Pasien Kutil di Ruang Bougenville
Senin, 7 Jan 2008 11:24:57
Pdpersi, Jakarta - Pasien Ruang Bougenville kamar 11, Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, punya cerita panjang dan berliku. Dede, nama si pasien, pernah jadi buruh tani, pengemis, ikut pertunjukan orang-orang aneh, dan menjadi “bintang” di My Shocking Story, sebuah serial documenter di Discovery Channel. Laki-laki 37 tahun yang hanya lulusan sekolah dasar itu juga diceraikan istrinya.
Semua itu terjadi karena dua hal : kutil dan kemiskinan. Banyak sekali kutil di tubuh kerempeng Dede. Terutama pada kedua tangan dan kakinya, sudah terbebat salur-salur cokelat kehitaman mirip akar pohon. Bagian wajah dan tubuh juga hampir rata ditumbuhi pentul-pentul kehitaman. Dede takut bila kutil-kutil itu “memakan” habis wajahnya.
Dede adalah penduduk Kampung Bunder, Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Cihampelas, sekitar 40 kilometer ke barat Kota Bandung. Rumahnya sangat sederhana, terbuat dari tembok dan kayu, namun bersih. Pohon pete, papaya, dan kelapa tumbuh di halaman.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Dede dibantu rang tuanya. Menurut cerita beberapa orang yang hidup di sekitar Dede, sehari-hari, laki-laki berambut gondrong itu hanya duduk di amben kayu di teras rumah, merokok, makan, tidur dan buang hajat. “Kadang dia mengeluhkan bagian tubuh yang ditumbuhi kutil. Katanya, terasa panas dan berat,” cerita Caca, pemuda 26 tahun, tetangga Dede.
Kedua tangan Dede memang sudah tidak dapat berfungsi. Untuk makan, dia harus disuapi. Mandi juga dimandikan. Tidak mungkin Dede bekerja seperti umumnya orang lain. Yang paling mungkin, Dede mencari nafkah dengan cara menarik rasa iba orang. Untuk itu Dede mengemis di halaman Masjid Agung, Bandung.
Di “tempat kerja” Dede itulah Hanny Purwanto, pemilik Hanny Enterprise, perusahaan event organizer bertemu Dede. Itu terjadi beberapa tahun silam. “Saat itu, kutilnya belum sebanyak sekarang,” Kata Hanny
Kemudian Hanny punya ide membuat acara tentang orang-orang unik. Karena sudah tidak ditemukan di halaman masjid, Hanny dan timnya mendatangi rumah Dede di kampung Bunder. “Mau nggak ikut saya? Nanti saya kasih uang,” demikian tawaran Hanny kepada Dede, sekitar akhir 2006. Menurut Hanny, Dede menyatakan bersedia. “Daripada ndak pernah pergi ke mana-mana,” kata Hanny menirukan jawaban Dede.
Pada awal 2007, Dede dan beberap orang unik lainnya, seperti manusia bersisik dan manusia raksasa, mengadakan pertunjukan dengan menyewa sebuah tempat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Dedelah yang dijadikan maskot. Pamflet promosi disebarkan ke mana-mana. Tiket masuk Rp. 10 ribu, sedang bila ingin di potret bersama Dede tarifnya Rp. 50 ribu. Menurut Hanny, selama 10 hari pertunjukkan di TMII, penonton yang datang banyak sekali.
Sayangnya, pertunjukkan di TMII rugi. Walau begitu, Dede, menurut Hanny, tetap memperoleh Rp. 1 Juta, di tambah tips yang langsung diberikan kepada Dede oleh penonton. Sedangkan dari pertunjukkan serupa di Bandung, Dede mendapat uang Rp 1,5 juta.
Sebuah kebetulan kadang memang bisa mengubah nasib sesorang. Foto Dede terpampang di majalah Bizarre edisi Maret 2007, majalah dari Inggris yang berisi ficer dan berita aneh dari seluruh dunia. Kebetulan salah seorang produser dari Fox Television Studios, rumah produksi yang membuat serial My Shocking Story di Discovery Chanel melihatnya. Orang tersebut kemudian menelepon Kresna Asraatmadja, wartawan di Jakarta yang biasa menjadi penghubung (fixer) dengan media luar negeri, pada April 2007. Kresna di minta mengecek apakah foto di Bizarre itu benar atau rekayasa. Kresna pun sempat bertemu Dede.
Akhirnya, Dede putuskan masuk sebagai satu dari 13 seri My Shocking Story. Selain tentang “Manusia Pohon”, ada juga tentang seseorang yang wajahnya “dimakan” tumor, ibu yang super pendek, dan lain-lain. Karena serial ini memuat kasus-kasus ekstrem kedokteran, maka pihak Discovery jgua mencarikan dokter yang ahli dalam bidangnya. Nah, dokter yang menangani Dede dan ikut dalam pembuatan film documenter itu adalah Dr. Anthony Gaspari dari Universitas Maryland, Amerika Serikat. Gaspari adalah ahli penyakit-penyakit kulit yang aneh.
