Lingkungan Rusak, Gelombang Panas Melanda
Energi Fosil Telan Ribuan Korban di Eropa
Jumat, 09 Dec 2005 19:43:13
Pdpersi, Eropa - Jumlah kasus heat stroke(serangan panas yang terlampau kuat) yang mematikan, infeksi salmonela dan hay fever (demam akibat alergi rumput kering) di seluruh Eropa terus meningkat. Hal itu terkait pemanasan global yang kini makin menghebat. Pemerintah Eropa kini berupaya keras mencegah perubahan iklim yang kian ekstrim.
Demikian pernyataan resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), belum lama ini.
"Semula ilmuwan meyakini pengaruh perubahan iklim terhadap kesehatan baru tampak dalam jangka panjang. Namun, pnelitian menunjukkan beberapa pengaruhnya mulai terlihat sekarang," kata Roberto Bertollini, direktur lingkungan dan kesehatan WHO di Eropa.
"Kita perlu memastikan bahwa kesehatan menjadi pijakan untuk memajukan agenda mengenai perubahan iklim," lanjut Bertolinni, di sela-sela konferensi 189 negara untuk mengatasi pemanasan global.
Negara-negara miskin adalah pihak yang paling dirugikan akibat naiknya suhu rata-rata yang dipicu terperangkapnya emisi panas. Emisi berasal dari pembakaran bahan bakar fosil oleh penduduk bumi.
Temperatur yang lebih panas juga dapat menyebabkan meningkatnya gagal panen dan kekeringan. Kondisi cuaca ekstrim di Eropa mulai terlihat ketika gelombang panas pada 2003 menewaskan 35.000 orang.
"Kami mengimbau kepada mereka yang memiliki kekuatan agar mengambil
langkah-langkah dan mengurangi potensi dampak perubahan iklim pada
kesehatan kita," kata Maira Neira, direktur WHO untuk perlindungan
lingkungan manusia.
Pengaruh manusia terhadap iklim dapat melipatgandakan risiko kematian
akibat gelombang panas di Eropa.
Di Inggris, angka kematian tahunan akibat panas dapat meningkat
menjadi 3.300 kematian pada 2050 dari 800 kematian pada beberapa dekade terakhir.
(iis)