Artikel

Artikel Terbaru

Waspadai Mimisan yang Berulang

Friday 11 August 2017
Jangan sepelekan apabila keluhan mimisan sering terjadi pada orang tercinta Anda. Alangkah baiknya, segera melakukan pemeriksaan ke dokter keluarga apabila keluhan ini sering terjadi. Anda sering mendengar kanker nasofaring kan? Yuk kita kenali apa itu kanker nasofaring.

Cegah Makan Berlebihan Dengan Mengelola Emosi Negatif

Monday 07 September 2015
Seringkali ketika kita merasa bosan, jenuh, tidak nyaman, marah, atau stress, apa yang kita lakukan? Makan! Banyak orang makan dengan berbagai alasan walaupun mereka tidak lapar, salah satunya dipengaruhi oleh emosi (perasaan). Memang makan adalah suatu hal kompleks yang bisa dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.

Demensia

Wednesday 29 July 2015
Sesungguhnya demensia dapat pula disebabkan oleh suatu kelainan atau penyakit pada otak yang perlu mendapat penanganan dari dokter. Oleh karena itu, setiap pribadi berusia lanjut yang menunjukkan gejala pikun ada baiknya untuk secepatnya berobat, agar kepikunannya tidak bertambah parah.
18/07/2012 10:58:53 AM

Pneumonia Pada Anak : UNICEF dan WHO menyebutkan pneumonia sebagai penyebab kematian tertinggi anak balita

By pdpersi.co.id

Surabaya - Pneumonia sebenarnya bukan penyakit baru. Tahun 1936 pneumonia menjadi penyebab kematian nomor satu di Amerika. Penggunaan antibiotik, membuat penyakit ini bisa dikontrol beberapa tahun kemudian. Namun pada ahun 2000, kombinasi pneumonia dan influenza kembali merajalela.

Di Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah kardiovaskuler dan TBC. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian. Kasus pneumonia ditemukan paling banyak meyerang anak balita. Menurut laporan WHO, sekitar 800.000 hingga 1 juta anak meninggal dunia taiap tahun akibat pneumonia. Bahkan UNICEF dan WHO menyebutkan pneumonia sebagai kematian tertinggi anak balita, melebihi penyakit-penyakit lain seperti campak, malaria serta AIDS.

Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan paru-paru meradang. Kantong-kantong udara dalam paru yang disebut alveolidipenuhi nanah dan cairan sehingga kemampuan menyerap oksigen menjadi berkurang. Kekurangan oksigen membuat sel-sel tubuh tidak bisa bekerja.

Karena inilah, selain penyebaran infeksi ke seluru tubuh, penderita pneumonia bisa meninggal. Sebenarnya pneumonia bukanlah penyakit tunggal. Penyebabnya bisa bermacam-macam dan diketahui ada 30 sumber inefksi dengan sumber utama bakteri, virus, mikroplasma, jamur, berbagai senyawa kimia maupun partikel.

Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus ( biasanya siebut bronchopneumonia). Gejala penyakit ini berupa napas cepat dan napas sesak, karean paru meradang secara mendadak. Batas napas cepat adalah frekuensi pernapasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang 1 tahun, dan 40 kali per menit atau lebih pada usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pada anak dibawah usia 2 bulan, tidak dikenal diagnosis pneumonia.

Pneumonia berat ditandai dengan adanya batuk atau (juga disertai) kesukaran bernapas, napas sesak atau penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam pada anak usia 2 bulan sampai anak usia kurang dari 5 tahun. Pada kelompok usia ini dikenal juga pneumonia sangat berat dengan gejala batuk, kesukaran bernapas disertai gejala sianosis sentral dan tidak dapat minum. Sementara untuk anak di bawah 2 bulan, pneumonia berat ditandai dengan frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih atau (juga disertai) penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah.

