Kamis, 9 Sep 2010  
 
 
 
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 

 
 
 
   
 
   
   
 
.:: Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1431 H, Pusat Data PERSI dan Sekretariat PERSI Pusat libur mulai Hari Rabu tanggal 8 September 2010 sampai dengan Rabu tanggal 15 September 2010, masuk pada Hari Kamis tanggal 16 September 2010, Segenap Pengurus Pusat Data PERSI dan PERSI Pusat mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H, Minal Aidzin wal Faidzin - Mohon Maaf Lahir dan Batin ::.
 
Jangan Anggap Enteng Perubahan Iklim
Jumat, 16 Mar 2001 21:59:30

Pdpersi, Jakarta - Andai suatu ketika bumi terasa begitu panas dikala musim hujan, dan terjadi kekeringan di beberapa daerah tertentu, bisa jadi itu dampak awal yang paling kecil dari adanya perubahan iklim, yang disebabkan peningkatan gas rumah kaca.

Menurut kajian yang dilakukan Intergovermental Panel on Climate (IPCC) dan World Climate Programme (WCP) pada bulan Oktober 1990, dampak sebenarnya dari perubahan iklim ini baru terasakan antara 50 hingga 100 tahun kemudian. Namun bukan berarti wacana perubahan iklim ini dibiarkan dan diendapkan begitu saja.

Sumber yang ditemui pdpersi.co.id di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup mengungkapkan, bila penggunaan gas-gas oleh manusia --termasuk gas rumah kaca-- tidak terkontrol, bisa jadi dampak perubahan iklim akan lebih cepat dibanding yang diperkirakan para ahli. Dampaknya pun akan lebih dahsyat dibanding penipisan lapisan ozon bila tak ditangani dengan baik.

"Perubahan iklim bukanlah sekadar perubahan cuaca dari panas ke dingin atau sebaliknya. Tapi merupakan berubahnya iklim yang diakibatkan langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia yang dapat menyebabkan perubahan serius pada komposisi atmosfir secara global ataupun sifat alamiah iklim itu sendiri." Begitu kata sumber tersebut kepada pdpersi.co.id, Rabu (14/3).

Akibat yang merugikan dari perubahan iklim ialah perubahan terhadap lingkungan fisik dan biota. Dampaknya, terjadi kerusakan terhadap komposisi ketahanan atau produktifitas ekosistem alam. Hal ini berpengaruh sekali terhadap kesejahteraan dan kesehatan manusia.

Efek Rumah Kaca

Menyoal perubahan iklim, tak lepas dari adanya gas rumah kaca (GRK). Pasalnya, jika konsentrasi GRK kian tinggi, akan terjadi pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim di muka bumi ini. Gas rumah kaca sendiri adalah unsur atmosfir yang mengandung gas, baik alami maupun buatan manusia (antropogenic) yang menyerap dan memancarkan kembali radiasi inframerah. Seperti, karbon dioksida (CO2), gas metan (CH4), dinitrogen oksida (N20), chlorofluorocarbon (CFC), hydrofluorocarbon (HFC), karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), dan gas-gas organik non metan yang volatil.

Efek Rumah Kaca Proses terjadinya perubahan iklim ini, diawali dengan masuknya radiasi matahari dan terjebaknya radiasi itu di dalam atmosfir, akibat gas rumah kaca. Sehingga menaikkan suhu di permukaan bumi. Efek terjebaknya radiasi inilah yang dikenal dengan sebutan Efek Rumah Kaca.

Secara proporsional, efek rumah kaca berdampak positif karena memberi kehangatan dan kesempatan hidup berbagai mahluk di bumi ini. Kalau tidak ada efek rumah kaca, maka suhu rata-rata permukaan bumi bukanlah 15 derajat celcius tapi minus 18 derajat celcius. Namun jika gas-gas yang membentuk atmosfir --seperti uap air dan GRK-- mengalami pertambahan secara berlebihan akibat aktivitas manusia, bukan lagi menghangatkan bumi tapi justru membahayakan bumi dan seluruh isinya.

Bertambahnya GRK di atmosfer, seperti CO2 dari kendaraan bermotor, gas metan dari lahan pertanian, limbah yang tidak diproses, dan CFC alias freon dari hairspray akan menahan lebih banyak radiasi matahari dari yang dibutuhkan kehidupan di bumi. Maka, akan terjadi pemanasan global (global warming), yaitu naiknya suhu permukaan bumi. Gejala ini juga diikuti dengan naiknya suhu air laut, perubahan curah hujan, perubahan frekuensi dan intensitas badai, dan naiknya tinggi permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub.