Gaspari yang empat hari bergaul dengan Dede telah mengambil sample darah, jaringan kulit, dan segala hal yang dibutuhkan untuk pemeriksaan medis untuk penyembuhan Dede (lihat boks: Bukan Kutil Biasa). Gaspari pun siap mengobati Dede bila dia bisa dibawa ke AS. Dia juga sudah menyerahkan hasil pemeriksaan terhadap Dede pada 12 September lalu. Hasil itu dibacakan Kresna kepada Ateng, ayah Dede. “Ketika itu Dede menolak bertemu dengan saya, mungkin karena dia mendengar sola uang yang dia terima terlalu sedikit, dan rebut-ribut di media massa bahwa Dede dimanfaatkan Discovery,” kata Kresna.
Soal “kehebohan” itu sendiri bermula setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melihat tayangan di Discovery pada 15 November lalu. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari pun diberi pesan Presiden untuk menangani kasus Dede. Lalu Menteri Siti juga mempersoalkan sample yang diambil dokter asing tanpa izin dan menganggap Dede hanya dimanfaatkan saja. Menkes khawatir specimen itu akan digunakan untuk kepentingan komersial.
Untunglah, akhirnya pihak Depertemen Kesehatan tahu bahwa Gaspari tidak punya niat lain kecuali menolong Dede. Dokter itu bahkan bersedia menandatangani pernyataan tidak akan menggunakan sample untuk kepentingan komersial. Gaspari bahkan bersedia bekerja sama dengan dokter Indonesia untuk menyembuhkan Dede.
Meskipun di pihak Depkes urusan sudah clear, masalah ini, termasuk tentang uang yang diterima Dede dari Discovery, US$ 500, sekitar Rp 4,7 juta, terlanjur ramai.
Menurut Kresna yang ikut ketika pihak Discovery mengontrak Dede melalui Hanny, nilainya lebih dari 10 kali US$ 500. “Nah, yang US$ 500 langsung diberikan ke Dede,” kata Kresna yang menolak menyebut nilai pasti kontrak Discovery dengan Hanny Enterprise.
Sedangkan menurut Hanny, nilai kontrak dengan Discovery, sekitar Rp 70 juta-an, jumlahnya mirip dengan perkiraan yang diberikan Kresna. “ini untuk ketiga kali kunjungan mereka ke Indonesia,” tuturnya. Sedangkan Hanny sendiri mengaku telah memberi uang dari jatah kontrak kepada Dede secara bertahap sejumlah Rp. 4 Juta.
Selain soal uang, Dede juga menjadi selebriti mendadak. Menurut cerita Ateng, setiap hari rumahnya di Kampung Bunder di datangi berbagai macam orang, termasuk wartawan. Beberapa petugas kesehatan di Kabupaten Bandung menengok Dede di rumahnya, giliran rombongan Camat Cihampelas mendatangi rumah di kampong Bunder.
Sehari setelahnya, petugas dari RS Hasan Sadikin menelepon Ateng dan mengatakan akan menjemput Dede. Hari itu juga Dede diboyong ke RS Hasan Sadikin. Menteri Siti juga menengok Dede, Minggu uang pecan lalu.
Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan tak ketinggalan menjenguk Dede, Kamis silam. Danny memberi uang kepada Dede,”Besarnya Rp 25 Juta dari saya pribadi,” katanya. Gubernur juga memerintahkan kepada bawahannya untuk memberi beasiswa kepada dua anak Dede, laki-laki dan perempuan: Entis, 18 tahun, dan Entang, 16 tahun, yang baru menikah. Tim khusus dokter dari berbagai disiplin dibentuk untuk menangani kasus Dede.
Dede sebenarnya pernah dirawat di RS Hasan Sadikin pada 1996 selama sekitar 1,5 tahun. Dede juga sudah diobati dan dioperasi. “Tapi 40 hari pascaoperasi, muncul lesi (jaringan abnormal berupa bintil-bintil) baru”, kata Dr. Rachmatdinata, ahli kulit dan kelamin RS Hasan Sadikin, sekaligus ketua tim dokter yang menangani Dede. Tapi, dia pulang karena merasa tidak ada harapan.
“Gara-gara orang bule ini Dede akhirnya diobati lagi,” kata Hanny. Mungkin Dede, pasien Ruang Bougenville nomor 11 itu, kali ini merasa punya harapan lebih baik.
