Jangan Anggap Enteng Perubahan Iklim
Jumat, 16 Mar 2001 21:59:30
Pdpersi, Jakarta - Andai suatu ketika bumi terasa begitu panas dikala musim hujan, dan
terjadi kekeringan di beberapa daerah tertentu, bisa jadi itu dampak
awal yang paling kecil dari adanya perubahan iklim, yang disebabkan
peningkatan gas rumah kaca.
Menurut kajian yang dilakukan
Intergovermental Panel on Climate
(IPCC) dan
World Climate Programme (WCP) pada bulan Oktober
1990, dampak sebenarnya dari perubahan iklim ini baru terasakan antara
50 hingga 100 tahun kemudian. Namun bukan berarti wacana perubahan
iklim ini dibiarkan dan diendapkan begitu saja.
Sumber yang ditemui
pdpersi.co.id
di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup mengungkapkan, bila penggunaan
gas-gas oleh manusia --termasuk gas rumah kaca-- tidak terkontrol,
bisa jadi dampak perubahan iklim akan lebih cepat dibanding yang
diperkirakan para ahli. Dampaknya pun akan lebih dahsyat dibanding
penipisan lapisan ozon bila tak ditangani dengan baik.
"Perubahan iklim bukanlah sekadar perubahan cuaca dari panas ke dingin
atau sebaliknya. Tapi merupakan berubahnya iklim yang diakibatkan
langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia yang dapat
menyebabkan perubahan serius pada komposisi atmosfir secara global
ataupun sifat alamiah iklim itu sendiri." Begitu kata sumber tersebut
kepada
pdpersi.co.id, Rabu (14/3).
Akibat yang merugikan dari perubahan iklim ialah perubahan terhadap
lingkungan fisik dan biota. Dampaknya, terjadi kerusakan terhadap
komposisi ketahanan atau produktifitas ekosistem alam. Hal ini
berpengaruh sekali terhadap kesejahteraan dan kesehatan manusia.
Efek Rumah Kaca
Menyoal perubahan iklim, tak lepas dari adanya gas rumah kaca (GRK).
Pasalnya, jika konsentrasi GRK kian tinggi, akan terjadi pemanasan
global yang menyebabkan perubahan iklim di muka bumi ini. Gas rumah
kaca sendiri adalah unsur atmosfir yang mengandung gas, baik alami
maupun buatan manusia (antropogenic) yang menyerap dan memancarkan
kembali radiasi inframerah. Seperti, karbon dioksida (CO2), gas metan
(CH4), dinitrogen oksida (N20), chlorofluorocarbon (CFC),
hydrofluorocarbon (HFC), karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx),
dan gas-gas organik non metan yang volatil.

Proses terjadinya perubahan iklim ini, diawali dengan masuknya radiasi
matahari dan terjebaknya radiasi itu di dalam atmosfir, akibat gas
rumah kaca. Sehingga menaikkan suhu di permukaan bumi. Efek
terjebaknya radiasi inilah yang dikenal dengan sebutan Efek Rumah
Kaca.
Secara proporsional, efek rumah kaca berdampak positif karena memberi
kehangatan dan kesempatan hidup berbagai mahluk di bumi ini. Kalau
tidak ada efek rumah kaca, maka suhu rata-rata permukaan bumi bukanlah
15 derajat celcius tapi minus 18 derajat celcius. Namun jika gas-gas
yang membentuk atmosfir --seperti uap air dan GRK-- mengalami
pertambahan secara berlebihan akibat aktivitas manusia, bukan lagi
menghangatkan bumi tapi justru membahayakan bumi dan seluruh isinya.
Bertambahnya GRK di atmosfer, seperti CO2 dari kendaraan bermotor, gas
metan dari lahan pertanian, limbah yang tidak diproses, dan CFC
alias freon dari
hairspray akan menahan lebih banyak radiasi
matahari dari yang dibutuhkan kehidupan di bumi. Maka, akan terjadi
pemanasan global (global warming), yaitu naiknya suhu permukaan bumi.
Gejala ini juga diikuti dengan naiknya suhu air laut, perubahan curah
hujan, perubahan frekuensi dan intensitas badai, dan naiknya tinggi
permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub.
Artinya, perubahan iklim ini ternyata akan menyebabkan perubahan yang
tidak sedikit. Bukan hanya bagi industri pertanian, perikanan,
pariwisata, tetapi bagi kita semua dalam bentuk krisis air bersih,
meningkatnya frekuensi penyakit tertentu, dsb.
Mempengaruhi Kesehatan
Sebagai negara berkembang yang bersifat kepulauan dan terletak di
katulistiwa, Indonesia tak akan lepas dari pengaruh pemanasan global
dan perubahan iklim. Termasuk tentunya masalah kesehatan. Sumber dari
Kantor Kementerian Lingkungan Hidup menyebutkan, dampak kesehatan yang
akan muncul, antara lain meningkatnya frekuensi penyakit yang
ditularkan oleh nyamuk, seperti malaria dan demam berdarah.
Sebuah model analisis penyakit menular menunjukkan bahwa jika
Indonesia terus begini maka kasus malaria akan meningkat. Sementara
kasus demam berdarah akan menjadi empat kali lipat. Bila ini terjadi,
dapat dipastikan kita akan kewalahan mengatasinya.
Diperkirakan juga, selain akan menimbulkan penyakit di atas, ada
kecenderungan perubahan iklim juga akan menyebabkan katarak, kanker
kulit, dan penyakit-penyakit infeksi bakteri yang berbahaya. Meskipun
ketiga hal ini masih dalam proses penelitian yang intensif.
Sebuah penelitian bersama yang dilakukan ITB, IPB, Pelangi Indonesia,
dan PMPI yang disponsori ADB malah memperkirakan, bila kondisi
Indonesia seperti ini, maka perubahan iklim yang juga akan timbul
adalah:
- Naiknya Permukaan Air Laut. Diprediksi pada tahun 2070 nanti, di
Indonesia akan terjadi kenaikan permukaan air laut setinggi 60 cm.
Sebuah ancaman bagi penduduk sekitar pantai, karena rumahnya mengalami
penggusuran, mata pencaharian sebagai nelayan dan dari sektor wisata
akan terancam gelombang pasang. Studi dari Asian Development Bank
(ADB) memperkirakan, pada tahun 2070, sekitar 800 ribu rumah akan
dipindahkan atau diperbaiki dengan total biaya sekitar 30 biliun
rupiah. Fantastis!
- Krisis Air Bersih di Perkotaan, khususnya Jakarta. Kenaikan
permukaan air laut akan memperburuk kondisi air tanah di Jakarta.
Analisis topografis menunjukkan bahwa jika kita terus begini maka
tahun 2070, Jakarta Utara berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan
karena 50 persen penduduknya yang berjumlah 2,3 juta akan merasakan
sulitnya mencari air minum. Ini akibat salinisasi persediaan air
bersih oleh air laut.
- Rusaknya Infrastruktur Daerah Tepi Pantai. Diperkirakan ADB,
Indonesia akan kehilangan sekitar 100 kilometer jalan dan 5 pelabuhan
laut. Disamping harus melakukan rehabilitasi dan peninggian di
sekeliling pantai dan semua itu menelan biaya 42 biliun rupiah
ditambah dengan kerugian dari sektor pariwisata sebesar 4 biliun
rupiah tiap tahunnya.
- Menurunnya Produktivitas Pertanian. Perubahan suhu dan pola hujan
akan mengurangi prtoduksi pertanian. Naiknya curah hujan, akan
mempercepat terjadinya erosi tanah, sehingga mengurangi hasil tanaman
dataran tinggi. Tanaman kacang kedelai akan turun produksinya sekitar
20-40 persen, padi sekitar 2,5 persen. Dan kerugian yang akan diderita
sebesar 23 biliun rupiah.
Peran Masyarakat Sangat Diharapkan

