Sembuh dari Kanker Payudara Berkat Deteksi Dini
*Faiziah Fauzan
Senin, 18 Jun 2007 14:29:26
Pdpersi, Jakarta - Sebelas tahun yang lalu, ibu dua anak ini dinyatakan mengidap kanker payudara ganas. Berkat deteksi dini nyawanya terselamatkan.
Cerita bermula di awal tahun 1996. Ketika hendak menunaikan ibadah haji, Linda Agum Gumelar memeriksakan kesehatannya secara intensif. Waktu itu Linda merasakan dirinya sehat dan tidak mengalami keluhan yang serius. Ia tahu bahwa di payudaranya terdapat benjolan tapi tidak sakit. Jadi dianggap bukan masalah.
Hasil pemeriksaan kesehatan sungguh mengejutkan. Benjolan yang dikira “biasa” itu ternyata adalah kanker jenis ganas. Dan diketahui, kanker itu ada di kedua payudaranya. Padahal umumnya kanker ganas hanya bersarang di salah satu sisi, payudara kiri atau kanan. Dengan melihat kondisi Linda secara menyeluruh, dokter mengatakan harapan hidupnya tinggal 40 persen. Shock, sedih, itulah yang terasa. “Kayaknya dunia mau runtuh,” kata Linda. Wanita mana yang tidak hancur hatinya manakala divonis umur tinggal sejengkal.
Seketika keadaan berubah. Linda dihadapkan pada dua pilihan : tetap berangkat ke tanah suci atau pergi berobat ke luar negeri. Jika berobat, ia pun harus memutuskan apakah mau dioperasi atau tidak. “Tidak mudah membuat pilihan. Saya tanya kepada suami, tetapi pada akhirnya tetap saya yang harus memutuskan sendiri. Hari-hari terasa berat. Setiap malam rasanya seperti mau mati,” tutur Linda. Dalam mengatasi kesedihan, Linda lebih suka melepaskan segala beban hatinya kepada Sang Pencipta melalui shalat di saat semua penghuni rumah sudah tidur.
Setelah urun rembuk dengan suami, Linda akhirnya mengambil keputusan untuk segera berangkat ke Roterdam, sebuah kota di negeri Belanda. Disana ada sebuah rumah sakit khusus kanker payudara yang sudah banyak membantu kesembuhan penderita kanker payudara, termasuk pasien-pasien dari Indonesia. Artis kondang Rima Melati salah satu di antaranya. Rima termasuk orang yang banyak memberikan dukungan pada Linda saat dalam menjalani hari-hari yang berat.
Linda terbang ke Belanda pada Bulan Februari 1996. Di negeri Kincir angina ini Linda mendapatkan keajaiban-keajaiban yang membuat semangat hidupnya bertambah kuat. Kanker ganas yang bersarang di tubuh Linda dinyatakan termasuk kategori stadium nol atau masih dini, dengan tindakan operasi harapan sembuh terbuka lebar. Tentu ini kabar baik yang sangat menggembirakan.
Tanpa Kemoterapi
Tiga bulan setelah kedatangannya di negeri Belanda, berulah Linda menjalani operasi kanker payudara. Operasi ini juga mengangkat kelenjar getah bening di ketiak kanan dan kirinya.
Sebuah keajaiban kembali dating pada Linda. Menurut dokter, dari operasi pengangkatan penyakit dan kelenjar getah bening diketahui belum terjadi penyebaran sel-sel kanker di tubuh Linda. Dengan begitu Linda dinyatakan tidak perlu menjalani kemoterapi dan radioterapi. Dua hal inilah yang menjadi momok menakutkan bagi penderita kanker. Kemoterapi mendatangkan berbagai efek samping yang mendatangkan rasa tidak nyaman.
Ini adalah salah satu keuntungan terdeteksi dan tertanganinya kanker pada stadium dini. “Saya bersyukur sekali tidak dikemo (Kemoterapi). Suster yang merawat saya sampai meneteskan air mata ikut terharu. Katanya, dari seribu penderita kanker belum tentu satu seperti saya,” ujar Linda.
Usai dioperasi Linda tidak lepas begitu saja dari pengobatan. Selama dua tahun ia harus mau bolak balik Jakarta – Roterdam minimal sekali enam bulan untuk memonitor perkembangan kesehatannya. Setelah itu control cukup dilakukan sekali dalam setahun. “Setiap kali mengontrol kesehatan, saya selalu merasa deg-degan, khawatir bila penyakit itu masih ada,” tutur Linda. Sekarang dokter tidak lagi mengharuskannya memeriksakan diri secara rutin. Hanya bila sewaktu-waktu berkunjung ke Belanda, Linda diminta meyempatkan diri ‘main’ ke Roterdam dan melakukan check up di rumah sakit tempat ia dirawat dulu.
