Penipisan Ozon, Siapa Peduli?
Jumat, 02 Mar 2001 10:17:03
Pdpersi, Jakarta - Siapa peduli ozon? Saat situasi negara ini tak menentu, elit politik
sibuk dengan kepentingannya sendiri, masyarakat terus berkonflik, dan
mahasiswa
getol demo, tampaknya tak ada waktu untuk bicara
ataupun sekadar mengingat ozon, yang berada nun jauh di atas Bumi!
Padahal, dampak menipisnya lapisan ozon, bisa menimbulkan masalah
besar bagi kesehatan manusia, lebih dahsyat dari dampak pergantian
seorang presiden. Kanker kulit, kerusakan mata, ataupun perubahan
sistem kekebalan tubuh, adalah dampak yang bisa ditimbulkan akibat
penipisan lapisan ozon.
Mungkin benar, apa yang dikatakan Pramono Mardio, National Project Director Institutional Strengthening for ODS phase out UNDP, bahwa masyarakat tak peduli dengan apa yang terjadi di atmosfir kita. "Kerusakan atau pencemaran di muka bumi saja
enggak khawatir, bagaimana dengan kerusakan di lapisan ozon yang semakin hari semakin parah," ujarnya lirih, ketika
pdpersi.co.id mewawancarainya di kantornya, Jumat (23/2).
Kekhawatiran Pramono Mardio yang berkantor di Kementrian Lingkungan
Hidup ini memang beralasan. Sebab, data terakhir menyebutkan bahwa
kerusakan terhadap lapisan ozon di atas Antartika telah menembus 25
juta km persegi. Angka yang patut dicemaskan! Menganganya lapisan ozon
hingga puluhan kilometer ini, tak lain disebabkan ulah manusia bumi
yang masih saja menggunakan zat perusak ozon (ODS), seperti CFC,
halon, karbon tetraklorida, dsb.
Ozon sendiri adalah molekul tipis sederhana yang terdiri dari tiga
atom oksigen dan merupakan bagian kecil dari atmosfir. Begitu tipisnya,
sehingga jika semua ozon di atmosfir dikumpulkan sampai ketinggian 60
km dari permukaan bumi, maka akan terbentuk lapisan gas yang tebalnya
hanya 3 mm dengan berat sekitar 3000 juta ton. Sebagian besar lapisan
ozon berada di stratosfer, sekitar 18 - 45 km dari permukaan bumi.

Lapisan ozon ibarat penyaring atau peneduh raksasa, yang melindungi
tanaman, hewan, termasuk manusia dari radiasi ultraviolet B (UV-B)
berbahaya yang dipancarkan matahari ke permukaan bumi. Tanpa
keberadaan ozon rasanya kehidupan indah di bumi yang kita rasakan saat
ini tak akan pernah terjadi.
Pasalnya, lapisan ozon berfungsi mencegah radiasi langsung UV-B yang
mematikan untuk mencapai bumi dan mencegah kira-kira 70-90 persen
bagian ultra-violet yang tidak terlalu merusak.
Radiasi Ultra-Violet
Dalam buku yang bertajuk "The Impact of Ozone-Layer Depletion" yang
diterbitkan United Nation Environment Programme (UNEP) dijelaskan,
radiasi ultra-violet terbagi dalam tiga jenis, tergantung pada panjang
gelombangnya. Pertama, radiasi ultra-violet (UV-A) yang dipancarkan
pada panjang gelombang 315-700 nm (1 nanometer sama dengan seper
sejuta milimeter). Ini tidak dipengaruhi oleh berkurangnya ozon dan
relatif tidak berbahaya.
Kedua, radiasi UV-B yang dipancarkan pada 280-315 nm, dipengaruhi oleh
berkurangnya ozon atmosfir. Radiasi inilah yang menjadi penyebab
terbesar kerusakan pada manusia, hewan, dan tanaman.
Dan ketiga, radiasi UV-C yang mematikan, dipancarkan pada panjang
gelombang 200-280 nm. Bagusnya, radiasi ini diserap sepenuhnya oleh
ozon atmosfir dan oksigen. Meskipun ada penipisan besar pada lapisan
ozon, radiasi UV-C masih bisa diserap oleh ozon yang tersisa.
