Mengapa WHO Rekomendasikan Industri Rokok Ditutup?
Selasa, 25 May 2004 11:25:13
Pdpersi, Jakarta - Warga miskin adalah korban utama dari industri rokok, pasalnya mereka adalah konsumen utama rokok. Sementara argumentasi yang menyebutkan industri rokok telah membantu petani tembakau pun tidak terbukti. Pasalnya, jasa mereka dibayar sangat rendah dan tidak sebanding dengan resiko kesehatan yang mereka alami ketika berkebun tembakau.
Bagi masyarakat miskin, kecanduan terhadap rokok telah menyebabkan mereka mengalokasikan sebagian besar pendapatnnya untuk rokok. Demikian diserukan Organisasi Kesehatan Internasional (WHO) dalam laporan menyambut hari tanpa tembakau 31 Mei mendatang yang diterima Pusat Data Persi belum lama ini. Inti laporan itu merekomendasikan penutupan industri rokok secara perlahan.
Masyarakat Miskin Menjadi korban Utama
WHO mengatakan hasil penelitian yang dilakukannya memperlihatkan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah adalah konsumen utama rokok. Sebanyak 84% dari total 1,3 trilyun perokok di dunia berasal dari negara dunia ketiga.
Bahkan, di negara maju sekalipun kelompok berpenghasilan paling rendahlah yang menjadi konsumen rokok. Akibatnya, masyarakat miskinlah yang mengalami resiko masalah kesehatan terbesar yang diakibatkan kecanduan rokok.
WHO menyatakan tingkat prosentase perokok yang paling tinggi di dunia adalah Madras, India. Di kawasan berpenduduk miskin itu, konsumen rokok berasal dari kelompok yang paling rendah penghasilannya.
Sementara di Bangladesh, kelompok miskin menghabiskan dana sepuluh kali lipat untuk rokok dibandingkan untuk pendidikan .
Penelitian di tiga provinsi Vietnam menemukan perokok Vietnam menghabiskan uangnya 3,6 kali lebih besar dibanding untuk pendidikan, 2,5 kali lebih besar dibandingkan pengeluaran untuk pakaian, dan 1,9 kali lipat lebih besar dari pada pengeluaran untuk kesehatan.
Di daerah terpencil dan paling miskin di Cina, dana yang dihabiskan untuk rokok mencapai 11% dari total penghasilannya. Sementara di Indonesia kelompok yang paling miskin menggunakan 15% dari uang yang mereka peroleh untuk rokok dan produk-produk tembakau.
Petani Tembakau pun Ikut Dirugikan
Sementara manfaat penanaman tanaman tembakau bagi para petani yang selama ini menjadi argumentasi utama tetap dipertahankannya industri rokok, kini terbantahkan. Manfaat menanam tembakau bagi para petani ternyata tidak signifikan. Penghasilan yang mereka terima sangat sedikit. Belum lagi resiko kesehatan akibat menanam tembakau.
Banyak petani menderita sakit tembakau hujau yaitu penyerapan nikotin dari tembakau segar melalui kulit. Akibatnya, mereka mengalami mual, muntah, tidak stabilnya tekanan darah dan berubah-ubahnya denyut jantung. Belum lagi, resiko penggunaan pestisida pada tanaman tembakau juga menyebabkan berbagai penyakit pada para pekerja diladang.
Perusahaan tembakau juga dituding bersikap tidak adil pada para petani. Pabrik memberlakukan sistem kontrak dengan menyediakan bibit bagi petani serta keperluan penanaman lainnya. Konsekuensinya, mereka harus menjual tembakau sesuai dengan harga yang dipatok perusahaan.
Hal ini membuat posisi petani tembakau menjadi lemah dan hanya bisa pasrah menerima keputusan pabrik rokok.
Di negara penghasil tembakau utama di dunia, para petani mengalami risiko gangguan kesehatan yang lebih tingi dibanding dengan penghasilan yang mereka peroleh. WHO juga menekankan pada pemerintah Cina bahwa negara dengan jumlah penduduk terbesar didunia itu harus mengeluarkan dana sebesar 6,5 trilyun dolar AS setahun untuk berbagai penyakit yang diakibatkan langsung maupun tak langsung dari kebiasaan merokok. Angka itu diperkirakan akan terus meningkat tajam dari waktu ke waktu.Selain itu, diperkirakan tiga juta penduduk Cina akan meninggal akibat merokok pada pertengahan abad ini.
Industri Rokok Rusak Hutan
WHO juga mengindikasikan, negara-negara pengimpor tembakau mengalami kerugian akibatnya rusaknya hutan mereka akibat penanaman tembakau.Kayu-kayu banyak dikorbankan untuk menyembuhkan pohon tembakau yang sakit. Diperkirakan, kegiatan itu telah memicu musnahnya lahan hutan seluas 200 ribu hektar setiap tahunnya.
WHO menegaskan, jika seluruh penduduk dunia menghentikan konsumsi tembakau, maka dana yang selama ini dialokasikan untuk membeli rokok dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang lebih berguna.
Selain itu, pengurangan skala industri tembakau secara perlahan akan memberikan mengurangi resiko yang dialami buruh tani.
WHO mendukung dilakukannya pengawasan ketat bagi industri tembakau. Hal itu direkomendasikan tidak hanya bagi negara maju, namun telah menjadi keharusan bagi semua negara untuk menghentikan jahatnya akibat yang ditimbulkan rokok.
(iis)