Jumat, 10 Sep 2010  
 
 
 
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 

 
 
 
   
 
   
   
 
.:: Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1431 H, Pusat Data PERSI dan Sekretariat PERSI Pusat libur mulai Hari Rabu tanggal 8 September 2010 sampai dengan Rabu tanggal 15 September 2010, masuk pada Hari Kamis tanggal 16 September 2010, Segenap Pengurus Pusat Data PERSI dan PERSI Pusat mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H, Minal Aidzin wal Faidzin - Mohon Maaf Lahir dan Batin ::.
 
Depleted Uranium, Hantui Bekas Wilayah Konflik
Kamis, 15 Feb 2001 12:55:08

Pdpersi, Jakarta - Perang identik dengan kesengsaraan. Bahkan akhir sebuah perang, adalah awal penderitaan baru. Simak saja nasib mereka di kawasan teluk atau Balkan. Selain mencarut-marutkan kehidupan mereka, perang, kini menebar sosoknya yang lain, hantu radiasi!

Yang paling santer terdengar akhir-akhir ini adalah akibat penggunaan depleted uranium (DU-red) di kawasan Balkan dan Teluk. Menurut Dr Michael H Repacholi dari Organisasi Kesehatan Dunia, DU atau uranium sisa adalah hasil sampingan proses pengayaan uranium pada industri nuklir, dimana hampir semua isotop radioaktif U-234 dan sekitar dua pertiga U-235 sudah diambil.

Karena itu, lanjut Repacholi, DU tersusun oleh hampir semuanya uranium U-238 dengan daya radioaktivitasnya sekitar 40 persen uranium alam. Di dunia militer, DU banyak digunakan untuk lapis baja tank berat, senjata penghancur berbentuk amunisi antitank, peluru kendali, dan proyektil. Pilihan DU ini digunakan karena kerapatannya yang tinggi (membuatnya ekstra keras-red) dan banyaknya persediaan.

Persenjataan inilah yang kemudian menebar maut di kawasan Balkan dan teluk. Para ahli Yugoslavia menemukan, tingkat radioaktivitas pada lima wilayah yang digempur peluru berujung DU mencapai 1.100 kali dari tingkat normal. Peluru-peluru ini ditembakan pesawat NATO (baca: Amerika Serikat-red) selama konflik Kosovo 1999.

Menurut catatan Pentagon, pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat (Thunderbolt) telah menembakkan 31 ribu peluru berujung DU di Kosovo. Ditaksir, peluru sebanyak itu mengandung 12 ton metal uranium beracun dan berkadar radioaktif ringan. Jumlah ini belum ditambah dengan penembakan peluru DU pada konflik yang sama tahun 1994 hingga 1995. Konon, 10.800 peluru DU ditembakkan saat itu.

Tapi jumlah ini masih sangat sedikit dibanding dengan apa yang ditanggung rakyat Irak. Sebanyak 300 ribu ton metal uranium beracun disebarkan sekutu barat dalam perang teluk 1991!

Sebenarnya, masalah radiasi ini tak akan mengemuka bila hanya ditanggung rakyat Kosovo atau rakyat Irak saja. Masalah ini mencuat manakala 20 tentara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO-red) yang bertugas di Balkan tewas akibat kanker. Padahal jauh sebelumnya negara Irak telah mengklaim bahwa ribuan penduduknya mati akibat kanker, dan bayi-bayi yang dilahirkan pasca perang teluk mengalami kecacatan. Toh jeritan rakyat Irak tak kunjung membuka mata NATO.

Kasus ini juga makin hingar bingar manakala NATO menerima laporan bahwa banyak tentara mereka terserang leukimia. Pun tatkala Sekretaris Jenderal NATO George Robertson menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Yugoslavia Goran Svilanovic yang membicarakan risiko kesehatan atas penggunaan amunisi radioaktif.

Svilanovic pantas cemas, mengingat warga Kosovo yang wilayahnya terkena DU harus hidup seumur-umur dengan akibat yang mungkin muncul dari senjata tersebut. Padahal pasukan penjaga NATO (termasuk yang terkena kanker-red), bertugas dengan masa enam bulanan saja.

Kecemasan ini pula yang akhirnya sempat memicu isu "Sindroma Balkan". Pihak Yugoslavia sendiri menyatakan, wilayah-wilayah yang terkontaminasi, telah dipasangi tanda isolasi.

Unit Kematian

Jika di Balkan ada isu "Sindroma Balkan", di Irak dipastikan telah ada sebuah unit yang bernama "unit kematian". Unit ini berada di Saddam Centeral Hospital for Children Baghdad, yang diperuntukkan bagi anak-anak Irak yang menderita leukimia.

bocah di reruntuhan Anak-anak berkepala botak akibat pengobatan kemoterapi mewarnai unit ini. Menurut Kementerian Kesehatan Irak, kasus leukimia atau kanker darah di Irak naik empat kali lipat sejak tahun 1990. Bahkan, di antara mereka adalah anak-anak yang belum dilahirkan saat "Operasi Badai Gurun" berlangsung.

