. Kelainan lainnya, yaitu sistem pencernaan yang tak dilengkapi dubur terbilang ringan. Begitu pula dengan keberadaan dua pasang kaki yang tak berkembang sempurna juga terbilang tak terlalu mengganggu. Satu buah kaki lebih mirip ekor, ukurannya mencapai ibu jari orang dewasa. Satu buah lainnya hanya sebesar kacang tanah.
Dilahirkan pada 7 Agustus pukul 23.00, Syafitri adalah bayi berkepala dua pertama yang ditemukan di Indonesia dan kasus kedua di dunia. Sebelumnya, di Iran, bayi serupa dapat tumbuh sehat hingga dewasa sebelum akhirnya meninggal ketika akhirnya mereka memutuskan untuk memisahkan diri.Syafitri, anak keempat pasangan Mulyadi, 32, dan Nuryati, 30, lahir lewat operasi sesar. Baik Mulyadi yang bekerja sebagai petugas keamanan serta Nuryati tak pernah menyangka Syafitri terlahir sebagai kembar siam langka.
Selama kehamilan, Nuryati tak merasakan gejala apapun. Ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Slipi itu biasa memeriksakan kandunganya pada bidan dan memang sempat diberitahu bahwa bayinya akan lahir kembar. Namun, ia tak pernah menyangka Syafitri akan menjadi bayi berkepala dua.
dr Ketut Lila Murti Sp.A, yang menangani kelahiran Syafitri serta menjadi anggota tim dokter khusus yang dibentuk RS Pelni Petamburan telah mengidentifikasi bahwa operasi jantung Syafitri harus dilakukan segera. Tim dokter itu sendiri terdiri dari sembilan orang dokter yaitu dokter bedah anak, dokter anak, dokter anastesi, dokter kandungan serta spesialis radiologi.
"Jika masalah ini dapat diatasi, ada kemungkinan Syafitri dapat tumbuh sehat hingga dewasa. Setelah jantung, barulah kita menangani ginjal yang hanya satu dan duburnya yang tak ada," kata Ketut.
Pihak RS Pelni Petamburan berencana untuk menjalin kerjasama dengan dokter jantung RS Jantung Harapan Kita untuk menjalankan operasi pemasangan klep buatan.
"Tapi, ternyata ada aturan, dokter itu harus mendapat izin dahulu, segera setelah izin keluar, operasi itu akan kita jalankan," kata Ketut yang belum dapat memperkirakan kapan dan dimana operasi itu akan dilakukan.
Jika operasi jantung itu terlaksana, Ketut memperkirakan, tim dokter tak akan melakukan operasi pemisahan. "Karena tak mungkin secara biologis maupun etika dua kepala ini dipisahkan karena tubuhnya satu. Jadi jika bisa bertahan, mereka akan tumbuh hingga dewasa dengan satu tubuh dan dua kepala. Bisa jadi mereka akan menjadi orang hebat karena kan otaknya juga ada dua,"kata Ketut.
Kendati Syafitri memiliki dua otak dan sistem syaraf yang berbeda, sang ayah, Mulyadi bersikukuh menganggap Syafitri adalah satu individu. Itulah yang membuat pria yang mengaku telah dapat menerima kondisi anaknya itu hanya memberikan satu nama untuk putri keempatnya itu.
"Saya sih sudah pasrah, mungkin karena saya laki-laki. Tapi, istri saya memang belum kuat mungkin juga masih mau istirahat karena baru dioperasi. Saya sendiri baru memberi tahu dia sesudah dua hari. Sekarang saya serahkan sama Yang Maha Kuasa," kata Mulyadi yang terlihat tabah.
Seorang tetangga Mulyadi yang menolak disebut namanya mengungkapkan, kakak Syafitri yang pertama terlahir dengan pertumbuhan yang lambat. "Yang kedua meninggal, yang ketiga normal," kata dia.
Ketut mengungkapkan, apa yang terjadi pada Syafitri diduga dipicu oleh abrasi kromosom pada saat terjadinya pembuahan sel telur oleh sperma. Penyebabnya, paparan obat-obatan, virus, jamu, serta radiasi pada tubuh ibu.
Sampai saat ini biaya perawatan Syafitri masih ditanggung oleh pihak rumah sakit. Pihak Dinas Kesehatan DKI Jakarta sendiri telah mengungkapkan komitmennya untuk membantu Syafitri. Namun, tetap mensyaratkan agar Mulyadi memenuhi persyaratan administrasi sebagai warga tak mampu.
"Operasi jantung sendiri bisa lebih dari Rp 100 juta. Mudah-mudahan nanti ada yang akan membantu," kata Ketut.
Mulyadi sendiri mengaku pasrah dan mengikuti sepenuhnya lengkah-langkah yang akan ditempuh pihak rumah sakit. Disinggung soal biaya, Mulyadi hanya menggeleng. "Belum tahu," katanya lirih. (iis)
|
|