Perbedaan yang mendasar antara pneumonia dan TBC terletak pada jenis mikroorganisme yang menginfeksi. Pneumonia yang ada di masyarakat umumnya, disebabkan oleh bakteri, virus, atau mikoplasma (bentuk peralihan antara bakteri dan virus), bakteri yang umum adalah streptococcus Pnemoniae, Staphylococcus Aureus, Klebsiella sp, Pseudomonas sp.

Sedangkan yang disebabkan virus, misalnya virus influensa. Pada TBC, jenis mikroorganisme yang menginfeksinya adalah mikrobakterium tuberculosis. Balita rentanterken penyakit pneumonia, umumnya dikerenakan lemahnya atau belum sempurnanya sistem kekebalan tubuh mereka. Oleh sebab itu, mikroorganisme atau kuman lebih mudah menembus pertahanan tubuh.

Jenis bakteri Pneumococcus atau pneumokok belakangan semakin populer seiring dengan dikenalnya jenis penyakit Invasive Pneumococcal Disease (IPD). Selain pneumonia, yang termasuk IPD adalah radang selaput otak (meningitis) atau infeksi darah (bakteremia). Pada pneumonia yang disebabkan oleh bakteri pneumokok, kerap menimbulkan komplikasi dan mengakibatkan penderita juga terkena meningitis atau bakteremia.

Bakteri pneumokok ini dapat masuk melalui infeksi pada daerah mulut dan tenggorokan, menembus jaringan mukosa lalu masuk ke pembuluh darah, mengikuti aliran darah sapai ke paru-paru dan selaput otak. “Akibatnya, timbul peradanganpada paru dan dan daerah selaput otak.

Gejala khususnya adalah demam, sesak napas, napas dan nadi cepat, dahak berwarna kehijauan atau seperti karet, serta gambaran hasil ronsen memperlihatkan kepadatan pada bagian paru. Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi sel radang dan cairan yang sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk mematikan kuman. Tapi akibatnya fungsi paru terganggu, penderita mengalami kesulitan bernapas, karena tak tersisa ruang untuk oksigen.

Namun, gejala awalnya yang tergolong sederhana seringkali membuat orang tua kurang waspada terhadap penyakit ini. Orang tua sering datang terlambat membawa anaknya ke dokter. Karena gejala awal panas dan batuk, orang tua sring mengobati sendiri di rumah dengan obat biasa, bila sudah sesak baru dibawa ke dokter. Sebaiknya bila anak mengalami panas tinggi dan batuk, segeralah dibawa ke dokter untuk dicari tahu penyebabnya.

Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis pneumonia dilakukan dengan berbagai cara. Pertama dengan pemeriksaan fisik secra umum. Setelah itu ada pula pemeriksaan penunjang seperti rontgen paru dan pemeriksaan darah. Penanganan pneumonia pun dapat dilakukan dengan berbagai cara. Umumya pengobatan dengan pemberian antibiotik. Penderita pneumonia dapat sembuh bila diberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis kumannya, hanya saja memerlukan dosis yang tinggi dan waktu yang lama
.
Namun, bakteri Streptococcus pneumoniae mulai resisten atau kebal terhadap beberapa jenis antibiotik. Bahkan kawasan Asia dinyatakan sebagai hot zone, yakni daerah dengan tingkat resistensi tinggi untuk bakteri pneumokok. Oleh sebab itu apabila pneumonia yang dialami cukup parah, penanganannya juga dilakukan dengan cara opname. Dengan perawatan khusus di rumah sakit, pasien bisa mendapatkan istirahat dan pengobatan yang lebih intensif, atau bahkan terapi oksigen sebagai penunjang. Selain itu penderita pneumonia juga membutuhkan banyak cairan untuk mencegahnya dari dehidrasi. Cairan ini bisa diperoleh dengan cara minum air putih melalui infus.

