Sosialisasi Bahaya Kanker Serviks Perlu Digencarkan
Kamis, 13 Mar 2008 22:52:59
Pdpersi, Jakarta - Kaum perempuan harus kian tersadarkan untuk mengenali dan mencegah kanker serviks atau mulut rahim sejak dini. Kanker tersebut kini menjadi pembunuh nomor satu bagi perempuan di Indonesia. Ada perkembangan menggembirakan, di Indonesia kini muncul ?gerakan? melawan kanker serviks.
?Sebagai perempuan dewasa sekaligus seorang ibu dari remaja putri, tentunya ingin melindungi diri dan putri saya dari risiko kanker serviks. Saya percaya dengan seringnya mensosialisasi mengenai kanker serviks, maka perempuan Indonesia akan sadar pentingnya perlindungan sejak dini terhadap kanker serviks,? ujar Yuanita pada peluncuran vaksin kanker serviks yang mengandung ajuvan ASO4 oleh GlaxoSmithKline di Jakarta, Kamis (14/2).
Yuanita Rohali, direktur keuangan PT Bakrie&Brothers Tbk, bersama Alika putrinya menyambut positif saat didaulat menjadi Duta Kanker Serviks untuk kampanye Help X Out Cervical Cancer, sebuah kampanye yang diluncurkan GlaxoSmithKline.
Berdasarkan data IARC Cancer Base yang berpusat di Lyon, Prancis, dalam setahun ada sekitar 500.000 perempuan di dunia yang didiagnosa mengidap kanker serviks atau kanker mulut rahim, dengan tingkat kematian rata-rata mencapai 270.000 orang per tahun.
Menurut data Direktorat Pelayanan Medik Departemen Kesehatan, kanker serviks menjadi pembunuh perempuan nomor satu di Indonesia. Bahkan, bagi mereka yang dapat bertahan hidup, penyakit ini tetap meninggalkan kesedihan dan kepedihan mendalam pada kehidupan mereka.
Kanker serviks disebabkan oleh virus bernama human papiloma virus (HPV). Terdapat lebih dari 100 jenis HPV, namun hanya beberapa di antaranya menjadi penyebab kanker. ?HPV setiap saat dapat menyerang semua perempuan, tanpa melihat umur atau gaya hidupnya,? ujar Dr.dr Andrijono SpOG(K), konsultan spesialis ginekologi-onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
Risiko terkena kanker serviks meningkat dengan bertambahnya usia dan menyentuh kehidupan perempuan pada saat-saat terpenting dalam hidupnya. Menurut Dr Andrijono, biasanya kanker serviks mulai menyerang perempuan usia 30-50 tahun, atau saat mereka masih aktif bekerja dan menjadi bagian inti keluarga.
Dr Andrijono menjelaskan, berdasarkan survei yang melibatkan 5.423 perempuan Asia, termasuk dari Indonesia, hanya 2% perempuan yang mengetahui bahwa infeksi HPV merupakan penyebab kanker serviks.
?Sebanyak 99,7% kanker serviks disebabkan oleh HPV onkogenik. HPV 18 dan 16 merupakan penyebab utama pada 70% kasus kanker serviks di dunia,? ungkapnya.
Kanker serviks menyerang kaum perempuan dengan latar belakang dan umur yang berbeda di seluruh dunia. Dimulai dengan kanker serviks bagian uterus atau rahim, kemudian mencapai vagina dan secara bertahap akan menyebar luas jika tidak diobati.
Secara umum tidak terlihat adanya gejala pada stadium awal dari kanker serviks. Oleh karenanya, pap smear adalah langkah terpenting untuk mendeteksi stadium awal kanker serviks dengan cara mengidentifikasi perubahan sel pada leher rahim.
Risiko berkembangnya kanker serviks pada perempuan yang tidak melakukan skrining secara teratur adalah lima kali lebih tinggi bila dibandingkan dengan perempuan yang melakukan skrining secara teratur. Skrining sangat penting dilakukan karena dapat membantu mendeteksi perkembangan kanker serviks, tetapi tidak dapat mencegah terjadinya infeksi HPV. (izn) |
|