Jumat, 10 Sep 2010  
 
 
 
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 

 
 
 
   
 
   
   
 
.:: Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1431 H, Pusat Data PERSI dan Sekretariat PERSI Pusat libur mulai Hari Rabu tanggal 8 September 2010 sampai dengan Rabu tanggal 15 September 2010, masuk pada Hari Kamis tanggal 16 September 2010, Segenap Pengurus Pusat Data PERSI dan PERSI Pusat mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H, Minal Aidzin wal Faidzin - Mohon Maaf Lahir dan Batin ::.
 
Derita Istri Seorang Penjudi
Nasihat Justru Berbuah Amarah

Selasa, 31 Jul 2007 10:11:01

Pdpersi, Jakarta - Seorang wanita muda tampak berbaring di salah satu ruang ICU RSUD Soesolo, Slawi, Jawa Tengah. Kondisi wanita bernama Prowati (35) itu sungguh mengenaskan. Sekujur tubuh mengalami luka baker. Dada dan punggungnya melepuh serta wajahnya hangus menghitam. Kedua tangannya dibalut kain kasa. Wanita yang tengah mengandung enam bulan berkali-kali merintih kesakitan.

Saat pertama kali dibawa ke rumah sakit, kedua matanya selalu tertutup dan tak sanggup berkata sepatahpun. Ketika ditemui, Wati sapaan Prowati, sedikit-sedikit bisa bicara. “Semuanya sakit. Saya sakit fisik dan sakit hati. Punya suami, hobinya judi. Gara-gara dia saya jadi seperti ini. Sungguh ini cobaan hidup yang tak mungkin saya lupakan sepanjang sejarah hidup saya, “kata Wati yang waktu itu ditemani ibunya, Kasti dan adiknya Harsi.

Pelan-pelan Kasti menyuapi anaknya. Sebelumnya, mulut Wati terkatup, tak bisa dibuka. “Syukur saya sudah bisa makan. Saya juga sudah bisa tidur. Saya diminta ibu agar banyak-banyak istigfar dan menyebut asma Allah. Kata ibu, itu untuk mengurangi rasa sakit,” ujar Wati yang mengaku sudah tidak sanggup menangis lagi.

Dilempar Kompor
Dengan terbata-bata, Wati menceritakan deritanya. Selesai jualan ikan keliling kampung dengan mengendarai sepeda, Wati pulang ke rumahnya di Desa Karanglo, Kecamatan Jatibarang, Brebes. Tiba di rumah, ia minta tolong suaminya, Sukar (35), untuk kulakan ikan di Pasar Brebes. Ikan itu pesanan orang yang mau punya hajat. “Saya memberinya uang Rp. 250 ribu. Malamnya dia pulang, tapi tidak membawa ikan. Katanya, di Pasar Brebes belum ada.”

Esoknya, Wati kembali memberi uang. Total uang yang sudah dibawa Sukar untuk kulakan sebesar Rp. 500 ribu. Selama tiga hari berturut-turut, Sukar tetap tak membawa barang dagangan. “Ketika saya tanya ikan pesanan, diamalah enggak jawab. Makanya saya ngomel-ngomel terus. Kalau enggak adadagangan, saya tidaj bisa kerja,” papar Wati.

Yang lebih menjengkelkan Wati, Suka mengatakan uang sudah amblas di meja judi. “Dengar pengakuannya, omelan saya menjadi-jadi. Habis saya bekerja keras dia malah berjudi,” kata Wati seraya mengatakan, hingga keesokan pagi, rasa kecewanya belum surut.

Sekitar pukul 06.00, Wati bangun tidur. Setelah membasuh wajah, dia langsung beranjak kedapur untuk merebus air. Saat melihat suaminya juga bangun, Wati melanjutkan omelannya lagi. Tanpa diduga Wati, Sukar mengangkat kompor yang berada di depan Wati. Lalu, melemparkan ke arah Wati yang tengah memegang korek api menyala.

Kompor yang dilempar segera menyambar korek api. Tanpa ampun, api segera menjilati tubuh Wati. Raung kesakitan Wati langsung terdengar. Dengan gelagapan Wati berupaya mencari pertolongan. Wati tak sanggup keluar rumah karena semua pintu sudah dikunci Sukar.

Akhirnya jeritan Wati terdengar para tetangga dan ibu Wati yang rumahnya tak jauh dari tempat kejadian. Warga mendobrak pintu dan mendapati tubuh Wati dijilati api. Warga termasuk Sukar, berupaya memadamkan api. Begitu api sudah padam, Wati segera dilarikan ke RSUD Soesolo, Slawi. Tiba di ruang ICU, Sukar pamit untuk mengambil pakaian bersih. Namun, sejak saat itu Sukar kabur entah kemana.

Enggan Untuk Kembali
Kini, hanya tinggal penyesalan di hati Wati. Ia juga menyesal bersedia dinikahi Sukar secara siri. Sembilan bulan lalu saat Sukar mendekatinya, sebenarnya Wati belum cerai dari suaminya. Perkenalan terjadi saat Wati membuka warung di depan rumahnya. “Dia suka beli makanan di warung saya,” ujar Wati yang baru dua bulan belakangan berjualan ikan.

Setelah itu, Sukar mencoba terus mengejar Wati. “Meski sudah saya katakana kalau saya punya suami, dia tetap saja mendekati saya. Akhirnya, suami saya mengalah sampai saya cerai,” cerita Wati.

