Kamis, 9 Sep 2010  
 
 
 
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 

 
 
 
   
 
   
   
 
.:: Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1431 H, Pusat Data PERSI dan Sekretariat PERSI Pusat libur mulai Hari Rabu tanggal 8 September 2010 sampai dengan Rabu tanggal 15 September 2010, masuk pada Hari Kamis tanggal 16 September 2010, Segenap Pengurus Pusat Data PERSI dan PERSI Pusat mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H, Minal Aidzin wal Faidzin - Mohon Maaf Lahir dan Batin ::.
 
Penipisan Ozon, Siapa Peduli?
Jumat, 02 Mar 2001 10:17:03

Pdpersi, Jakarta - Siapa peduli ozon? Saat situasi negara ini tak menentu, elit politik sibuk dengan kepentingannya sendiri, masyarakat terus berkonflik, dan mahasiswa getol demo, tampaknya tak ada waktu untuk bicara ataupun sekadar mengingat ozon, yang berada nun jauh di atas Bumi!

Padahal, dampak menipisnya lapisan ozon, bisa menimbulkan masalah besar bagi kesehatan manusia, lebih dahsyat dari dampak pergantian seorang presiden. Kanker kulit, kerusakan mata, ataupun perubahan sistem kekebalan tubuh, adalah dampak yang bisa ditimbulkan akibat penipisan lapisan ozon.

Mungkin benar, apa yang dikatakan Pramono Mardio, National Project Director Institutional Strengthening for ODS phase out UNDP, bahwa masyarakat tak peduli dengan apa yang terjadi di atmosfir kita. "Kerusakan atau pencemaran di muka bumi saja enggak khawatir, bagaimana dengan kerusakan di lapisan ozon yang semakin hari semakin parah," ujarnya lirih, ketika pdpersi.co.id mewawancarainya di kantornya, Jumat (23/2).

Kekhawatiran Pramono Mardio yang berkantor di Kementrian Lingkungan Hidup ini memang beralasan. Sebab, data terakhir menyebutkan bahwa kerusakan terhadap lapisan ozon di atas Antartika telah menembus 25 juta km persegi. Angka yang patut dicemaskan! Menganganya lapisan ozon hingga puluhan kilometer ini, tak lain disebabkan ulah manusia bumi yang masih saja menggunakan zat perusak ozon (ODS), seperti CFC, halon, karbon tetraklorida, dsb.

Ozon sendiri adalah molekul tipis sederhana yang terdiri dari tiga atom oksigen dan merupakan bagian kecil dari atmosfir. Begitu tipisnya, sehingga jika semua ozon di atmosfir dikumpulkan sampai ketinggian 60 km dari permukaan bumi, maka akan terbentuk lapisan gas yang tebalnya hanya 3 mm dengan berat sekitar 3000 juta ton. Sebagian besar lapisan ozon berada di stratosfer, sekitar 18 - 45 km dari permukaan bumi.

Ozon pada Atmosfer Bumi Lapisan ozon ibarat penyaring atau peneduh raksasa, yang melindungi tanaman, hewan, termasuk manusia dari radiasi ultraviolet B (UV-B) berbahaya yang dipancarkan matahari ke permukaan bumi. Tanpa keberadaan ozon rasanya kehidupan indah di bumi yang kita rasakan saat ini tak akan pernah terjadi.

Pasalnya, lapisan ozon berfungsi mencegah radiasi langsung UV-B yang mematikan untuk mencapai bumi dan mencegah kira-kira 70-90 persen bagian ultra-violet yang tidak terlalu merusak.

Radiasi Ultra-Violet

Dalam buku yang bertajuk "The Impact of Ozone-Layer Depletion" yang diterbitkan United Nation Environment Programme (UNEP) dijelaskan, radiasi ultra-violet terbagi dalam tiga jenis, tergantung pada panjang gelombangnya. Pertama, radiasi ultra-violet (UV-A) yang dipancarkan pada panjang gelombang 315-700 nm (1 nanometer sama dengan seper sejuta milimeter). Ini tidak dipengaruhi oleh berkurangnya ozon dan relatif tidak berbahaya.

