Bantar Gebang, Siap Menuai Tulah
Jumat, 03 Nov 2000 18:10:29
Pdpersi, Jakarta - Masih ingatkah Anda kasus Bantar Gebang? Ketika itu Pemda DKI Jakarta dituding oleh DPRD Bekasi sebagai pembawa malapetaka di beberapa kelurahan yang berdekatan dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Bantar Gebang. Bukan apa-apa, tatkala musim kemarau datang, daerah sekeliling TPA diliputi kabut. Kabut ini bukan hanya datang malam hari, melainkan juga siang hari. Kabut ini berbau
apek dan menyengat. Alhasil, para warga terpaksa memakai masker. Ketika itu pulalah, keluhan gangguan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) di Puskesmas setempat meningkat.
Bagaimana dengan musim penghujan? Setali tiga uang. Jalanan menjadi becek, bau busuk menyebar, air sumur tercemar sehingga tercium bak “kotoran kucing”, belum lagi ditingkahi pesta pora lalat, nyamuk dan tikus. Kondisi inilah yang “rela tak rela” dinikmati masyarakat sekitar Bantar Gebang, serta sekelompok masyarakat pengais sampah di dalam areal TPA.
TPA Bantar Gebang memang pantas menjadi “horror”, apalagi jika dikaitkan dengan masalah kesehatan lingkungan. Sampah dalam jumlah sedikit saja potensial menjadi sumber penyakit, apalagi jika bergunung-gunung seperti di Bantar Gebang.
Kepala Penelitian dan Pengembangan Akademi Kesehatan Lingkungan Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (Kalitbang AKL Depkes & Kessos), Soejono S SKM Dipl Est yang ditemui
pdpersi.co.id, Jum’at (20/10), mengatakan sampah dibagi menjadi dua macam yakni sampah padat dan sampah basah. “Contoh sampah padat ini adalah plastik, kertas, dan kardus-kardus. Sedangkan sampah basah contohnya adalah sayur-mayur serta sampah rumah tangga lainnya,” ujarnya.
Menurut Soejono, kuantitas sampah basah di Bantar Gebang lebih besar daripada sampah padat. Selain itu sampah basah lebih cepat menimbulkan penyakit, karena dengan kondisi yang basah, pembusukan akan lebih cepat terjadi. Genangan-genangan air pada sampah basah pun diyakini akan menarik lalat, nyamuk, dan tikus. “Binatang-binatang inilah yang nantinya menyebarkan penyakit,” tukas Soejono.
Maut mengintip Dibalik Gunung Sampah
“Kerugian yang ditimbulkan akibat sampah sangat besar. Misalnya kerugian ekonomi, lingkungan, estetika, dan yang terpenting kerugian di bidang kesehatan,” tutur Soejono. Ia mengatakan, betapa besar dana yang dikeluarkan Pemda DKI untuk mengatasi masalah sampah, mulai dari sarana transportasi, gaji karyawan, sampai membayar sewa pembuangan akhir di Bantar Gebang.
Itupun sebenarnya belum memadai. Karena dari 20 ribu meter kubik sampah yang dihasilkan Jakarta tiap harinya, hanya 16 ribu meter kubik yang mampu dibawa ke TPA Bantar Gebang. Sisanya tercecer di belahan ibukota, dan menimbulkan masalah lain. Sementara yang dibawa ke Bantar Gebang, menjadi malapetaka bagi penduduk sekitar sana.

Dari segi lingkungan, ungkap Soejono, Bantar Gebang sudah sarat pencemaran. Baik itu pencemaran udara, tanah, dan air. Pencemaran lingkungan inilah yang sebenarnya berkaitan erat dengan masalah kesehatan. Ia mencontohkan, pencemaran udara berimbas pada penyakit pernafasan. Pencemaran tanah dan air, berakibat limbah merembes pada sumur-sumur warga yang akibatnya, menimbulkan bau tak sedap serta mengakibatkan diare.
Simak saja ucapan Sani, ibu dua anak yang mulai mengais sampah sejak tahun 1984 dan tinggal dalam areal TPA Bantar Gebang. “Air di rumah
sih biasa saja. Mungkin karena saya sudah biasa memakainya. Cuma ya agak bau, seperti bau tahi kucing
gitu. Pokoknya kalau musim hujan, disini bau. Kalau musim kemarau, kebakaran,
nyesek,” ungkapnya polos.
