Air Payau Akibat Intrusi Air Laut
Rabu, 18 Oct 2000 10:21:48
Pdpersi, Jakarta - Perembesan air laut ke daratan, tidak dapat dipungkiri, selama ini masih dianggap sebelah mata oleh masyarakat maupun pemerintah. Padahal, walaupun dampaknya tidak dirasakan secara langsung seperti pencemaran udara dan suara, untuk jangka panjang, rembesan air laut ke daratan akan menimbulkan kerugian yang sangat besar, baik dari segi lingkungan, kesehatan, bahkan ekonomi.

Menurut Drs Hadikusumah dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Oceanografi dan Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Oceanologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), saat di temui
pdpersi.co.id di kantornya, Rabu (11/10), kendati belum ada penelitian LIPI mengenai sejauhmana rembesan air laut ke daratan, namun diperkirakan rembesan air laut di sepanjang pesisir Jakarta Utara sudah mencapai ke wilayah Senen Jakarta Pusat dan sebagian wilayah Jakarta Barat.
Padahal, perembesan air laut ke daratan yang dikenal dengan istilah Intrusi ini, tak boleh disepelekan. Adanya pori-pori tanah yang berlubang, menyebabkan air laut masuk ke daratan. Hal itu terjadi karena air tanah yang dipompa keluar terlalu besar dan ruang kosong atau pori-pori ini diisi oleh air laut. Dampaknya, air di daratan yang selama ini tawar, menjadi payau.
Walaupun dampak intrusi akan muncul secara berkala dan untuk jangka waktu yang lama, jika didiamkan saja, tanpa ada upaya mencegahnya, tentu saja akan menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi masyarakat. Bisa dibayangkan, betapa besar kerugian secara ekonomis yang diderita karena rembesan dan pengikisan air laut. Tanah-tanah di tepi pantai akan berkurang dan kalau dinominalkan, akan besar sekali.
“Meskipun sampai saat ini belum ada data mengenai kerugian tersebut, tapi bisa dibayangkan betapa besar dana yang keluar kalau tanah yang hilang mencapai ratusan kilo meter akibat pengikisan dan perembesan,” ujar Hadi. Apalagi, bila dilihat dari segi kesehatan dan lingkungan. Belum lagi berbagai penyakit yang mungkin mendera masyarakat yang mengkonsumsi air payau tersebut.
Perlu Perhatian
Tak pelak lagi, menurut Hadi, harus ada perhatian yang serius dari masyarakat, pengusaha dan dari pemerintah sendiri, untuk mengatasi intrusi air laut ini. Masyarakat harus mengerti arti kesehatan. Artinya, timbul kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah tidak membuang sampah ke sungai-sungai. Dengan menumpuknya sampah di sungai-sungai, maka akan menimbulkan endapan-endapan lumpur. Dan lumpur-lumpur tersebut akan terbawa ke laut tanpa bisa masuk ke dalam tanah.
Untuk pengusaha sendiripun, kata Hadi, adanya kesadaran lingkungan, terutama untuk hotel-hotel yang mengkonsumsi air yang cukup banyak. Banyak pengusaha hotel menggunakan sumur artesis untuk memenuhi kebutuhan airnya di hotel-hotel, padahal penggunaan sumur tersebut dapat membuat tanah didalamnya menjadi bolong. Ini, tentu mengakibatkan perembesan air laut.
Dan yang paling vital adalah pemerintah daerah. Menurut Hadi, sudah selayaknya Pemda DKI membuat peraturan yang ketat tentang penggunaan air tanah tersebut. Kalau perlu pengusaha-pengusaha hotel dikenakan biaya kontribusi yang sangat besar karena dampak yang ditimbulkannya juga sangat besar.
Selain itu, tambah Hadi, pemerintah perlu membuat atau mengawasi daerah resapan-resapan air. Karena kalau daerah resapan air tersebut sampai terganggu maka cadangan air akan berkurang dan kelestarian alam pun dapat terganggu. Selain itu, dia juga menyarankan agar masalah pengelolaan sampah diserahkan pada swasta, karena selama ini pengelolaan sampah masih kurang baik.
Dampak Pada Kesehatan
Lalu, bagaimana dampak air payau terhadap kesehatan masyarakat yang menggunakannya? Menurut Dosen Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengatahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Dra Erlin Nurtiyani Msi, kepada
pdpersi.co.id via telepon, Rabu (11/10), menggunakan air payau untuk dikonsumsi maupun kegiatan lain seperti mandi, dapat mengganggu kesehatan. Karena air payau mengandung NaCl (Natrium Chloride) yang tinggi dan dapat mengganggu metabolisme yang terjadi di dalam tubuh manusia.
“Penggunaan air payau untuk dikonsumsi dapat menyebabkan seseorang terkena penyakit perut seperti diare. Sedangkan bila digunakan untuk mandi, dapat memicu munculnya penyakit kulit, seperti gatal-gatal. Untuk jangka panjang, bukan tidak mungkin orang yang mengkonsumsi air payau tersebut akan mengalami gangguan penyakit serius karena metabolismenya terganggu dan sensivitas tubuhnya untuk menerima air payau yang mengandung garam tersebut,” papar Erlin.
Nah, masalahnya, kata Erlin, saat ini banyak masyarakat yang masih terbelit oleh himpitan ekonomi. Bagaimana mereka mau memikirkan kesehatan atau lingkungan kalau kebutuhan sehari-harinya belum tercukupi. Mereka lebih mementingkan kebutuhan sehari-hari dibandingkan harus membeli air tawar untuk minum maupun mandi. Mereka dapat minum air apa saja dan mandi tidak teratur asalkan untuk kebutuhan sehari-hari itu ada. Lama kelamaan mereka sudah biasa dan tubuh mereka pun kebal dengan kuman-kuman yang ada didalamnya.
Untuk mengatasi masalah tersebut, kembali lagi pada peran pemerintah maupun Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Bagaimanakah membantu masyarakat --terutama kalangan tidak mampu-- keluar dari kesulitan. Caranya, menurut Erlin, dengan membuat sumur-sumur atau pompa-pompa baru secara gratis dan memberikan penyuluhan-penyuluhan pada mereka mengenai dampak dari penggunaan air payau tersebut. “Kalau pemerintah dan LSM berperan serta secara aktif maka kesulitan-kesulitan tersebut dapat diminimalkan,” tegas Erlin.
LYH / Rubianto