Nah, apa yang terjadi bila lapisan ozon mengalami kerusakan atau
penipisan? Yang pasti, akan menjadi ancaman serius bagi semua
kehidupan di muka bumi. Penelitian yang dilakukan, setiap penipisan
10 persen dari lapisan ozon dapat menyebabkan kenaikan 20 persen
radiasi ultraviolet yang ditumpahkan ke permukaan bumi melalui
gelombang-gelombang panjang yang membahayakan. Kerusakan yang terjadi
di bumi karena radiasi UV-B tergantung pada jumlah ozon atmosfir yang
berfungsi sebagai penyaring, sudut matahari di langit, dan awan
sebagai penutup.

Daerah tropis sebenarnya termasuk yang sedikit mengalami dampak
penipisan ozon, namun bukan berarti daerah tropis aman dari radiasi
UV-B yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
Dampaknya Bagi Kesehatan Manusia
Berbagai masalah kesehatan dapat timbul akibat penipisan lapisan ozon
di atmosfir. Misalnya, berubahnya sistem kekebalan yang berdampak pada
menurunnya kehasilgunaan program vaksinasi. Vaksin yang disuntikan ke
dalam kulit yang terkena radiasi ultra-violet akan memunculkan sel
lain selain sel pembuat antibodi, yang disebut sel afektor T. Sel-sel
T akan menekan sel antibodi dan biasanya mencegah tubuh menolak
zat-zat penting, seperti protein tubuh serta akan mencegah tubuh untuk
mengenal vaksin. Sehingga tubuh tidak memproduksi antigen sebagai
pertahanan dan tidak mengenal kapan harus mengembangkan kekebalan atas
penyakit.
Akibatnya, berkembanglah kanker kulit dan muncul pula sejumlah
penyakit karena infeksi. Jenis penyakit yang akan timbul akibat
tekanan terhadap respon kekebalan yang disebabkan tingginya radiasi
UV-B antara lain kulit, campak, chicken pox, herpes, malaria,
leishamaniasis, TBC, kusta, dan infeksi jamur, seperti candidiasis.
Selain itu, penipisan lapisan ozon juga dapat menimbulkan kerusakan
pada mata. Penelitian dari US Environmental Protection Agency pada
tahun 1985 memperkirakan, bila terjadi penipisan ozon sebesar 1 persen saja, maka akan terdapat tambahan sekitar 100 ribu sampai 150 ribu
kasus katarak yang menyebabkan kebutaan. Katarak dan kebutaan
diperkirakan akan meningkat bila penipisan lapisan ozon berlangsung
terus, karena mata tidak seperti kulit yang sebagian bisa menyesuaikan
diri dengan menjadi lebih tebal dan lebih coklat.
Mata pertama kali memberi respon terhadap imunisasi UV-B yang merusak
dengan mengembangkan fotokeratitis (untuk kebutaan salju), di mana
bagian depan mata, kelopak mata, dan kulit sekitar mata menjadi merah.
Nah, bila terus kena radiasi, akan menimbulkan katarak. Tragisnya,
menurut WHO, katarak adalah penyebab 17 juta kasus kebutaan di seluruh
dunia.
Masih ada lagi dampak yang patut menjadi keprihatinan kita semua.
Selain efeknya mengganggu kesehatan manusia, penipisan lapisan ozon
pun berpengaruh besar bagi kehidupan lainnya. Tanaman akan menjadi
kerdil pertumbuhannya, tanaman budidaya akan menurun dan hutan-hutan
akan rusak.
Di laut, diperkirakan radiasi akibat UV-B yang menembus lapisan
ozon berakibat lebih parah. Anak-anak ikan, udang, dan kepiting akan
mengalami kerusakan dan kematian. Populasi plankton yang menjadi
jaringan makanan hewan laut akan menurun kapasitasnya.
Rusak oleh Khloroflorokarbon
Sherwood Rowland bersama Mario Molina dari University of California
adalah orang pertama yang menuding CFC (Khloroflorokarbon) sebagai
perusak lapisan ozon. Tudingan Sherwood dan Mario ini ternyata sempat
tak ditanggapi dalam Vienna Convention tahun 1985 yang dihadiri 21
negara dan masyarakat Eropa.

Namun, perkembangan selanjutnya ada bukti tak terbantahkan dari
British Antartic Survey bahwa CFC menjadi penyebab utama rusaknya
ozon. Sampai akhirnya dalam Montreal Protocol tahun 1987, keluarlah
himbauan agar seluruh negara di dunia terutama negara-negara industri
untuk mengurangi penggunaan CFC dan halon. Protocol ini diratifikasi
36 negara mencakup negara konsumen CFC di dunia.