Tampaknya hanya kerugian dan kerugian yang timbul akibat pemanasan
global dan perubahan iklim. Menyeramkan memang, kalau semua perkiraan
tersebut terjadi di negara Indonesia yang hijau, sejuk, dan indah.
Karena itu, pemerintah melalui Kantor Kementerian Lingkungan Hidup,
sudah melakukan langkah-langkah positif mengenai perubahan iklim dan
pemanasan global ini. Setelah merativikasi KTT Lingkungan dan
Pembangunan di Rio de Jeneiro, Brazil pada bulan Juni 1992, pemerintah
kemudian membentuk Komite Pemantau, Evaluasi, Antisipasi Dampak
Perubahan Iklim pada Lingkungan yang dikoordinasikan KLH dengan
melibatkan instansi pemerintah dan LSM. Komite ini pun mengeluarkan
pokok-pokok pikiran yang tertuang dalam Antisipasi Strategi yang
sangat baik sekali bila dijalankan secara benar.
Sebelum memaksa negara lain, terutama negara-negara industri --yang
paling banyak mengeluarkan gas rumah kaca-- untuk serius menanggulangi
masalah ini, perlu ada kesadaran dari kita untuk memulainya. Meskipun
dampak menyeramkan dari perubahan iklim tersebut tidak terjadi besok
atau lusa, bukan berarti kita tak harus berbuat apa-apa. Dampak
perubahan iklim itu ibarat macan tidur yang siap menerkam kapan saja
tanpa terduga.
Strategi-strategi yang dilakukan oleh KLH, LSM dalam maupun negara luar,
tak akan pernah efektif bila tak ada peran dari masyarakat. Karena
sebenarnya perilaku masyarakat individu serta masyarakat pengusaha dan
penghematan energi yang dilakukan akan lebih efektif dibanding apapun.
Tips sederhana namun berdampak cukup besar dari
Department of
Primary Energy and Industry, Canberra Australia, agaknya dapat
kita terapkan, untuk meredam efek rumah kaca:
- Penghematan Lampu dan AC
- Jika ruangan sudah terlalu dingin, kecilkanlah AC
- Tutuplah pintu ruang-ruang yang tidak terpakai, dan tutuplah pintu dan jendela dalam ruangan ber-AC
- Matikan lampu dan alat listrik lainnya saat meninggalkan ruangan
- Gunakanlah lampu kecil yang terfokus ke daerah kerja, seperti untuk membaca, menjahit, menulis, dsb daripada menggunakan lampu besar yang boros.
- Jika membeli lampu belilah lampu fluorescent atau (Compact Fluorescent Light/CFL). Meski lebih mahal harganya namun bisa menghemat 80 persen dan delapan kali lebih lama dibanding lampu pijar
- Penggunaan alat Masak dan Kulkas
- Gunakan microwave untuk memanaskan. Ini akan mengemat 70 persen dibanding pakai kompor
- Memasaklah dengan panci dan wejan yang berat dan dasarnya rata karena akan menyerap panas lebih baik dibanding wejan yang ringan lagi melengkung
- Ceklah selalu kondisi insulator kulkas (karet pada pintu kulkas) dengan menyelipkan selembar kertas.

Pemanasan global dan perubahan iklim jelas tak dapat dianggap enteng.
Dampaknya sangat merugikan umat yang bercokol di muka bumi. Dengan
melakukan penghematan energi dan mereduksi penggunaan gas rumah kaca,
berarti kita telah berperan menyelamatkan dunia, menyelamatkan anak
cucu, dan jelas menghemat keuangan. Bisa kan?
LYH / Gaib M Sigit