Jumat, 3 Sep 2010  
 
 
 
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 

 
 
 
   
 
   
   
 
.:: Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1431 H, Pusat Data PERSI dan Sekretariat PERSI Pusat libur mulai Hari Rabu tanggal 8 September 2010 sampai dengan Rabu tanggal 15 September 2010, masuk pada Hari Kamis tanggal 16 September 2010, Segenap Pengurus Pusat Data PERSI dan PERSI Pusat mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H, Minal Aidzin wal Faidzin - Mohon Maaf Lahir dan Batin ::.
 
dr. KARTONO MOHAMAD (DOKTER PERLU BELAJAR TERUSMENERUS)
Rabu, 4 Jul 2007 09:41:47

Pdpersi, Jakarta - DOKTER PERLU BELAJAR TERUSMENERUS
  1. TERBIASA BERORGANISASI

    Dalam hidup ini, seringkali kita banyak menghadapi pilihan. Begitu pula dengan dr. Kartono Mohamad (53), anak ketujuh dari delapan bersaudara ini. Kartono dilahirkan di Batang, dekat Semarang, Jawa Tengah, 13 Juli 1939. Semula ia bercita-cita menjadi seorang insinyur. “Waktu dulu, saya nggak pernah membayangkan jadi seorang dokter. Sewaktu di SMA (Sekolah Menengah Atas), sebetulnya saya ingin menjadi insinyur,” tutur dr. Kartono.

    Setelah lulus SMA Negeri I Pekalongan, kakak kandung Goenawan Mohamad (Pemimpin Redaksi Majalah Tempo) ini lalu mendaftarkan diri di Fakultas Teknik, Universitas Indonesia (sekarang, Institut Teknologi Bandung), Fakultas Pertanian, Universitas Indonesia (kini Institut Pertanian Bogor), dan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia (FK-UI), dan diterima di ketiga fakultas tersebut. Karena kakaknya bermukim di Jakarta, pada akhirnya Kartono memilih FK-UI. “Paling tidak, problem tempat tinggal bisa teratasi” ujarnya.

    Ketika kuliah, ia aktif di pelbagai organisasi kemahasiswaan. Pada tahun 1962, (anak pasangan Z. Mohamad (berasal dari Kudus, Jateng dengan Rukhayah) duduk sebagai Ketua Senat Mahasiswa FK-UI. Setahun kemudian, ayah satu putra dan tiga putri (satu almarhum) ini menjadi Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DM-UI). Tampaknya, penggemar kolektor mata uang asing dan rupiah ini, memang ditakdirkan untuk aktif berorganisasi. Ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama Negeri I Pekalongan, orang yang pernah mendaki Gunung Dieng, Jateng, ini aktif di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PIT). Bahkan, sempat menjadi sekretaris cabang di pusat batik itu.

    Mungkin pengalaman di masa kecilnya, menyebabkan ia mampu beradaptasi hampir dengan semua orang, dan merupakan aset dari dirinya untuk terampil dalam berorganisasi. Di Batang, Kartono kecil sempat mengecap pendidikan Taman Kanak-kanak. Suasana perang yang terus berkecamuk, menyebabkan Kartono mesti berpindah-pindah Sekolah Dasar. Dari Batang, pindah ke Wonosobo, lalu pindah ke Kudus. “Masa kecil saya berpindah-pindah.” Nah, mungkin pengalaman inilah yang menyebabkan ia tanggap dengan lingkungan.


  2. MEMOLES WAJAH IDI

    Sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia, karirnya di organisasi itu terus menanjak. Setelah menjadi sekretaris, dokter yang pernah praktik di kawasan Tanjung Priok, Jakarta ini, menjadi ketua IDI Cabang Jakarta, priode 1978-1980. Sampai tahun 1982, duduk sebagai ketua Wilayah DKI Jakarta. Selanjutnya, 1982-1985, President Elect (wakil ketua) Pengurus Besar (PB) IDI. Setelah itu, sampai 1988, penulis artikel kesehatan di pelbagai media seperti Higina, Kompas, Sinar Harapan, Femina, Prisma, dan Suara Karya ini, menjabat sebagai Ketua Umum PB IDI.