Apa yang diungkapkan Sani sebenarnya menyiratkan bahaya lain. Sebab bahaya malaria, diare, masalah pencernaan, demam berdarah, penyakit kulit menular, setiap saat bisa mengancam diri, keluarga, serta tetangganya. Belum lagi masalah penyakit pernafasan seperti TBC, Bronchitis, dan sebagainya. Pilihan Sani dan rekan-rekan pemulungnya di Bantar Gebang, adalah juga taruhan atas nyawa mereka. Bak “makan buah Simalakama”, tinggal di Bantar Gebang berarti membiarkan diri dihujani penyakit. Keluar dari Bantar Gebang, tiada pekerjaan untuk menyambung hidup.
Pemulung, Komunitas Sampah Bantar Gebang
Gurun sampah, adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan TPA Bantar Gebang. Sejauh mata memandang, aneka warna-warni terutama warna hitam dari sisa kaleng, kertas, plastik, mendominasi pemandangan. Asap mengepul disertai bau menyengat, yang membuat perut terasa diaduk-aduk. Begitulah pengamatan langsung
pdpersi.co.id di TPA Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (19/10).
Sementara itu, para pemulung tak ubahnya para musafir di hamparan sampah. Pakaian kotor, tua, terkadang bertambal, dengan penutup kepala seadanya, kumuh, adalah kesan yang tertangkap dari komunitas sampah Bantar Gebang.
Suasana agak riuh terjadi manakala truk pengangkut sampah datang. Para pemulung dengan berjuta harapan mengejarnya. Mengerahkan daya upayanya untuk berlomba, berebut, mengais, tumpukan sampah satu persatu. Uniknya, pemandangan ini terlihat sebatas pada ibu-ibu tua atau anak-anak saja. Tak terlihat remaja lelaki, atau kaum lelaki.
Ternyata kaum pria sudah mangkal di bandar-bandar sampah. Artinya, sebelum truk sampah tiba di Bantar Gebang, truk tersebut telah singgah di bandar sampah. Merekalah yang “menguliti” serta “menyortir”nya terlebih dahulu. Sisanya, dibuang ke Bantar Gebang dan menjadi rebutan kaum wanita serta anak-anaknya. Tentu dengan penghasilan dan imbalan yang berbeda……
Seperti kata Sani, ”Dari sampah, sebulan saya dapat duit 70 ribu. Duit itu habis untuk biaya anak-anak sekolah sama makan sehari-hari,” ungkapnya. Untunglah, sang suami yang juga pemulung bekerja pada bandar, sehingga kecukupan makan bisa terpenuhi. Namun kemiskinan dan kurangnya pengetahuan, membuat komunitas ini tidak sempat memperhatikan kesehatan.
Jangan bilang makanan bersih, rumah layak, atau pakaian lumayan, semua bagai andai-andai yang sulit jadi kenyataan. Apalagi pengobatan memadai, seolah kebutuhan lux yang tak terbeli. Simak penuturan Sani, ”kadang sehabis bekerja saya suka pusing, mual, kembung dan maag. Kalau punya duit, saya ke Puskesmas Bantar Gebang. Kalau
nggak punya duit ya … beli obat di sini saja,” ujarnya lirih.
Suka kambuh? tanya
pdpersi.co.id. “Kadang-kadang sembuh, tapi juga kadang-kadang kambuh lagi. Tapi ya, gimana lagi, kalau tidak kerja tidak dapat duit. Kalau cuma pusing sedikit, ya kerja saja,” tuturnya pasrah.
Patut Mendapat Perhatian Serius
Kondisi kesehatan masyarakat di sekitar dan di dalam areal TPA Bantar Gebang memang patut mendapat perhatian serius. Namun sebelum berangkat ke masalah kesehatan, tengok dahulu kondisi saudara-saudara kita disana. Tiada sanitasi, air yang buruk, tempat tinggal beratapkan seng atau kardus, dengan alas tidur tikar bahkan tanah, adalah kondisi umum yang ditemui komunitas sampah Bantar Gebang.
“Buah Simalakama” yang mesti mereka telan, sebenarnya dapat diminimalisasi jika saja ada pihak yang bersungguh-sungguh ingin mengubah nasib mereka. Bukan semata-mata, manis di bibir, sekedar slogan, agar diliput media dan tampil bak pahlawan.
Bantar Gebang siap menuai tulah, bila kondisi ini dibiarkan berlarut. Pencemaran lingkungan, masalah kesehatan, adalah hantu yang diam-diam menggerogoti tubuh para warga dan pemulung. Tiada yang dapat memastikan paru-paru mereka bersih, sementara asap berbau busuk mengepul. Tiada yang dapat memastikan perut mereka sehat, sementara lalat dan tikus menjadi raja di gurun sampah.
Pertanyaannya, apakah ini kesalahan orang Jakarta? Lalu bagaimana kontribusi Jakarta pada mereka, yang sengaja atau tanpa sengaja telah dikirimi bala………
LYH / Gilang dan Rubianto