Lebih lanjut, diketahui bahwa selain CFC dan halon, ada bahan kimia
lain yang mengakibatkan kerusakan berarti pada lapisan ozon, yakni
Karbon Tetaklorida, Metil Khloroform, dan Metil Bromida.
Menurut Pramono Mardio, bahan CFC biasa digunakan di lemari pendingin
dan menjadi unsur penting pada unit AC besar dan sistem AC kendaraan.
CFC pun digunakan untuk membuat berbagai jenis produk, seperti bantal
kursi, kasur busa, kemasan, bahan isolasi bangunan, roda kemudi,
bumper mobil, dan jaket penyelamat di laut. Bahan CFC lainnya dipakai
sebagai bahan pelarut, propelan pada, dan untuk prosedur strelisasi di
rumah sakit.
Sedangkan Halon, digunakan sebagai bahan pemadam kebakaran. Dua jenis
Halon, yaitu Halon 1211 dan 2402 disemprotkan ke api, lalu Halon 1301
dimasukan ke dalam ruangan. Untuk Karbon Tetraklorida yang memiliki
daya rusak ozon sama besar dengan CFC, digunakan pada sejumlah besar
jenis pestisida, pelarut dalam karet sintetis, sebagai pembersih gemuk
pada logam, alat dry cleaning, dan sebagai pemusnah bahan tanaman.
Metil Khloroform, terutama digunakan dalam pembuatan baja, pencucian
logam, sebagai pelarut industri serba guna, pembersih semiconductor
dan pembuatan fluorocarbon serta bahan kimia turunannya. Sedangkan
Metil Bromida, banyak digunakan pada fumigasi tanah atau produk-produk
pertanian yang akan diekspor maupun diimpor.
Kesadaran akan dampak yang akan ditimbulkan jika lapisan ozon semakin
menipis, membuat negara-negara di dunia melakukan kesepakatan-
kesepakatan dan bantuan-bantuan yang memungkinkan berkurangnya
penggunaan bahan-bahan yang dapat merusak lapisan ozon. Lalu,
menggantikannya dengan bahan yang lebih ramah ozon, seperti HCFC, HFC,
dan Hidrokarbon.
Pramono mengakui, Indonesia meski belum maksimal dan masih jauh
tertinggal dari negara-negara Asia lain seperti Malaysia dan
Singapura, yang telah melakukan upaya-upaya penggantian bahan ramah
ozon yang non CFC, non Halon, dsb sejak tahun 1992. Bahkan saat ini
mereka telah berhasil menghapuskan sebanyak kurang lebih 6.000 ton
bahan-bahan perusak ozon tersebut pada berbagai keperluan.
"Kita memang tertinggal dalam hal penghapusan ODS ini, karena memang
ada kendala di pendanaan, kondisi geografis, dan status kita sebagai
negara konsumen bahan-bahan perusak ozon tersebut," imbuhnya memberi
alasan.
Indonesia dan negara-negara artikel lainnya, (negara pengkonsumsi ODS)
masih punya waktu hingga 2010 untuk mengganti bahan-bahan perusak ozon
dengan bahan-bahan yang lebih bersahabat. Meskipun ada keinginan dari
negara-negara maju agar bisa lebih cepat dari tahun yang ditargetkan.
Dengan kondisi seperti sekarang ini, Pramono yang cukup lama
berkecimpung dengan masalah ozon, tetap yakin bahwa Indonesia akan
mampu menghapus ODS. Apalagi dengan adanya bantuan ataupun sponsor
dari badan-badan dunia, seperti UNDP, UNIDO, dan World Bank.

"Dengan bantuan dana dari badan-badan international itu diharapkan dapat membantu percepatan penggantian ODS di dunia industri dan kampanye untuk peduli ozon baik dari kalangan industri maupun masyarakat. Data yang ada di Kementerian Lingkungan Hidup tercatat, sudah 179 perusahaan kecil dan menengah mendapat bantuan dari tiga lembaga international itu dan 18 perusahaan lainnya akan mendapat bantuan dari UNDP tahun 2001 ini," jelasnya.
Jadi, ingatlah, menipisnya lapisan ozon bukan sebagai masalah global
negara lain ataupun masalah pemerintah. Tapi menjadi masalah bersama
yang jika dibiarkan akan berbahaya. Juga pada diri kita sendiri.
Setuju?
Foto: www.solcomhouse.com
LYH / Gaib M Sigit