    Kini Kartono kembali sebagai ketua umum organisasi profesi itu. Kerajinannya menulis artikel kedokteran di pelbagai media, Pemimpin Redaksi Majalah Medika ini menjadi semakin tanggap dengan topik-topik hangat. Ketika meledaknya kasus dr. Gunawan Simon, yang dianggap berpraktik dokterdukun (terkun), ia segera menulis masalah itu di sebuab surat kabar. Waktu itu, ia sebagai Wakil Ketua PB IDI.

    Dalam ilmu kedokteran, tulis Kartono, ada ketentuan atau kaidah dalam mendiagnosa dan mengobati pelbagai jenis penyakit. Dengan mengacu kepada kaidah-kaidah itu, tentunya diperkiraakan akan sulit meleset. Berbeda dengan para dukun. Mereka mendiagnosa penyakit berdasarkan intuisi jadi hasil diagnosa bisa benar dan bisa meleset. Itulah antara lain beda dukun dan dokter.

    Pengalamannya berorganisasi semasa mahasiswa, membuat ia berani memoles wajah IDI. Semula, organisasi profesi itu tak ubahnya organisasi hura-hura. Misalnya, IDI pernah mengadakan kegiatan reli mobil. Tentu saja kegiatan semacam ini tidak mencerminkan sebuah organisasi profesi kedokteran. “Dulu IDI itu suatu organisasi yang tidak bermutu dan tidak bersuara. Ketika kepengurusan saya, saya berusaha bagaimana agar IDI tampil di mata masyarakat. Dengan cara itu, rakyat ataupun pemerintah akan menoleh IDI,” kenang dr. Kartono.

    Banyak cadas tajam yang mesti dilewati dr. Kartono. Sebab, tidak semua anggota IDI setuju dengan idenya. Karena ada sebagian anggota IDI yang takut berbeda pendapat dengan pemerintah. Tentu saja, sikap ini ditampiknya. “Berbeda pendapat boleh saja. Pemerintah ‘kan manusia. Mereka juga punya keterbatasan. Kita saling mengingatkan,” katanya. Selain itu, Kartono, menggagas ide untuk ‘menyatukan’ dokter dengan masyarakat. Sebagai sarjana, dokter itu menikmati gelarnya berkat jasa rakyat. Tanpa jasanya, belum tentu berhasil. “Kita tidak boleh mengisotir diri dan tidak peduli dengan masyarakat.”

    Apa yang diharapkan dr. Kartono, yang juga aktif di PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) ternyata, berhasil. Kini, IDI menjadi sebuah organisasi yang berwibawa dan boleh jadi disegani. Tetapi kini, yang menjadi tugas IDI adalah bagaimana menyadarkan sekitar 28.000 anggota IDI agar mau meningkatkan mutu profesional mereka. “Ke luar, kita sudah mapan. Sekarang, masalahnya justru ke dalam,” tuturnya. Yang IDI bagaimana anggotanya berperilaku etis, profesional, peka terhadap masalah-masalah di sekitarnya, dan meningkatkan mutunya. Itulah sebabnya, kini, kata Kartono, IDI berusaha keras menegakkan profesi, menegakkan kode etik, meningkatkan mutu anggotanya dengan memberikan pendidikan berkelanjutan, mengawasi perilaku etik dokter, dan berusaha meningkatkan kesejahteraan mereka. “Masih banyak yang belum tercapai dalam soal kode etik,” ujarnya serius.

    Kelemahannya, antara lain, menurut anak ketujuh dari delapan bersaudara ini, karena pendidikan etik di fakultas kedokteran sangat diabaikan. Akibatnya, meskipun dokter itu tahu masalah kode etik, tetapi tidak pernah menghayatinya. Mereka hanya hapal dengan rumusan kode etik. Padahal, “Kalau mau mengurangi kasus-kasus negatif, pendidikan kode etik mesti ditingkatkan. Tapi, usul itu belum ditanggapi.”

    Sama halnya dengan kasus aborsi (pengguguran kandungan), malpraktik dan. eutanasia (pasien yang meminta disuntik mati). Malpraktik itu merupakan tindakan akibat kelalaian. Begitu pula dengan aborsi dan eutanasia. “Tidak bisa kita pecahkan dari segi kedokteran saja. Tetapi juga menyangkut masalah hukum, sosial dan sebagainya,” tutur dr. Kartono. Kalau mau mengatasi masalah ini lanjut dr. Kartono mesti melibatkan juga ahli hukum, ahli sosiologi, dan ahli lainnya.


