Kamis, 9 Sep 2010  
 
 
 
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 

 
 
 
   
 
   
   
 
.:: Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1431 H, Pusat Data PERSI dan Sekretariat PERSI Pusat libur mulai Hari Rabu tanggal 8 September 2010 sampai dengan Rabu tanggal 15 September 2010, masuk pada Hari Kamis tanggal 16 September 2010, Segenap Pengurus Pusat Data PERSI dan PERSI Pusat mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H, Minal Aidzin wal Faidzin - Mohon Maaf Lahir dan Batin ::.
 
Komoditas Asap, Ekspor Memalukan
Jumat, 05 Jan 2001 13:23:26

Pdpersi, Jakarta - Meningkatnya ekspor memang menjadi harapan pemerintah kita. Menimbang, negeri ini memang sedang jatuh terpuruk. Namun ada pula ekspor dari nusantara tercinta yang dibenci, khususnya oleh negeri-negeri tetangga. Bahkan ekspor ini makin membuat nama Indonesia terseok. Kita pun seolah enggan menepuk dada atas komoditas yang satu itu. Asap! Ya ekspor asap, imbas dari kebakaran hutan.

“Memalukan” mungkin itu kata yang tepat untuk menilai kondisi kebakaran hutan di Indonesia. Sebab, hal ini seolah menjadi “borok” dari tahun ke tahun yang tak kunjung sembuh. Masalahnya, mengatasi kebakaran hutan memang tidak semudah membalik telapak tangan. Data menunjukkan, sejak tahun 1995 para Menteri Lingkungan Hidup ASEAN sudah menyetujui adanya ASEAN Co-operation Plan in Transboundary Pollution, dan khusus untuk menyikapi kebakaran hutan telah disepakati Regional Haze Action Plan di tahun 1997.

Tapi ya itu tadi, kebakaran hutan tak kunjung teratasi. Data Asian Develepoment Bank untuk kebakaran hutan di Asia Tenggara menunjukkan, pada tahun 1987 ada 49 ribu hektar hutan yang terbakar. Lalu di tahun 1991, tercatat 119 ribu areal hutan terbakar. Jumlah ini sempat menurun di tahun 1994, tercatat “hanya” 62 ribu hektar saja yang terbakar. Namun, di tahun 1997, kebakaran hutan mencapai puncaknya, 3000 ribu hektar areal hutan musnah dengan seribu kali kejadian kebakaran!

Dari jumlah tersebut, Indonesia menjadi penyumbang kebakaran hutan terbesar. Bahkan data kebakaran hutan tahun 1994 di Asia Tenggara yang “cuma“ 62 ribu hektar, kalah jauh dengan kebakaran yang melalap 160 ribu hektar hutan Kalimantan dan Sumatera di tahun yang sama. Sementara untuk kebakaran terbesar di tahun 1997, Indonesia “menyumbang” 165 ribu hektar hutannya yang terbakar.

Tentu kita ingin mengetahui, berapa besar jumlah kerugian yang dialami negeri tercinta. World Wildlife Fund (WWF) di awal Juni 1998 menyebutkan, jumlah kerugian yang diderita Indonesia sepanjang kebakaran hutan tahun 1997 adalah 4,4 milyar dolar Amerika Serikat! Jumlah yang cukup fantastis, apalagi belum dihitung dengan kerugian gangguan kesehatan.

Asap Biomassa

Di tinjau dari sudut kesehatan, asap biomassa yang keluar akibat kebakaran hutan mengandung berbagai komponen yang berbahaya. Komponen ini terdiri dari gas maupun partikel-partikel. Komponen gas yang besar peranannya mengganggu kesehatan adalah Karbon monoksida dan Aldehid. Selain itu, tercatat akibat merugikan dari ozon, Nitrogen oksida, Karbon dioksida, dan Hidrokarbon.

Hal inilah yang diungkap secara terperinci oleh Dr Tjandra Yoga Aditama SpP DTM&H MARS DTCE dalam bukunya “Dampak Asap Kebakaran Hutan pada Paru & Pernapasan”, dan saat ditemui pdpersi.co.id beberapa waktu lalu di RSUP Persahabatan, Jakarta.