Sebelas Tahun Berlalu
Sebelas tahun berlalu sejak operasi dilakukan, kondisi Linda tetap stabil. Ia pun bisa beraktivitas dengan leluasa. Bahkan kesibukan Linda sehari-hari di atas rata-rata kebanyakan kaum wanita seusianya. Linda mengetuai sejumlah organisasi.
Untuk menjaga kesehatannya, Linda selalu mengukur diri. Jika merasa letih, kedua tangannya terasa panas. Mungkin ini disebabkan kelenjar getah bening di ketiak kiri dan kanannya sudah tidak ada. “Kalau tangan saya mulai kepanasan seperti dicabein, saya merasa aktivitas saya sudah overload. Dengan sendirinya saya langsung beristirahat.
Setelah itu, badan terasa enak kembali,” tuturnya. Makan dengan teratur, banyak mengonsumsi buah dan sayuran dilengkapi dengan sedikit porsi protein hewani serta rutin minum susu, menjadi senjata utamanya untuk tampil fit setiap hari. Satu yang tidak kalah penting, Linda juga menjaga kesehatannnya dengan mengontrol pikiran. Ia selalu berusaha berpikir positif. Dengan begitu tidak usah stress. “Dulu saya selalu ingin mendapatkan sesuatu yang bernilai delapan. Pokoknya harus perfect. Sekarang saya tidak ngotot lagi. Dapat nilai enam saya sudah senang. Alhamdulillah dengan cara begitu saya bisa lebih relaks,” ungkap wanita yang pernah selama lima tahun menjadi vegetarian ini.
Pengalaman Linda bergelut dengan kanker payudara menjadi cermin bagi orang banyak, bahwa kanker bukan berarti kiamat, bukan suatu titik akhr. Harapan untuk hidup lebih lama selalu terbuka selama ada semangat untuk hidup. “Tak ubahnya dengan flu, demam, atau maag, kanker hanyalah sebuah kata, bukan sebuah vonis. Kemauan dari diri sendiri dan kepasrahan kepada Tuhan akan sangat membantu untuk bertahan menghadangi penyakit. Saya sangat yakin itu, “ucap Linda.
Tak ingin dikasihi
Tak mudah menyelami perasaan orang-orang yang hidup dengan kanker. Tidak jarang karena ketidakpahaman kita, niat untuk membantu justru membuat mereka bertambah sakit dan tertekan. Terkadang mereka tidak ingin ditanya-tanya soal penyakit, apalagi ditatap dengan rasa kasihan. Sesungguhnya yang mereka butuhkan adalah dukungan, dorongan semangat. Salah satu bentuk dukungan itu adalah pengertian. Linda menceritakan keadaan yang pernah dialaminya dulu. Bahwa penderita kanker memiliki mood yang turun naik. Adakalanya Linda ingin sendiri. Itu artinya ia tidak ingin bertemu dengan orang. Kalau ada yang bezuk, ia pun pura-pura tidur. Tetapi seringkali pembezuk mengartikan lain dan mengira penyakitnya bertambah parah. “Padahal bukan demikian. Tanpa mengurangi rasa terima kasih sudah dibezuk, saya tidak ingin keluar karena sedang ingin sendiri,” tutur Linda.
Semestinya hal ini bisa dimengerti karena tipe orang berbeda-beda. Terapi kanker memberikan efek samping yang tidak menyenangkan. Contohnya ada yang mengalami rambut rontok sehingga enggan bertemu orang. “Kita mesti menghargai perasaannya,” imbuh Linda.
Linda sendiri termasuk tipe orang yang tidak ingin dikasihani. Ia sangat tidak mau terlihat sakit dan susah di depan orang banyak. Makanya, begitu pulih dari operasi, Linda segera merias wajah agar terlihat segar bila ada yang membezuknya. Namun tidak disangka ada seorang teman yang membezuk melihat Linda berdandan. Lalu, si pembezuk langsung mengabari temannya yang lain via handphone dan berujar, “Saya baru tahu loh, ada pasien kanker yang baru selesai operasi langsung bedakan dan lipstikan.” Mendengar kata-kata itu, Linda pun tersenyum. “Itulah kerasnya saya.” Tuturnya diiringi tawa.
H/an