Cakrawala

Berita Terbaru

RSAL dr Ramelan Ditargetkan Jadi Pusat Bionic Hand

Thursday 27 August 2015
Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) dr Ramelan Surabaya diproyeksikan menjadi pusat penanganan bionic hand atau tangan robot untuk prajurit yang kehilangan tangan atau kaki.

Jantung Koroner, Kanker, Stroke dan Diabetes Mengintai Negara ASEAN

Thursday 27 August 2015
Negara-negara berkembang menghadapi beban ganda, penyakit menular sekaligus tidak menular yang sebagian besar diakibatkan oleh perubahan gaya hidup masyarakat. Bila tidak dikendalikan,  angka kematian akibat penyakit tidak menular (PTM) diperkirakan dapat terus meningkat.

Balai Pengobatan Haji Indonesia di Mekah Upayakan Akreditasi JCI

Tuesday 25 August 2015
Pada 7 September mendatang, Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) di Mekah, Arab Saudi, akan mendatangkan tim ahli dari Jakarta yang akan membantu fasilitas yang dioperasikan pemerintah Indonesia itu memenuhi standar yang ditetapkan lembaga akreditasi fasilitas kesehatan internasional Joint Commission International (JCI).
27/02/2012 11:30:21 PM

Hasil Survei: Masyarakat Masih Mendiskriminasi Penderita Kusta

Jakarta - Hasil survei menunjukkan bahwa orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) di Indonesia masih didiskriminasi dalam kehidupan sosialnya. Bentuk-bentuk diskriminasi itu misalnya penolakan di sekolah, di tempat kerja, serta dalam mendapatkan pekerjaan. Yang lebih memprihatinkan lagi, OYPMK juga ditolak ketika mengajukan layanan kesehatan.

Kesimpulan itu mengemuka dari Hasil Survei tentang Situasi Stigma dan Diskriminasi terhadap OYPMK di lima kabupaten dan hasil Penelitian Mengenai Pemenuhan dan Perlindungan Hak OYPMK dan Keluarga Mereka yang dilakukan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Sebab itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih berharap agar masyarakat tidak mendiskriminasi penderita kusta dan sebaliknya membantu untuk melakukan deteksi dini karena penyakit tersebut bisa disembuhkan.

“Saya melarang perlakuan diskriminatif kepada orang yang pernah mengalami kusta di tanah air dengan alasan apapun. Orang yang pernah mengalami kusta berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang sama seperti penduduk lainnya baik itu di Puskesmas, rumah sakit atau fasilitas kesehatan apapun di wilayah Republik Indonesia,” ujar Menkes dalam rangka peringatan Hari Kusta Sedunia ke-59 di Kementerian Kesehatan Jakarta, Senin.

Dalam peringatan Hari Kusta Sedunia itu, Menteri Kesehatan bersama 11 organisasi profesi yaitu IDI, Perdoski, Perdosri, IPNI, IBI, PREI, ARVI, Arsada, IAKMI, AIPKI serta dua fakultas kedokteran yakni FKUI dan FK Atmajaya dan WHO Indonesia menandatangani Piagam Seruan Nasional Mengatasi Kusta.

Menurut Menkes, masyarakat juga perlu dibangun kesadarannya dalam penanggulangan kasus kusta antara lain dengan mengenali penyakit itu dan mendorong untuk berobat sedini mungkin. Sebab, penyakit ini awalnya tidak langsung cacat, cuma muncul bercak putih di kulit.

“Jika segera dibawa berobat maka dapat cepat disembuhkan, tidak menjadi cacat. Semakin dini diobati, akan semakin cepat sembuhnya," ujar Menkes.

Peringatan Hari Kusta Sedunia tahun 2012 mengangkat tema ‘Berdayakan orang yang pernah mengalami kusta agar mandiri’ serta dua subtema yaitu ‘Mari dukung orang yang pernah mengalami kusta agar menjadi sehat dan sejahtera’ serta ‘Hapus diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta dalam layanan publik.

“Untuk membantu menghapus stigma dan diskriminasi terhadap mantan penderita kusta, petugas kesehatan perlu memberikan surat rekomendasi mengenai kondisi pasien,” tuturnya.

Indonesia saat ada di posisi ketiga setelah India dan Brazil. Sulitnya memberantas tuntas penyakit ini tidak terlepas dari kondisi iklim tropis di Indonesia. "Jadi beban penyakit kusta di Indonesia masih tinggi. Jumlah kasus yang ditemukan masih relatif banyak dan kecacatan yang diakibatkannya masih sering terjadi," kata Menkes. Saat ini, penderita kusta di Indonesia sekitar 120 ribu orang.
(IZN - pdpersi.co.id)

CONTACT US

  • Crown Palace Blok E/6, Jl. Prof Soepomo SH No.231, Tebet, Jakarta Selatan - 12870
  • +6221 8378 2901-02
  • +6221 8378 2902