Dalam kebakaran hutan, ulasnya, berbagai jenis zat dapat terbang jauh, dan dalam transportasi ini dikonversikan menjadi gas lain seperti ozon, atau berubah menjadi partikel seperti Spesies nitrat dan Oksigen organik.

Merujuk pada penelitian Brauer dalam Health Impacts of Biomass Air Pollution, komponen polutan utama biomassa adalah jenis bahan gas Inorganik (contoh Karbon monoksida (CO), Ozon, Nitrogen dioksida (NO2)), Hidrokarbon (contoh, Benzen dan Toluen), Aldehid (contoh Akrolein dan Formaldehid), Partikel (contoh partikel “inhalable” (PM 10), partikel respirabel, partikel halus (PM 2,5)), dan Polisiklik Aromatik Hidrokarbon atau PAH (contoh Benzo(a)pyrene).

Kesemuanya itu bersumber dari pembakaran tidak lengkap bahan organik, oksidasi dalam temperatur tinggi dari nitrogen udara, produk sekunder nitrogen oksida dan hidrokarbon, kondensasi pembakaran gas, pergerakan vegetasi dan fregmentasi asap.

”DrJelas, partikulat dalam asap kebakaran hutan punya peranan penting dalam mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Partikulat berukuran kecillah yang sebenarnya paling berpotensi besar mengancam kesehatan, yaitu PM 10, PM 2,5, PM 1,0 atau Total Suspended Particulate (TSP). Mengingat kebakaran hutan ini berlangsung lama, maka dapat diperkirakan, betapa banyak komponen polutan utama biomassa yang dihirup manusia Indonesia ataupun 300 juta penduduk yang bermukim di kawasan Asia Tenggara.

Gangguan Paru dan Pernapasan

World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar 20 juta orang Indonesia terpapar asap kebakaran hutan 1997, dengan berbagai gangguan paru dan pernapasan. Sementara data dari Biro Pusat Statistik menyebutkan, kebakaran hutan menimpa 12.360.000 penduduk Indonesia, dan tercatat 1.802.340 kasus penyakit asma bronkial, bronkitis, serta infeksi saluran napas akut (ISPA).

Sementara itu, jumlah pengunjung poliklinik di Kuching - Sarawak meningkat dua hingga tiga kali. Jumlah kunjungan poli paru di Kuala Lumpur General Hospital naik dari 250 orang perhari menjadi 800 orang perhari.

Hal ini berkait dengan semakin tingginya paparan TSP dan juga paparan gas lain. Bahkan, catatan dari berbagai propinsi di Indonesia, ada yang kadar TSP nya meningkat hingga 15 kali nilai standar (propinsi Jambi), CO hingga 15 kali nilai standar (Kalimantan Selatan), SO2 dan Nox meningkat empat kali nilai standar (Kalimantan Tengah), serta PAH meningkat 40 hingga 60 kali lebih tinggi (Jambi). Sebagai perbandingan, kadar partikulat di Jambi bulan Oktober 1997 mencapai 1700 g/m3, yang merupakan 25 kali lebih tinggi kadar rata-rata tahunan di Tokyo!

Akibatnya, berdasarkan laporan kerjasama antara Ditjen Pemberantasan Penyakit menular dan Penyehatan Lingkungan (P2mPL), Bapedal, dan Japan International Cooperation Agency (JICA) diketahui, jumlah pasien rawat inap di Kalimantan Tengah yang sebulannya berkisar pada angka 200 orang meningkat tajam hingga 2000 orang.

Kuesioner pada 543 sampel di Jambi, terdiri dari murid sekolah, penghuni panti jompo, dan pegawai kantor gubernur menyebutkan, 40 persen responden mengeluh batuk, 40 persen mengeluh lemah, lebih dari 30 persen menyatakan keluhan berdahak, 30 persen mengeluh napas pendek, keluhan sakit kepala pada 40 persen responden, 50 persen mengalami bersin-bersin, iritasi mata pada 50 persen responden, hampir 20 persen responden mengeluhkan rasa tidak enak di dada, dan 10 persen lainnya mengalami bising mengi.