Artinya, perubahan iklim ini ternyata akan menyebabkan perubahan yang tidak sedikit. Bukan hanya bagi industri pertanian, perikanan, pariwisata, tetapi bagi kita semua dalam bentuk krisis air bersih, meningkatnya frekuensi penyakit tertentu, dsb.

Mempengaruhi Kesehatan

Sebagai negara berkembang yang bersifat kepulauan dan terletak di katulistiwa, Indonesia tak akan lepas dari pengaruh pemanasan global dan perubahan iklim. Termasuk tentunya masalah kesehatan. Sumber dari Kantor Kementerian Lingkungan Hidup menyebutkan, dampak kesehatan yang akan muncul, antara lain meningkatnya frekuensi penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, seperti malaria dan demam berdarah.

Sebuah model analisis penyakit menular menunjukkan bahwa jika Indonesia terus begini maka kasus malaria akan meningkat. Sementara kasus demam berdarah akan menjadi empat kali lipat. Bila ini terjadi, dapat dipastikan kita akan kewalahan mengatasinya.

Diperkirakan juga, selain akan menimbulkan penyakit di atas, ada kecenderungan perubahan iklim juga akan menyebabkan katarak, kanker kulit, dan penyakit-penyakit infeksi bakteri yang berbahaya. Meskipun ketiga hal ini masih dalam proses penelitian yang intensif.

Sebuah penelitian bersama yang dilakukan ITB, IPB, Pelangi Indonesia, dan PMPI yang disponsori ADB malah memperkirakan, bila kondisi Indonesia seperti ini, maka perubahan iklim yang juga akan timbul adalah:

  • Naiknya Permukaan Air Laut. Diprediksi pada tahun 2070 nanti, di Indonesia akan terjadi kenaikan permukaan air laut setinggi 60 cm. Sebuah ancaman bagi penduduk sekitar pantai, karena rumahnya mengalami penggusuran, mata pencaharian sebagai nelayan dan dari sektor wisata akan terancam gelombang pasang. Studi dari Asian Development Bank (ADB) memperkirakan, pada tahun 2070, sekitar 800 ribu rumah akan dipindahkan atau diperbaiki dengan total biaya sekitar 30 biliun rupiah. Fantastis!


  • Krisis Air Bersih di Perkotaan, khususnya Jakarta. Kenaikan permukaan air laut akan memperburuk kondisi air tanah di Jakarta. Analisis topografis menunjukkan bahwa jika kita terus begini maka tahun 2070, Jakarta Utara berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan karena 50 persen penduduknya yang berjumlah 2,3 juta akan merasakan sulitnya mencari air minum. Ini akibat salinisasi persediaan air bersih oleh air laut.


  • Rusaknya Infrastruktur Daerah Tepi Pantai. Diperkirakan ADB, Indonesia akan kehilangan sekitar 100 kilometer jalan dan 5 pelabuhan laut. Disamping harus melakukan rehabilitasi dan peninggian di sekeliling pantai dan semua itu menelan biaya 42 biliun rupiah ditambah dengan kerugian dari sektor pariwisata sebesar 4 biliun rupiah tiap tahunnya.


  • Menurunnya Produktivitas Pertanian. Perubahan suhu dan pola hujan akan mengurangi prtoduksi pertanian. Naiknya curah hujan, akan mempercepat terjadinya erosi tanah, sehingga mengurangi hasil tanaman dataran tinggi. Tanaman kacang kedelai akan turun produksinya sekitar 20-40 persen, padi sekitar 2,5 persen. Dan kerugian yang akan diderita sebesar 23 biliun rupiah.
Peran Masyarakat Sangat Diharapkan

Tampaknya hanya kerugian dan kerugian yang timbul akibat pemanasan global dan perubahan iklim. Menyeramkan memang, kalau semua perkiraan tersebut terjadi di negara Indonesia yang hijau, sejuk, dan indah.

Karena itu, pemerintah melalui Kantor Kementerian Lingkungan Hidup, sudah melakukan langkah-langkah positif mengenai perubahan iklim dan pemanasan global ini. Setelah merativikasi KTT Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Jeneiro, Brazil pada bulan Juni 1992, pemerintah kemudian membentuk Komite Pemantau, Evaluasi, Antisipasi Dampak Perubahan Iklim pada Lingkungan yang dikoordinasikan KLH dengan melibatkan instansi pemerintah dan LSM. Komite ini pun mengeluarkan pokok-pokok pikiran yang tertuang dalam Antisipasi Strategi yang sangat baik sekali bila dijalankan secara benar.

Sebelum memaksa negara lain, terutama negara-negara industri --yang paling banyak mengeluarkan gas rumah kaca-- untuk serius menanggulangi masalah ini, perlu ada kesadaran dari kita untuk memulainya. Meskipun dampak menyeramkan dari perubahan iklim tersebut tidak terjadi besok atau lusa, bukan berarti kita tak harus berbuat apa-apa. Dampak perubahan iklim itu ibarat macan tidur yang siap menerkam kapan saja tanpa terduga.