Kedua, radiasi UV-B yang dipancarkan pada 280-315 nm, dipengaruhi oleh berkurangnya ozon atmosfir. Radiasi inilah yang menjadi penyebab terbesar kerusakan pada manusia, hewan, dan tanaman.

Dan ketiga, radiasi UV-C yang mematikan, dipancarkan pada panjang gelombang 200-280 nm. Bagusnya, radiasi ini diserap sepenuhnya oleh ozon atmosfir dan oksigen. Meskipun ada penipisan besar pada lapisan ozon, radiasi UV-C masih bisa diserap oleh ozon yang tersisa.

Nah, apa yang terjadi bila lapisan ozon mengalami kerusakan atau penipisan? Yang pasti, akan menjadi ancaman serius bagi semua kehidupan di muka bumi. Penelitian yang dilakukan, setiap penipisan 10 persen dari lapisan ozon dapat menyebabkan kenaikan 20 persen radiasi ultraviolet yang ditumpahkan ke permukaan bumi melalui gelombang-gelombang panjang yang membahayakan. Kerusakan yang terjadi di bumi karena radiasi UV-B tergantung pada jumlah ozon atmosfir yang berfungsi sebagai penyaring, sudut matahari di langit, dan awan sebagai penutup.

Daerah tropis sebenarnya termasuk yang sedikit mengalami dampak penipisan ozon, namun bukan berarti daerah tropis aman dari radiasi UV-B yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Dampaknya Bagi Kesehatan Manusia

Berbagai masalah kesehatan dapat timbul akibat penipisan lapisan ozon di atmosfir. Misalnya, berubahnya sistem kekebalan yang berdampak pada menurunnya kehasilgunaan program vaksinasi. Vaksin yang disuntikan ke dalam kulit yang terkena radiasi ultra-violet akan memunculkan sel lain selain sel pembuat antibodi, yang disebut sel afektor T. Sel-sel T akan menekan sel antibodi dan biasanya mencegah tubuh menolak zat-zat penting, seperti protein tubuh serta akan mencegah tubuh untuk mengenal vaksin. Sehingga tubuh tidak memproduksi antigen sebagai pertahanan dan tidak mengenal kapan harus mengembangkan kekebalan atas penyakit.

Akibatnya, berkembanglah kanker kulit dan muncul pula sejumlah penyakit karena infeksi. Jenis penyakit yang akan timbul akibat tekanan terhadap respon kekebalan yang disebabkan tingginya radiasi UV-B antara lain kulit, campak, chicken pox, herpes, malaria, leishamaniasis, TBC, kusta, dan infeksi jamur, seperti candidiasis.

Selain itu, penipisan lapisan ozon juga dapat menimbulkan kerusakan pada mata. Penelitian dari US Environmental Protection Agency pada tahun 1985 memperkirakan, bila terjadi penipisan ozon sebesar 1 persen saja, maka akan terdapat tambahan sekitar 100 ribu sampai 150 ribu kasus katarak yang menyebabkan kebutaan. Katarak dan kebutaan diperkirakan akan meningkat bila penipisan lapisan ozon berlangsung terus, karena mata tidak seperti kulit yang sebagian bisa menyesuaikan diri dengan menjadi lebih tebal dan lebih coklat.

Mata pertama kali memberi respon terhadap imunisasi UV-B yang merusak dengan mengembangkan fotokeratitis (untuk kebutaan salju), di mana bagian depan mata, kelopak mata, dan kulit sekitar mata menjadi merah. Nah, bila terus kena radiasi, akan menimbulkan katarak. Tragisnya, menurut WHO, katarak adalah penyebab 17 juta kasus kebutaan di seluruh dunia.

Masih ada lagi dampak yang patut menjadi keprihatinan kita semua. Selain efeknya mengganggu kesehatan manusia, penipisan lapisan ozon pun berpengaruh besar bagi kehidupan lainnya. Tanaman akan menjadi kerdil pertumbuhannya, tanaman budidaya akan menurun dan hutan-hutan akan rusak.