Dampak Sosial

Imbas dari buruknya kualitas kesehatan masyarakat adalah menurunnya aktivitas masyarakat. Pembatasan aktivitas masyarakat di delapan propinsi akibat kebakaran hutan September hingga November 1997 adalah 4.758.600 (hari/orang).

Data lain yang mendukung data di atas adalah kunjungan ke poliklinik sebanyak 36.462 orang, jumlah pasien rawat inap 15.822 orang, dan jumlah hari kerja yang hilang adalah 2.446.352 hari.

Secara luas, dampak buruk kebakaran hutan ini meliputi berbagai sektor kehidupan. Mulai dari gangguan kehidupan sehari-hari masyarakat, hambatan transportasi, kerusakan ekologis, penurunan pariwisata, dampak politik, dan ekonomi. Tapi tentu saja risiko terbesar dialami oleh investasi negara di masa depan, yaitu bayi dan balita.

Masalahnya, mengatasi soal kebakaran hutan menjadi rumit. Selain faktor kelalaian manusia, faktor alam juga amat menentukan. Sementara penanggulangan asap sangat-sangat tidak cukup jika hanya mengandalkan hujan semata. Tentunya perlu pemikiran mendalam untuk mengatasi masalah ini. Sebab, “borok” ini kelak bukan cuma sekedar cibiran dan umpatan dari negeri tetangga. Bagaimana jadinya jika negeri ini dituntut pertanggung-jawabannya?

Ataukah cukup dengan menyarankan, “pakai masker, gitu aja kok repot….” pada negeri tetangga?

Gilang
 
 
Kesehatan Lingkungan Lainnya :
Yuk Tiru, Program Rumah Bebas Asap Rokok di Yogyakarta!
Shisha Tak Lebih Baik dari Rokok
Penyakit Dari Air Tanah
Hargai Sampah untuk Kurangi Dampak Negatif Perubahan Iklim
Stop!...Pencemaran
 
Lihat Arsip Kesehatan Lingkungan
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
 
Comparative Sudy & Umroh Plus - Health Financing And Hospital Finance
Workshop Metode Baru : Perencanaan SDM Rumah Sakit - Gelombang 3
Pelatihan Perawatan Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Di Rumah Sakit
Seminar Nasional X PERSI - Seminar Tahunan IV Patient Safety - Hospital Expo XXIII Tahun 2010
Workshop Di Alam Asri - Keselamatan Pasien Dan Manajemen Risiko Klinis - PERSI - KKPRS - KARS & IMRK
 
 
Kandungan
(dr. Ferry A. Firdaus Mansoer, MM, SpOG.)
Anak
(dr. Rudi Hartono, SpA)
Andrologi
Prof. DR. dr. H. Nukman Moeloek. SpAnd
 
 
  Login
  Berita PERSI
  Teknologi Informasi & Keselamatan Pasien
 
  Berita RS
  RS Lansia Akan Berdiri di Sleman
 
  Manajemen RS
  Waspadai Penggunaan Sarana & Prasarana RS Sebelum Bermasalah Dan Membahayakan
 
  Artikel Gizi Klinis
  KANDUNGAN ENERGI DAN MINERAL PISANG YANG DAHSYAT
 
  Kehumasan RS
  Pasien Harus Tahu Hak-haknya
 
  Artikel IT
  Apa itu Cookies ?
 
 
 
 
 
 
Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi tulisan ini dalam bentuk media apapun tanpa izin tertulis dari pdpersi.co.id


Copyright © 2003  PDPERSI.CO.ID

PUSAT DATA & INFORMASI - PERHIMPUNAN RUMAH SAKIT SELURUH INDONESIA
Alamat: Komplek Sentra Bisnis Artha Gading
Jl. Boulevard Artha Gading Blok A-7A No. 28
Kelapa Gading Jakarta Utara
Telp. 021-45845223, 45845291, 45845303, 45845304   Fax. 021-45845291


BEST VIEWS 1024 x 768 Pix RESOLUTION