BUKAN AKAR BIASA
Dede, si “Manusia Pohon” atau “Manusia Akar”, rupanya menjadi pertaruhan para dokter Indonesia. Maklumlah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri yang telah meminta agar laki-laki 37 tahun yang ditumbuhi kutil, terutama pada tangan dan kakinya hingga menyerupai tandung itu, diobati dengan benar. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari juga mendapat pesan serupa dari Presiden. Sebuah tim dokter multidisiplin pun dibentuk.
Semua perhatian itu dipicu tayangan tentang Dede di televise kabel Discovery Channel. Di situ, Dede diperiksa dokter ahli kulit dari Maryland University, Amerika Serikat, Dr Anthony Gaspari.
Setelah Gaspari mengambil sample jaringan dan darah Dede, disebutkan bahwa penyebab tumbuhnya kutil adalah human papilloma virus (HPV) tipe 2, yaitu virus biasa penyebab kutil. Bah, yang masih menjadi teka-teki besar adalah system kekebalan tubuh Dede. Meski Dede begitu rentan terhadap HPV tipe 2, namun kondisi kesehatan secara keseluruhan relative baik. Dede tidak pernah terjangkiti penyakit serius lainnya.
Menurut Gaspari, kutil Dede bisa dijinakkan dengan pemberian vitamin A dosis tinggi. Kutil-kutil itu kemudian juga bisa dioperasi. Dengan operasi plastik, Dede bisa mencapai kondisi optimal. Semua proses itu kurang lebih bisa dikerjakan dalam enam bulan.
Sekarang, bukan Gaspari yang menentukan, melainkan tim dokter yang dipimpin Dr.Rachmatdinata, ahli penyakit kulit dan kelamin dari RS Hasan Sadikin, Bandug, tempat Dede dirawat. Sejak pekan lalu, sample jaringan kutil dan darah sudah diambil. Pemeriksaaan DNA (Deoxyribose Nucleic Acid) yang diambil dari jaringan kutil dilakukan dokter-dokter ahli kanker dari Rumah Sakit Dharmais, Jakarta.
Menurut hasil biopsy jaringan yang diumumkan Dokter Rachmat, ternyata hasil pemeriksaan Gaspari tepat. Virus HPV yang menyerang Dede adalah yang tipe 2. Namun, karena daya tahan Dede lemah terhadap serangan tertentu (immunocompromised), maka dia rentan sekali terhadap HPV tipe 2 ini. Sedangkan orang lain bisa tidak terpengaruh sama sekali. “Kekebalan terhadap HPV memang berbeda-beda,” kata Rachmat.
Yang menjadi kabar gembira, ternyata dari hasil pindai, tanduk (Kutil) Dede terpisah dari tulang. Kondisi ini masih sama ketika Dede di rawat di RS Hasan Sadikin sekitar 10 tahun silam. Waktu itu, semua organ dalam tubuhnya dalam keadaan sehat. “Hanya saja sekarang, ditemukan sedikit gangguan pada parunya,” tutur Rachmat. “Tulangnya pun sedikit keropos dan kadar protein darah rendah,” tambahnya.
Kini, yang penting adalah memperbaiki kondisi tubuh Dede. Asupan gizinya diperbaiki agar berat badannya juga naik, sekarang sekitar 45 kilogram. Dede juga dilarang mandi, karena air bisa mengakibatkan kutil-kutil di tubuhnya mengeluarkan bau tak sedap. “Untuk operasi, menunggu dua dan tiga minggu lagi,” kata Rachmat.
Penyakit Dede ini memang sangat langka: hanya menimpa sekitar satu di antara sejuta orang, juga bukan penyakit keturunan. Semua saudaranya: Rohman, 42 tahun; Rohati (sudah meninggal); Sumati (36), dan Een (34), serta ayah dan ibunya: Ateng (72) dan Engkar (65), tak satu pun yang seperti Dede. Kedua anaknya, Entis dan Entang, juga baik-baik saja.
Menurut Rohman, kutil Dede pertama tumbuh ketiak dia masih di kelas dua sekolah dasar. Namun, pada 1990-an kondisinya makin tak terkendali. Istrinya minta cerai pada 1998 karena penyakit yang makin parah itu.
Sebelumnya, Dede sempat diduga menderita epidermodysplasia verruciformis (EV), penyakit kulit ekstrem yang juga ditandai dengan kemunculan kutil-kutil, tapi berwarna merah kecoklatan. Penyebabnya juga HPV, namun EV cenderung menjadi kanker kulit. Jenis penyakit ini yang paling banyak dilaporkan hingga saat ini ada di Eropa Timur, Polandia, dan Amerika. Semuanya 195 kasus.
Ini berarti kabar baik bagi Dede. Saluran-saluran mirip akar pada tangan dan tubuhnya kemungkinan besar tidak ganas. Tantangan terbesar adalah menemukan misteri pada system imunitas Dede.
Nara Sumber : Majalah TEMPO edisi 3-9 Desember 2007