Dua dari 10 Pelajar Indonesia Mulai Merokok
Sabtu, 12 Jan 2008 11:39:13
Pdpersi, Jakarta - Remaja Indonesia telah terekploitasi oleh industri rokok. Data yang dilansir Global Youth Tobacco Survey (GYTS) menyebutkan, 34% remaja usia SMP pernah merokok.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, dua dari sepuluh pelajar di Indonesia mencoba merokok sejak mereka berusia di bawah 10 tahun. Padahal, berbagai survei membuktikan tingkat kematian (mortalitas) akibat rokok dari tahun ke tahun terus meningkat.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahunnya 5 juta orang di dunia meninggal karena rokok dan pada 2030 diperkirakan mencapai 10 juta orang per tahun. Selain itu, rokok sangat dekat dengan narkoba yang akan mengancurkan masa depan generasi penerus bangsa.
Sayangnya, pemerintah RI masih setengah hati dalam mengatasi bahaya rokok. Iklan-iklan rokok masih dibiarkan bebas terpampang di sejumlah jalan protokol, media cetak, dan televisi. Industri rokok juga gencar menyeponsori pergelaran musik dan event olah raga yang digemari anak muda.
Lebih memprihatinkan lagi, pemerintah RI belum meratifikasi kerangka kerja konvensi pengendalian tembakau (Framework Convention on Tobacco Control/FCTC) yang bertujuan menurunkan konsumsi tembakau, padahal seluruh negara Asean (kecuali Indonesia) telah menandatangani FCTC.
Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Departemen Kesehatan (Depkes) dr Tjandra Yoga menjelaskan, prevalensi perokok usia SMP di Jakarta mencapai 34%, Bekasi 33%, dan Medan 34,9%.
Jumlah ini lebih tinggi dari perokok usia remaja di Bhutan (negeri sebelah barat India) sekitar 20%, dan Bangladesh di bawah 10%. Sementara itu, prevalensi perokok pasif usia remaja di Jakarta sekitar 66,8% karena tinggal serumah dengan orang yang merokok dan 81,6% remaja tercemar asap rokok di luar rumah.
Pasar rokok untuk kaum remaja disebut-sebut menjadi faktor penting keberlangsungan industri rokok nasional. Jika para remaja tidak merokok, industri akan bangkrut karena ketiadaan generasi penerus perokok aktif. “Industri rokok sangat memanfaatkan berbagai aktivitas remaja untuk promosi produknya,” ujarnya. (izn) |
|