Sebagian besar pasien leukimia ini berasal dari wilayah utara Irak, tempat dimana pasukan sekutu melancarkan serangan paling intensif. Dan yang paling mencekam adalah kenyataan bahwa tak satupun dari anak-anak tersebut bakal bertahan hidup. Hal ini disampaikan oleh dokter yang bertanggung-jawab di "unit kematian", Dr Basim Al Abdili.

Basim menambahkan, di barat, banyak kasus leukimia mungkin berhasil diobati dan pasiennya mampu bertahan hidup. Tapi itu bukanlah di Irak. Adalah program "minyak untuk pangan" yang tetapkan PBB yang menjadi gara-garanya. Menurut Inggris dan Amerika, penyokong utama program ini, "minyak untuk pangan" adalah upaya mengebiri kemampuan Irak dalam membangun persenjataannya. Penjualan minyak Irak dibatasi hanya untuk membeli pangan, obat-obatan, dan kebutuhan rakyat lainnya. Walaupun pada akhirnya, toh, membuat rakyat Irak makin menderita.

Ironisnya, militer Amerika Serikat sebenarnya sudah mengetahui bahaya radiasi dari senjata yang komponennya terbuat dari DU. Bahkan militer Amerika Serikat telah mengetahuinya jauh sebelum perang teluk dimulai. Hal ini disiarkan BBC London (16/1/2001), berdasarkan dokumen yang diperoleh dari pihak Pentagon.

Koresponden BBC di Pentagon Jonathan Marcus melaporkan, pemakaian DU pada senjata NATO yang disuplai Amerika Serikat bukan cuma menimbulkan masalah pada kesehatan manusia, tapi juga lingkungan hidup!

Hal ini mematahkan sangkalan dan ketidaktahuan NATO atas penggunaan DU, sebab menurut BBC, sangkalan dan ketidaktahuan itu hanyalah sandiwara dan kepura-puraan. Selama ini NATO memang bersikeras menyangkal bukti adanya kaitan antara DU dengan tingginya insiden kanker dan leukimia yang menimpa tentara mereka sendiri di Balkan.

Boleh jadi apa yang dialami tentara NATO bak "pagar makan tanaman" atau "senjata makan tuan". Biar begitu, tetap rakyat tak berdosa yang paling bergelimang derita. Perang memang kejam...

LYH / Gilang
 
 
Kesehatan Lingkungan Lainnya :
Yuk Tiru, Program Rumah Bebas Asap Rokok di Yogyakarta!
Shisha Tak Lebih Baik dari Rokok
Penyakit Dari Air Tanah
Hargai Sampah untuk Kurangi Dampak Negatif Perubahan Iklim
Stop!...Pencemaran
 
Lihat Arsip Kesehatan Lingkungan
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
 
Comparative Sudy & Umroh Plus - Health Financing And Hospital Finance
Workshop Metode Baru : Perencanaan SDM Rumah Sakit - Gelombang 3
Pelatihan Perawatan Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Di Rumah Sakit
Seminar Nasional X PERSI - Seminar Tahunan IV Patient Safety - Hospital Expo XXIII Tahun 2010
Workshop Di Alam Asri - Keselamatan Pasien Dan Manajemen Risiko Klinis - PERSI - KKPRS - KARS & IMRK
 
 
Kandungan
(dr. Ferry A. Firdaus Mansoer, MM, SpOG.)
Anak
(dr. Rudi Hartono, SpA)
Andrologi
Prof. DR. dr. H. Nukman Moeloek. SpAnd
 
 
  Login
  Berita PERSI
  Teknologi Informasi & Keselamatan Pasien
 
  Berita RS
  RS Lansia Akan Berdiri di Sleman
 
  Manajemen RS
  Waspadai Penggunaan Sarana & Prasarana RS Sebelum Bermasalah Dan Membahayakan
 
  Artikel Gizi Klinis
  KANDUNGAN ENERGI DAN MINERAL PISANG YANG DAHSYAT
 
  Kehumasan RS
  Pasien Harus Tahu Hak-haknya
 
  Artikel IT
  Apa itu Cookies ?
 
 
 
 
 
 
Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi tulisan ini dalam bentuk media apapun tanpa izin tertulis dari pdpersi.co.id


Copyright © 2003  PDPERSI.CO.ID

PUSAT DATA & INFORMASI - PERHIMPUNAN RUMAH SAKIT SELURUH INDONESIA
Alamat: Komplek Sentra Bisnis Artha Gading
Jl. Boulevard Artha Gading Blok A-7A No. 28
Kelapa Gading Jakarta Utara
Telp. 021-45845223, 45845291, 45845303, 45845304   Fax. 021-45845291


BEST VIEWS 1024 x 768 Pix RESOLUTION