Di laut, diperkirakan radiasi akibat UV-B yang menembus lapisan ozon berakibat lebih parah. Anak-anak ikan, udang, dan kepiting akan mengalami kerusakan dan kematian. Populasi plankton yang menjadi jaringan makanan hewan laut akan menurun kapasitasnya.

Rusak oleh Khloroflorokarbon

Sherwood Rowland bersama Mario Molina dari University of California adalah orang pertama yang menuding CFC (Khloroflorokarbon) sebagai perusak lapisan ozon. Tudingan Sherwood dan Mario ini ternyata sempat tak ditanggapi dalam Vienna Convention tahun 1985 yang dihadiri 21 negara dan masyarakat Eropa.

Namun, perkembangan selanjutnya ada bukti tak terbantahkan dari British Antartic Survey bahwa CFC menjadi penyebab utama rusaknya ozon. Sampai akhirnya dalam Montreal Protocol tahun 1987, keluarlah himbauan agar seluruh negara di dunia terutama negara-negara industri untuk mengurangi penggunaan CFC dan halon. Protocol ini diratifikasi 36 negara mencakup negara konsumen CFC di dunia.

Lebih lanjut, diketahui bahwa selain CFC dan halon, ada bahan kimia lain yang mengakibatkan kerusakan berarti pada lapisan ozon, yakni Karbon Tetaklorida, Metil Khloroform, dan Metil Bromida.

Menurut Pramono Mardio, bahan CFC biasa digunakan di lemari pendingin dan menjadi unsur penting pada unit AC besar dan sistem AC kendaraan. CFC pun digunakan untuk membuat berbagai jenis produk, seperti bantal kursi, kasur busa, kemasan, bahan isolasi bangunan, roda kemudi, bumper mobil, dan jaket penyelamat di laut. Bahan CFC lainnya dipakai sebagai bahan pelarut, propelan pada, dan untuk prosedur strelisasi di rumah sakit.

Sedangkan Halon, digunakan sebagai bahan pemadam kebakaran. Dua jenis Halon, yaitu Halon 1211 dan 2402 disemprotkan ke api, lalu Halon 1301 dimasukan ke dalam ruangan. Untuk Karbon Tetraklorida yang memiliki daya rusak ozon sama besar dengan CFC, digunakan pada sejumlah besar jenis pestisida, pelarut dalam karet sintetis, sebagai pembersih gemuk pada logam, alat dry cleaning, dan sebagai pemusnah bahan tanaman.

Metil Khloroform, terutama digunakan dalam pembuatan baja, pencucian logam, sebagai pelarut industri serba guna, pembersih semiconductor dan pembuatan fluorocarbon serta bahan kimia turunannya. Sedangkan Metil Bromida, banyak digunakan pada fumigasi tanah atau produk-produk pertanian yang akan diekspor maupun diimpor.

Kesadaran akan dampak yang akan ditimbulkan jika lapisan ozon semakin menipis, membuat negara-negara di dunia melakukan kesepakatan- kesepakatan dan bantuan-bantuan yang memungkinkan berkurangnya penggunaan bahan-bahan yang dapat merusak lapisan ozon. Lalu, menggantikannya dengan bahan yang lebih ramah ozon, seperti HCFC, HFC, dan Hidrokarbon.

Pramono mengakui, Indonesia meski belum maksimal dan masih jauh tertinggal dari negara-negara Asia lain seperti Malaysia dan Singapura, yang telah melakukan upaya-upaya penggantian bahan ramah ozon yang non CFC, non Halon, dsb sejak tahun 1992. Bahkan saat ini mereka telah berhasil menghapuskan sebanyak kurang lebih 6.000 ton bahan-bahan perusak ozon tersebut pada berbagai keperluan.

"Kita memang tertinggal dalam hal penghapusan ODS ini, karena memang ada kendala di pendanaan, kondisi geografis, dan status kita sebagai negara konsumen bahan-bahan perusak ozon tersebut," imbuhnya memberi alasan.