Strategi-strategi yang dilakukan oleh KLH, LSM dalam maupun negara luar, tak akan pernah efektif bila tak ada peran dari masyarakat. Karena sebenarnya perilaku masyarakat individu serta masyarakat pengusaha dan penghematan energi yang dilakukan akan lebih efektif dibanding apapun.

Tips sederhana namun berdampak cukup besar dari Department of Primary Energy and Industry, Canberra Australia, agaknya dapat kita terapkan, untuk meredam efek rumah kaca:
  1. Penghematan Lampu dan AC
    • Jika ruangan sudah terlalu dingin, kecilkanlah AC
    • Tutuplah pintu ruang-ruang yang tidak terpakai, dan tutuplah pintu dan jendela dalam ruangan ber-AC
    • Matikan lampu dan alat listrik lainnya saat meninggalkan ruangan
    • Gunakanlah lampu kecil yang terfokus ke daerah kerja, seperti untuk membaca, menjahit, menulis, dsb daripada menggunakan lampu besar yang boros.
    • Jika membeli lampu belilah lampu fluorescent atau (Compact Fluorescent Light/CFL). Meski lebih mahal harganya namun bisa menghemat 80 persen dan delapan kali lebih lama dibanding lampu pijar
  2. Penggunaan alat Masak dan Kulkas
    • Gunakan microwave untuk memanaskan. Ini akan mengemat 70 persen dibanding pakai kompor
    • Memasaklah dengan panci dan wejan yang berat dan dasarnya rata karena akan menyerap panas lebih baik dibanding wejan yang ringan lagi melengkung
    • Ceklah selalu kondisi insulator kulkas (karet pada pintu kulkas) dengan menyelipkan selembar kertas.
Pemanasan global dan perubahan iklim jelas tak dapat dianggap enteng. Dampaknya sangat merugikan umat yang bercokol di muka bumi. Dengan melakukan penghematan energi dan mereduksi penggunaan gas rumah kaca, berarti kita telah berperan menyelamatkan dunia, menyelamatkan anak cucu, dan jelas menghemat keuangan. Bisa kan?

LYH / Gaib M Sigit
 
 
Kesehatan Lingkungan Lainnya :
Yuk Tiru, Program Rumah Bebas Asap Rokok di Yogyakarta!
Shisha Tak Lebih Baik dari Rokok
Penyakit Dari Air Tanah
Hargai Sampah untuk Kurangi Dampak Negatif Perubahan Iklim
Stop!...Pencemaran
 
Lihat Arsip Kesehatan Lingkungan
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
 
Comparative Sudy & Umroh Plus - Health Financing And Hospital Finance
Workshop Metode Baru : Perencanaan SDM Rumah Sakit - Gelombang 3
Pelatihan Perawatan Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Di Rumah Sakit
Seminar Nasional X PERSI - Seminar Tahunan IV Patient Safety - Hospital Expo XXIII Tahun 2010
Workshop Di Alam Asri - Keselamatan Pasien Dan Manajemen Risiko Klinis - PERSI - KKPRS - KARS & IMRK
 
 
Kandungan
(dr. Ferry A. Firdaus Mansoer, MM, SpOG.)
Anak
(dr. Rudi Hartono, SpA)
Andrologi
Prof. DR. dr. H. Nukman Moeloek. SpAnd
 
 
  Login
  Berita PERSI
  Teknologi Informasi & Keselamatan Pasien
 
  Berita RS
  RS Lansia Akan Berdiri di Sleman
 
  Manajemen RS
  Waspadai Penggunaan Sarana & Prasarana RS Sebelum Bermasalah Dan Membahayakan
 
  Artikel Gizi Klinis
  KANDUNGAN ENERGI DAN MINERAL PISANG YANG DAHSYAT
 
  Kehumasan RS
  Pasien Harus Tahu Hak-haknya
 
  Artikel IT
  Apa itu Cookies ?
 
 
 
 
 
 
Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi tulisan ini dalam bentuk media apapun tanpa izin tertulis dari pdpersi.co.id


Copyright © 2003  PDPERSI.CO.ID

PUSAT DATA & INFORMASI - PERHIMPUNAN RUMAH SAKIT SELURUH INDONESIA
Alamat: Komplek Sentra Bisnis Artha Gading
Jl. Boulevard Artha Gading Blok A-7A No. 28
Kelapa Gading Jakarta Utara
Telp. 021-45845223, 45845291, 45845303, 45845304   Fax. 021-45845291


BEST VIEWS 1024 x 768 Pix RESOLUTION