  3. KESEJAHTERAAN DOKTER

    Dibanding dengan sarjana lain, kesejahteraan profesi dokter, tergolong rendah. Bandingkan, dengan insinyur yang bergaji sampai jutaan rupiah. Begitu pula dengan sarjana ekonomi yang bekerja di bank dan sarjana hukum yang jadi pengacara. “Gaji mereka jutaan rupiah. Kalau gaji dokter itu, kecil,” katanya.

    Penghargaan terhadap dokter, menurut ketua umum PB IDI itu, masih tertalu rendah. Padahal, risiko kerjanya cukup berat, dokter berhubungan langsung dengan nyawa manusia. “Salah sedikit dimarahi, tapi dihargai kecil. Masyarakat saja yang tidak konsisten. Belum bisa menghargai nyawanya sendiri,” tutur dr. Kartono yang pernah mengikuti pelatihan dalam Program Perencanaan Manajemen Keluarga oteh IPPF di Dubrovnik, Yugoslavia, 1976. “Justru kita harus memberi penghargaan yang tinggi kepada dokter. Karena dalam bekerja mereka berhubungan langsung dengan manusia,” tambah dr. Kartono.

    Kondisi itulah, antara lain, yang menyebabkan dokter membuka praktik pribadi. Melalui praktik itu, dokter bisa meraih pendapatan yang lebih memuaskan. Di lain pihak, acap timbul tudingan, karena berpraktik, dokter sering dianggap lalai menunaikan tugasnya di Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat). Sehingga dianggap melalaikan pengabdiannya. “Mengapa hanya pengabdian dokter yang dipertanyakan? Mengapa profesi lain, tidak?” tuturnya dengan nada tinggi.

    Akibatnya, memang, kita tidak bisa menyalahkan kalau ada dokter yang memasang tarif yang tinggi, ada yang tarif moderat dan ada juga tarif yang murah. Tetapi, yang paling penting, tingginya tarif selalu mencerminkan mutu dokter itu. “Kadang-kadang ada dokter yang memasang tarif yang tinggi. Tetapi, tingkat mutu profesionalismenya rendah. Hanya pasien saja yang nggak tahu,” ujar Kartono.

    Selain itu, kata Kartono, kita tidak bisa memungkiri bahwa kini ada dokter (tidak untuk semua dokter) yang memanfaatkan teknologi kedokteran yang piawai dalam rangka mengeruk pendapatan. Sebab, di kalangan masyarakat, ada kecenderungan untuk lebih memilih dokter yang banyak menggunakan peralatan canggih. Anggapan masyarakat pemeriksaan dan pengobatan akan lebih jitu bila menggunakan peralatan yang canggih. Sehingga kalau dokter yang hanya menggunakan stetoskop dianggap kuno. Di sinilah, kata penggemar olah raga tenis dan nenang itu, pentingnya dokter bersikap lebih etis dan profesional.

    Masyarakat Indonesia, tidak semuanya berkantong tebal. Untuk itu, dokter perlu memperhatikan pasien, apakah pasiennya tergolong orang kaya atau tidak. Sebab, dokter itu untuk semua orang: kaya ataupun miskin. Seharusnya, “Dokter peka terhadap lingkungan masyarakatnya,” tutur dr. Kartono.

    Sebagai satah satu jalan untuk menstandarisasi biaya kesehatan, maka perlu asuransi kesehatan. Di samping itu, dengan asuransi kesehatan, bisa menolong orang banyak. Sebab orang akan segera mengobati penyakitnya tanpa takut tidak mampu membayar biayanya. “Katau ia tidak punya asuransi kesehatan, dia baru berobat kalau penyakitnya sudah parah,” tutur penggemar fotografi ini. Yang lebih ironis lagi, ia mesti menjual harta bendanya untuk mengobati penyakitnya.