Indonesia dan negara-negara artikel lainnya, (negara pengkonsumsi ODS) masih punya waktu hingga 2010 untuk mengganti bahan-bahan perusak ozon dengan bahan-bahan yang lebih bersahabat. Meskipun ada keinginan dari negara-negara maju agar bisa lebih cepat dari tahun yang ditargetkan.

Dengan kondisi seperti sekarang ini, Pramono yang cukup lama berkecimpung dengan masalah ozon, tetap yakin bahwa Indonesia akan mampu menghapus ODS. Apalagi dengan adanya bantuan ataupun sponsor dari badan-badan dunia, seperti UNDP, UNIDO, dan World Bank.

"Dengan bantuan dana dari badan-badan international itu diharapkan dapat membantu percepatan penggantian ODS di dunia industri dan kampanye untuk peduli ozon baik dari kalangan industri maupun masyarakat. Data yang ada di Kementerian Lingkungan Hidup tercatat, sudah 179 perusahaan kecil dan menengah mendapat bantuan dari tiga lembaga international itu dan 18 perusahaan lainnya akan mendapat bantuan dari UNDP tahun 2001 ini," jelasnya.

Jadi, ingatlah, menipisnya lapisan ozon bukan sebagai masalah global negara lain ataupun masalah pemerintah. Tapi menjadi masalah bersama yang jika dibiarkan akan berbahaya. Juga pada diri kita sendiri. Setuju?

Foto: www.solcomhouse.com
LYH / Gaib M Sigit
 
 
Kesehatan Lingkungan Lainnya :
Yuk Tiru, Program Rumah Bebas Asap Rokok di Yogyakarta!
Shisha Tak Lebih Baik dari Rokok
Penyakit Dari Air Tanah
Hargai Sampah untuk Kurangi Dampak Negatif Perubahan Iklim
Stop!...Pencemaran
 
Lihat Arsip Kesehatan Lingkungan
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
 
Comparative Sudy & Umroh Plus - Health Financing And Hospital Finance
Workshop Metode Baru : Perencanaan SDM Rumah Sakit - Gelombang 3
Pelatihan Perawatan Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Di Rumah Sakit
Seminar Nasional X PERSI - Seminar Tahunan IV Patient Safety - Hospital Expo XXIII Tahun 2010
Workshop Di Alam Asri - Keselamatan Pasien Dan Manajemen Risiko Klinis - PERSI - KKPRS - KARS & IMRK
 
 
Kandungan
(dr. Ferry A. Firdaus Mansoer, MM, SpOG.)
Anak
(dr. Rudi Hartono, SpA)
Andrologi
Prof. DR. dr. H. Nukman Moeloek. SpAnd
 
 
  Login
  Berita PERSI
  Teknologi Informasi & Keselamatan Pasien
 
  Berita RS
  RS Lansia Akan Berdiri di Sleman
 
  Manajemen RS
  Waspadai Penggunaan Sarana & Prasarana RS Sebelum Bermasalah Dan Membahayakan
 
  Artikel Gizi Klinis
  KANDUNGAN ENERGI DAN MINERAL PISANG YANG DAHSYAT
 
  Kehumasan RS
  Pasien Harus Tahu Hak-haknya
 
  Artikel IT
  Apa itu Cookies ?
 
 
 
 
 
 
Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi tulisan ini dalam bentuk media apapun tanpa izin tertulis dari pdpersi.co.id


Copyright © 2003  PDPERSI.CO.ID

PUSAT DATA & INFORMASI - PERHIMPUNAN RUMAH SAKIT SELURUH INDONESIA
Alamat: Komplek Sentra Bisnis Artha Gading
Jl. Boulevard Artha Gading Blok A-7A No. 28
Kelapa Gading Jakarta Utara
Telp. 021-45845223, 45845291, 45845303, 45845304   Fax. 021-45845291


BEST VIEWS 1024 x 768 Pix RESOLUTION