Untuk pneumonia oleh virus sampai saat ini belum ada panduan khusus, meski bebrapa obat antivirus telah digunakan. Kebanyakan pasien juga bisa diobati di rumah. Biasanya dokter yang menangani pneumonia akan memilihkan obat sesuai pertimbangan masing-masing, setelah suhu pasien kembali normal, dokter akan menginstruksikan pengobatan lanjutan untuk mencegah kekambuhan dikarenakan serangan berikutnya bisa lebih berat dibanding yang pertama. Selain antibotka, pasien juga akan mendapat pengobatan tambahan berupa pengaturan pola makan dan oksigen untuk meningkatkan jumlah oksigen dalam darah.
Pada beberapa kasus, pneumonia yang sudah mengalami komplikasi tersebut bisa meninggalka efek samping. Anak dapat mengalami berbagai efek samping seperti gangguan kecerdasan, gangguan perkembangan motorik, gangguan pendengaran dan keterlambatan berbicara. Walaupun demikian, anak dengan pneumonia juga bisa sembuh total dan hidup dengan normal.

Pencegahan
Penanggulangan penyakit pneumonia menjadi fokus kegiatan program P2ISPA (Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Program ini mengupayakan agar istilah pneumonia lebih dikenal masyarakat, sehingga mumudahkan kegiatan penyuluhan dan penyebaran informasi tentang penanggulannya Program P2ISPA mengklasifikasi penderita ke dalam 2 kelompok usia. Yaitu, usai di bawah 2 bulan (Pneumonia Berat atau Bukan Pneumonia) dan usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun.

Klasifikasi Bukan Pneunomia mencakup kelompok balita penderita batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Penyakit ISPA diluar pneumonia ini antara lain batuk-pilek biasa, pharyngitis, tonsilitis dan otitis. Ungkapan klasik bahwa “mencegah lebih baik daripada mengobati” benar-benar relevan dengan penyakit pneumonia ini. Mengingat pengobatannya semakin sulit, terutama terkait dengan meningkatnya resistensi bakteri pneumokolus, maka tindakan pencegahan sangatlah dianjurkan.

Pencegahan penyakit IPD, termasuk pneumonia, dapat dilakukan dengan cara vaksinasi pneumokokus atau sering juga disebut sebagai vaksin IPD. Peluang mencegah Pneumonia dengan vaksin IPD adalah sekitar 80-90%.

Adapun mengenai waktu ideal pemberian vaksin IPD, adalah sebanyak 4 kali, yakni pada saat bayi berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan dan diulang lagi pada usai 12 bulan. Vaksin itu aman  dan dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lain seperti Hib, MMR maupun Hepatitis B.
Selain imunisasi, pencegahan pneumonia dengan menjaga keseimbangan nutrisi anak dan mengupayakan agar anak memiliki daya tahan tubuh yang baik, antara lain dengan cara istirahat yang cukup juga olahraga.

Pneumonia oleh Bakteri
Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siap sajadari bayi sampai usia lanjut. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah Streptococcus pneumonia sudah ada di kerongkongan manusia sehat. Begitu pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua, atau malnutrisi, bakteri segera memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan. Seluruh jaringan paru dipenuhi cairan dan infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah.

Pasien yang terinfeksi pneumonia akan panas tinggi, berkeringat, napas terengah-engah, dan denyut jantungnya meningkat cepat.Bibir dan kuku mungkin membiru karena tubuh kekurangan oksigen. Pada kasus yang ekstrem, pasien akan mengigil, gigi bergemeletuk, sakit dada, dan kalau batuk mengeluarkan lendir berwarna hijau. Sebelum terlambat, penyakit ini masih bisa diobati. Bahkan untuk pencegahanvaksinnya pun sudah tersedia.