  4. RUMAH SAKIT DAN PUSKESMAS

    Sesungguhnya, tidak tertalu banyak perbedaan antara peranan dan tanggungjawab dokter yang bertugas di Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat), dan di rumah sakit. Tujuan mereka pada dasarnya sama, yaitu bagaimana menyembuhkan sang pasien dari serangan penyakit. Teknik pengobatannya tidak jauh berbeda. Bedanya, dokter yang bertugas di Puskesmas, balai pengobatan ataupun klinik, akan berhadapan pertama kali dengan pasiennya. Di sini, sangat dituntut untuk mengambil keputusan dengan cepat dan tegas. Sebagai dokter barisan pertama (garda depan), “Ia harus menentukan dan mengambil tindakan pertama terhadap pasien yang dihadapi,” katanya.

    Sedangkan dokter yang bertugas di rumah sakit, boleh jadi dinggap sebagai dokter barisan kedua. Fungsi mereka, menerima kiriman dari barisan pertama. Tugasnya, berusaha untuk mengungkapkan penyakit atau masalah yang tidak dapat dipecahkan oleh dokter pada tingkat pertama. Sebab, rumah sakit itu mempunyai fasilitas yang lengkap dan cukup piawai. Berdasarkan konsep itulah, maka pemerintah mewajibkan setiap dokter, setelah lulus terlebih dahulu harus mengabdikan diri sebagai dokter barisan pertama di tingkat Puskesmas, yang tersebar sampai ke pelosok-pelosok. Bagi dokter yang bertugas di luar Jawa, masa baktinya tiga tahun dan yang bertugas di Jawa, masa baktinya lima tahun. Tujuannya, menurut dr. Kartono, untuk memeratakan pelayanan kesehatan di seluruh tanah air.


  5. DOKTER MASA DEPAN

    Banyak persyaratan yang harus dipenuhi seorang dokter profesional. Pertama, ia dipersiapkan sebagai manusia Indonesia yang mengerti masyarakat di sekitarnya. Kedua, tidak menjadi elite dan berdiri di menara gading. Ketiga, siap untuk belajar terus menerus setelah lulus sarjana kedokteran. Dan keempat, ia dididik untuk berperilaku etis dan profesional di dalam menjalankan tugasnya. “Syarat-syarat itu harus dimiliki oleh seorang dokter yang tengolong profesional,” tuturnya. Bukan apa-apa. Saat ini, memang penyakit yang dihadapi seorang dokter, terutama di Indonesia, masih terbatas pada penyakit karena infeksi dan penyakit karena kemiskinan. Seperti kekurangan gizi dan kurangnya menjaga kebersihan. Padahal, di masa mendatang, pola penyakit tentu berubah. Mungkin, yang akan banyak menerpa adalah penyakit-penyakit karena kemajuan zaman. Misalnya kanker dan gangguan jantung.

    Di lain pihak, teknologi kedokteran terus berkembang. Dulu, dokter bekerja dengan fasilitas yang sangat sederhana. Sekarang, di sini, masa peralihan: menggunakan fasilitas yang sederhana dan teknologi yang piawai. Di masa mendatang tentu lebih maju lagi. Oleh sebab itu, menurut dokter Kartono, pendidikan kedokteran itu mestinya berorientasi ke masa depan.

    Sekarang ini, soal gizi tentunya sudah teratasi. Sebab boleh dikatakan tidak ada lagi yang kelaparan. Oleh karena itu, semestinya dokter terus memantau keadaan seperti itu. Di tambah lagi dengan perkembangan ilmu dan teknotogi kedokteran yang semakin pesat. “Dokter tidak boleh hanya puas dengan ijazahnya. Ia dituntut untuk terus belajar. Perkembangan ilmu kedokteran semakin pesat. Apalagi kini, dengan komunikasi yang semakin maju,” tutur dr. Kartono.


  6. KELUARGA

    Lulus Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia tahun 1964, mantan dokter Kifi Irian ini bertugas sebagai dokter Tentara Nasional Angkatan Laut (TNT-AL), sampai tahun 1975. Terakhir, berpangkat mayor. Setelah itu, entah mengapa, ia akhirnya menerbitkan majalah Medika, majalah kedokteran, dan menjabat sebagai Pemimpin Redaksi. Kecuali bertugas di sebuah klinik perusahaan, sejak 1985, dokter ini tidak lagi membuka praktik. Selain dihabiskan menulis buku dan menulis artikel kedokteran, dokter ini lebih aktif berorganisasi.

