Depleted Uranium, Hantui Bekas Wilayah Konflik
Kamis, 15 Feb 2001 12:55:08
Pdpersi, Jakarta - Perang identik dengan kesengsaraan. Bahkan akhir sebuah perang, adalah awal penderitaan baru. Simak saja nasib mereka di kawasan teluk atau Balkan. Selain mencarut-marutkan kehidupan mereka, perang, kini menebar sosoknya yang lain, hantu radiasi!
Yang paling santer terdengar akhir-akhir ini adalah akibat penggunaan
depleted uranium (DU-
red) di kawasan Balkan dan Teluk. Menurut
Dr Michael H Repacholi dari Organisasi Kesehatan Dunia, DU atau
uranium sisa adalah hasil sampingan proses pengayaan uranium pada
industri nuklir, dimana hampir semua isotop radioaktif U-234 dan
sekitar dua pertiga U-235 sudah diambil.
Karena itu, lanjut Repacholi, DU tersusun oleh hampir semuanya uranium
U-238 dengan daya radioaktivitasnya sekitar 40 persen uranium alam. Di
dunia militer, DU banyak digunakan untuk lapis baja tank berat, senjata
penghancur berbentuk amunisi antitank, peluru kendali, dan proyektil.
Pilihan DU ini digunakan karena kerapatannya yang tinggi (membuatnya
ekstra keras-
red) dan banyaknya persediaan.
Persenjataan inilah yang kemudian menebar maut di kawasan Balkan dan
teluk. Para ahli Yugoslavia menemukan, tingkat radioaktivitas pada lima wilayah yang digempur peluru berujung DU mencapai 1.100 kali dari tingkat normal. Peluru-peluru ini ditembakan pesawat NATO (baca: Amerika Serikat-
red) selama konflik Kosovo 1999.
Menurut catatan Pentagon, pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat
(Thunderbolt) telah menembakkan 31 ribu peluru berujung DU di Kosovo.
Ditaksir, peluru sebanyak itu mengandung 12 ton metal uranium beracun dan
berkadar radioaktif ringan. Jumlah ini belum ditambah dengan penembakan
peluru DU pada konflik yang sama tahun 1994 hingga 1995. Konon, 10.800
peluru DU ditembakkan saat itu.
Tapi jumlah ini masih sangat sedikit dibanding dengan apa yang
ditanggung rakyat Irak. Sebanyak 300 ribu ton metal uranium beracun
disebarkan sekutu barat dalam perang teluk 1991!
Sebenarnya, masalah radiasi ini tak akan mengemuka bila hanya ditanggung
rakyat Kosovo atau rakyat Irak saja. Masalah ini mencuat manakala 20
tentara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO-
red) yang bertugas
di Balkan tewas akibat kanker. Padahal jauh sebelumnya negara Irak telah
mengklaim bahwa ribuan penduduknya mati akibat kanker, dan bayi-bayi
yang dilahirkan pasca perang teluk mengalami kecacatan. Toh jeritan
rakyat Irak tak kunjung membuka mata NATO.
Kasus ini juga makin hingar bingar manakala NATO menerima laporan bahwa
banyak tentara mereka terserang leukimia. Pun tatkala Sekretaris
Jenderal NATO George Robertson menerima kunjungan Menteri Luar Negeri
Yugoslavia Goran Svilanovic yang membicarakan risiko kesehatan atas
penggunaan amunisi radioaktif.
Svilanovic pantas cemas, mengingat warga Kosovo yang wilayahnya terkena
DU harus hidup seumur-umur dengan akibat yang mungkin muncul dari
senjata tersebut. Padahal pasukan penjaga NATO (termasuk yang terkena
kanker-
red), bertugas dengan masa enam bulanan saja.
Kecemasan ini pula yang akhirnya sempat memicu isu "Sindroma Balkan".
Pihak Yugoslavia sendiri menyatakan, wilayah-wilayah yang terkontaminasi,
telah dipasangi tanda isolasi.
Unit Kematian
Jika di Balkan ada isu "Sindroma Balkan", di Irak dipastikan telah ada sebuah unit yang bernama "unit kematian". Unit ini berada di Saddam Centeral Hospital for Children Baghdad, yang diperuntukkan bagi anak-anak Irak yang menderita leukimia.

Anak-anak berkepala botak akibat pengobatan kemoterapi mewarnai unit ini. Menurut Kementerian Kesehatan Irak, kasus leukimia atau kanker darah di Irak naik empat kali lipat sejak tahun 1990. Bahkan, di antara mereka adalah anak-anak yang belum dilahirkan saat "Operasi Badai Gurun" berlangsung.
Sebagian besar pasien leukimia ini berasal dari wilayah utara Irak, tempat dimana pasukan sekutu melancarkan serangan paling intensif. Dan yang paling mencekam adalah kenyataan bahwa tak satupun dari anak-anak tersebut bakal bertahan hidup. Hal ini disampaikan oleh dokter yang bertanggung-jawab di "unit kematian", Dr Basim Al Abdili.
Basim menambahkan, di barat, banyak kasus leukimia mungkin berhasil diobati dan pasiennya mampu bertahan hidup. Tapi itu bukanlah di Irak. Adalah program "minyak untuk pangan" yang tetapkan PBB yang menjadi gara-garanya. Menurut Inggris dan Amerika, penyokong utama program ini, "minyak untuk pangan" adalah upaya mengebiri kemampuan Irak dalam membangun persenjataannya. Penjualan minyak Irak dibatasi hanya untuk membeli pangan, obat-obatan, dan kebutuhan rakyat lainnya. Walaupun pada akhirnya, toh, membuat rakyat Irak makin menderita.
Ironisnya, militer Amerika Serikat sebenarnya sudah mengetahui bahaya
radiasi dari senjata yang komponennya terbuat dari DU. Bahkan militer
Amerika Serikat telah mengetahuinya jauh sebelum perang teluk dimulai. Hal ini disiarkan BBC London (16/1/2001), berdasarkan dokumen yang diperoleh dari pihak Pentagon.
Koresponden BBC di Pentagon Jonathan Marcus melaporkan, pemakaian DU pada senjata NATO yang disuplai Amerika Serikat bukan cuma menimbulkan masalah pada kesehatan manusia, tapi juga lingkungan hidup!
Hal ini mematahkan sangkalan dan ketidaktahuan NATO atas penggunaan DU, sebab menurut BBC, sangkalan dan ketidaktahuan itu hanyalah sandiwara dan kepura-puraan. Selama ini NATO memang bersikeras menyangkal bukti adanya kaitan antara DU dengan tingginya insiden kanker dan leukimia yang menimpa tentara mereka sendiri di Balkan.
Boleh jadi apa yang dialami tentara NATO bak "pagar makan tanaman" atau "senjata makan tuan". Biar begitu, tetap rakyat tak berdosa yang paling bergelimang derita. Perang memang kejam...
LYH / Gilang