Pneumonia oleh Virus
Setengah dari kejadian pneuimonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Saat ini makin banyak saja virus yang berhasil diidentifikasi. Meski virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas terutama pada anak-anak gangguan ini bisa memicu pneumonia. Untunglah, sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat.
Namun, bila infeksi terjadi bersamaan dengan virus influenza, gangguan bisa berat dan kadang menyebabkan kematian. Virus yang menginfeksi paru akan berkembang biak walaupun tak terlihat jaringan paru dipenuhi cairan. Gejala pneumonia oleh virus sama saja dengan influenza yaitu demam, batuk kering, sakit kepala, ngilu di seluruh tubuh. Dan letih lesu selam 12-136 jam, napas menjadi sesak, batuk makin hebat dan menghasilkan sejumlah lendir. Demam tinggi kadang membuat bibir menjadi biru.

Pneumonia Mikoplasma
Pneumonia jenis ini berbeda gejala dan tanda-tanda fisiknya bila dibandingkan dengan pneumonia pada umumnya. Karena itu, pneumonia yang diduga disebabkan oleh virus yang belum ditemukan ini sering juga disebut pneumonia yang tidak tipikal (Atypical Pneumonia). Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun bakteri, meski mamiliki karakteristik keduanya. Pneumonia yang dihasilkan biasanya berderajat ringan dan tersebar luas. Mikoplasma menyerang segala usia. Tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia muda. Angka kematian sangat rendah, bahkan juga pada yang tidak diobati.
 
Gejala yang paling sering adalah batuk berat, namun dengan sedikit lendir. Demam dan menggigil hanya muncul di awal, dan pada beberapa pasien bisa mual dan muntah. Rasa lemah baru hilang dalam waktu lama.

Pneumonia Jenis Lain
Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii pnumonia (PCP) yang diduga disebabkan oleh jamur, PCP biasanya menjadi tanda awal serangan penyakit pada pengidap HIV/AIDS. PCP bisa diobati pada banyak kasus. Bisa saja penyakit ini muncul lagi beberapa bulan kemudian, namun pengobatan yang baik akan mencegah atau menundah kekambuhan. Pneumonia lain yang lebih jarang disebabkan oleh masuknya makanan, cairan,gas,debu maupun jamur. Rickettsia juga masuk golongan antara virus dan bakteri menyebabkan demam Rocky Mountain, demam Q, tipus, dan psittacosis. Penyakit-penyakit ini juga mengganggu fungsi paru, namun pneumonia tuberkolosis alias TBC adalah infeksi paru paling berbahaya kecuali diobati sejak dini.

Penyebab Pneumonia Pada Anak
Dalam banyak penelitian menyebutkan bahwa pneumonia pada anak disebabkan oleh dua jenis bakteri, yaitu: Haemophilus Influenzae tipe B (Hib) dan Streptococcus pneumoniae. Kedua bakteri ini juga dapat menyebabkan meningitis akut (infeksi pada selaput yang menutupi otak) pada anak-anak.

Selain kesulitan dalam bernapas, batuk rejan merupakan salah satu gejala umum pada anak ketika ia terkena pnemonia. Pneunomia dapat diobati secara efektif dengan antibiotik. Namun dalam kasus pneumonia yang lebih lanjut, pengobatan bisa dilakukan melalui metode sinar-X. Pneumonia dapat dicegah dengan beberapa cara, seperti:
  1. Memberikan ASI ekslusif selama enam bulan pertama, hal tersebut merupakan langkah penting untuk memastikan bayi anda mendapatkan gizi yang cukup serta membangun kekebalan alami terhadap bakteri maupun virus.
  2. Memberikan vaksin yang disarankan oleh dokter dalam satu tahun pertama kelahiran.
  3. Menjaga kebersihan lingkungan.
  4. Membiasakan anak untuk hidup sehat seperti tidak jajan sembarangan dan mencuci tangan sebelum makan.

Source : The green Darmo Hospital Magazine Edisi : Juli - September 2012

CONTACT US

  • Crown Palace Blok E/6, Jl. Prof Soepomo SH No.231, Tebet, Jakarta Selatan - 12870
  • +6221 8378 2901-02
  • +6221 8378 2902