    Menikah dengan Hatma Wigati Sukirna, asisten Notaris, di Jakarta, 1968. Penggemar musik kiasik ini dikaruniai empat orang anak. Aswita Primaswari, lahir di Malang, 1969, ketika Kartono bertugas sebagai dokter TNI-AL di kota itu. Luky Andrini, lahir di Jakarta, 1970. Nico Anindita, lahir di Jakarta, 1972. Terakhir Windu Kirana, lahir di Jakarta, 1973. Sayang, dari keempat anak itu, satu meninggal dunia.

    Meskipun bukan sebagai dokter spesialis, dr. Kartono mampu mengupas pelbagai ilmu kedokteran. Kegemarannya membaca, telah membawa dokter itu lebih banyak mencurahkan waktunya menulis artikel-artikel kedokteran ketimbang mengobati pasiennya. Melalui artikel, pembacanya akan tahu bagaimana caranya mencegah penyakit. Berbeda dengan dokter praktik, yang mengobati orang yang sudah terkena penyakit.

    Didikan ayahnya yang keras, menyebabkan ia menjadi pelahap buku. Sebelum masuk taman kanak-kanak, ayahnya, Z. Mohamad, sudah mengajarinya membaca huruf Latin dan Arab. Suatu hari, karena bermalas-malasan, ia sempat ditambang di pohon pisang. Berkat pengalaman itulah, dokter yang berkaca mata minus ini rajin membaca buku. Kini, intisani bacaan yang pernah diserapnya, ‘disuntikannya’ kepada kita semua. Kita menjadi tahu, mencegah penyakit itu lebih baik daripada mengobatinya. Salah satu caranya, membaca tulisan Kartono.
 
 
Figur Lainnya :
Dr. Niken Widyahastuti, Mantan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Semarang.
Setelah Penculikan Bayi Itu
PROF. DR. SATYANEGARA, M.D:
Prof. Radja Pingkir Sidabutar Dokter yang suka berangan-angan
dr Mardjo Soebiandono, Sp.B, Ketua Tim Dokter Kepresidenan
Melekat 24 Jam dengan Presiden
Prof. Dr. dr. Armen Mucthar, DAF., DCP., Sp.FK(K)"Usaha-Usaha memperbaiki Penggunaan Antibiotik Profilaksis"
 
Lihat Arsip Figur
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
   
 
 
Comparative Sudy & Umroh Plus - Health Financing And Hospital Finance
Workshop Metode Baru : Perencanaan SDM Rumah Sakit - Gelombang 3
Pelatihan Perawatan Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Di Rumah Sakit
Seminar Nasional X PERSI - Seminar Tahunan IV Patient Safety - Hospital Expo XXIII Tahun 2010
Workshop Di Alam Asri - Keselamatan Pasien Dan Manajemen Risiko Klinis - PERSI - KKPRS - KARS & IMRK
 
 
Kandungan
(dr. Ferry A. Firdaus Mansoer, MM, SpOG.)
Anak
(dr. Rudi Hartono, SpA)
Andrologi
Prof. DR. dr. H. Nukman Moeloek. SpAnd
 
 
  Login
  Berita PERSI
  Teknologi Informasi & Keselamatan Pasien
 
  Berita RS
  RS Lansia Akan Berdiri di Sleman
 
  Manajemen RS
  Waspadai Penggunaan Sarana & Prasarana RS Sebelum Bermasalah Dan Membahayakan
 
  Artikel Gizi Klinis
  KANDUNGAN ENERGI DAN MINERAL PISANG YANG DAHSYAT
 
  Kehumasan RS
  Pasien Harus Tahu Hak-haknya
 
  Artikel IT
  Apa itu Cookies ?
 
 
 
 
 
 
Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi tulisan ini dalam bentuk media apapun tanpa izin tertulis dari pdpersi.co.id


Copyright © 2003  PDPERSI.CO.ID

PUSAT DATA & INFORMASI - PERHIMPUNAN RUMAH SAKIT SELURUH INDONESIA
Alamat: Komplek Sentra Bisnis Artha Gading
Jl. Boulevard Artha Gading Blok A-7A No. 28
Kelapa Gading Jakarta Utara
Telp. 021-45845223, 45845291, 45845303, 45845304   Fax. 021-45845291


BEST VIEWS 1024 x 768 Pix RESOLUTION