Setelah menikah, Wati mengaku sempat menyesal setelah tahu Sukar berdusta. Semula ngaku jejaka, ternyata sudah punya istri. Kendati demikian, Wati tak mempersoalkan. Apalagi, Sukar masih memberinya nafkah. “Dia suka memberi uang. Namun, lama kelamaan, enggak pernah ngasih lagi.

Belakangan Wati tahu, suaminya gemar berjudi. Pernah Wati menegur. Namun, yang terjadi justru rebut-ribut. “Ketika saya larang berjudi, dia bukannya nurut, tapi malah menghajar saya. Kalau bertengkar, Sukar memang suka memukul. Biasanya pertengkaran itu selalu dipicu karena dia doyan berjudi,” aku Wati.

Wati mengku, nasibnya begitu malang karena punya suami doyan judi. Ia pertama kali menikah 17 tahun lalu. Ia minta cerai karena suami tak bisa menghentikan kebiasaan berjudi. Ketika menikah untuk ketiga kalinya dengan Sukar, saya harap dia bukan penjudi. Ternyata sama saja.”

Sebenarnya, Wati juga sudah tak tahan hidup bersama Sukar. Namun, ia mencoba bertahan karena ada bayi dalam kandungannya. “Selama berumah tangga saya cuma makan hati. Sudah suka judi, Sukar masih kembali kepada istrinya. Eh, saya sudah mengalah, dia malah membuat saya seperti ini,” ujar Wati.

Cinta di hati Wati sudah luluh. Kelak bila sembuh, ia tak bersedia kembali pada Sukar. “Biarlah saya sendiri saja. Yang penting hati ini tenang,” ujar ibu tiga anak ini, berharap segera pulang kerumah.

Karma Buat Ibu
Saat bertemu dengan Sadik (17), anak sulung Wati. Sadik baru saj tiba dari Jakarta. Ia bekerja sebagai sopir sebuah perusahaan minuman teh botol. “Saya dikabari kerabat di Jakarta, namun saya tidak mempercayai cerita itu,” kata Sadik.

Setahu Sadik, ibunya belum menikah lagi. Apalagi, keluarga besarnya tidak ada yang menyetujui hubungan Wati dengan Sukar. “Lebaran lalu saya pulang kampong. Saya ingin sungkem sekaligus menanyakan hubungan Ibu dengan pria itu. Eh, Ibu malah tidak ada di rumah.”

Sadik dan kerabatnya mengaku bingung dengan sikap ibunya. “Paman dan Nenek selalu menyuruh agar Ibu menikah secara resmi supaya tak ada gunjingan tetangga. Tapi, Ibu tak mau urusan pribadinya diusik. Sekarang, malah jadi seperti ini. Mungkin ini karma buat perbuatan Ibu,” ujar bapak satu anak yang menikah usia muda ini. No/an
 
 
Pengalaman Sejati Lainnya :
Derita dan Harapan Remaja asal Bandung
Tumor di Rongga Otak yang Nyaris Membuatku Buta, Sembuh Tanpa Operasi
Divonis Tumor Otak Asnaneti Terbang ke Penang
Kisah Perjuangan Gadis Tuna Netra Jadi PNS “Saya Hanya Ingin Diberi Kesempatan”
Pasien Kutil di Ruang Bougenville
 
Lihat Arsip Pengalaman Sejati
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
 
Comparative Sudy & Umroh Plus - Health Financing And Hospital Finance
Workshop Metode Baru : Perencanaan SDM Rumah Sakit - Gelombang 3
Pelatihan Perawatan Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Di Rumah Sakit
Seminar Nasional X PERSI - Seminar Tahunan IV Patient Safety - Hospital Expo XXIII Tahun 2010
Workshop Di Alam Asri - Keselamatan Pasien Dan Manajemen Risiko Klinis - PERSI - KKPRS - KARS & IMRK
 
 
Kandungan
(dr. Ferry A. Firdaus Mansoer, MM, SpOG.)
Anak
(dr. Rudi Hartono, SpA)
Andrologi
Prof. DR. dr. H. Nukman Moeloek. SpAnd
 
 
  Login
  Berita PERSI
  Teknologi Informasi & Keselamatan Pasien
 
  Berita RS
  RS Lansia Akan Berdiri di Sleman
 
  Manajemen RS
  Waspadai Penggunaan Sarana & Prasarana RS Sebelum Bermasalah Dan Membahayakan
 
  Artikel Gizi Klinis
  KANDUNGAN ENERGI DAN MINERAL PISANG YANG DAHSYAT
 
  Kehumasan RS
  Pasien Harus Tahu Hak-haknya
 
  Artikel IT
  Apa itu Cookies ?
 
 
 
 
 
 
Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi tulisan ini dalam bentuk media apapun tanpa izin tertulis dari pdpersi.co.id


Copyright © 2003  PDPERSI.CO.ID

PUSAT DATA & INFORMASI - PERHIMPUNAN RUMAH SAKIT SELURUH INDONESIA
Alamat: Komplek Sentra Bisnis Artha Gading
Jl. Boulevard Artha Gading Blok A-7A No. 28
Kelapa Gading Jakarta Utara
Telp. 021-45845223, 45845291, 45845303, 45845304   Fax. 021-45845291


BEST VIEWS 1024 x 768 Pix RESOLUTION