Cakrawala

Berita Terbaru

Indonesia Masih Bebas MERS-CoV

Thursday 02 July 2015
Hingga kini Indonesia masih bebas MERS-CoV. Pasien berkewarganegaraan Cina, berinisial L, 37, yang dirawat di RSUD dr. Soetomo Surabaya, teknisi mesin kapal yang berangkat dari China menuju Indonesia dan tiba di Bandara Juanda, Surabaya, tidak memenuhi kriteria sebagai suspek dan memiliki risiko rendah terinfeksi.

Direktur RSKO: Demi Sensasi, Pecandu Tak Sadar Terus Mendekati Mati

Tuesday 30 June 2015
Pecandu obat terlarang jenis penenang dan narkoba pada dasarnya memiliki gangguan jiwa.  Namun, mayoritas para pecandu tidak menyadari gangguan psikiatri tersebut karena tertutupi oleh sensasi yang ditimbulkan konsumsi zat terlarang tersebut. Para pecandu dihimbau segera berkonsultasi dengan dokter untuk mengatasi masalah fisik dan psikisnya.

Jangan Tergoda Harga Murah, Lensa Kontak Ilegal Sangat Berbahaya

Tuesday 30 June 2015
Masyarakat diminta mewaspadai lensa kontak ilegal berbahaya. Tim Inspeksi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementrian Kesehatan, baru-baru ini melakukan penindakan pada sebuah lokasi di Jakarta Pusat yang dianggap menjadi sumber peredaran lensa kontak ilegal ke seluruh Indonesia.
24/04/2012 09:29:00 PM

Pemerintah Gratiskan Obat Malaria Jenis Baru

Jakarta - Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk tidak lagi mengkonsumsi obat-obatan malaria yang dijual bebas tanpa konsultasi dengan petugas kesehatan. Sebab, kebiasaan itu akan membuat penyakit malaria menjadi resisten terhadap obat. Selain itu, pemerintah sudah mengratiskan obat malaria untuk jenis baru yaitu Artemisinin based Combination Therapy (ACT) di Puskesmas dan Rumah Sakit (RS) pemerintah.

“Penyakit malaria kini menghadapi permasalahan baru terkait mulai munculnya resistensi terhadap obat malaria tertentu,” ujar Direktur Penyakit Bersumber Binatang Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Rita Kusriastuti dalam press briefing memperingati Hari Malaria Sedunia di Jakarta, Selasa.

Rita juga meminta masyarakat untuk tidak mengonsumsi obat-obat malaria yang lama karena sudah ada gejala resistensi. “Sekarang kita menggunakan obat baru, Artemisinin based Combination Therapy (ACT) yang pemberiannya harus dilakukan dokter dengan dikonfirmasi oleh laboratorium,” papar dia.

Menurut Rita, resistensi terhadap obat merupakan permasalahan baru yang muncul terkait penyakit malaria yang masih mengancam hingga setengah penduduk dunia dan menjangkiti 216 juta orang per tahunnya.

“Dengan menggunakan ACT atas rekomendasi dokter dan dosis yang tepat, penyakit malaria diharapkan untuk dapat ditangani secepatnya dan menghindarkan kematian yang masih terjadi hingga 655 ribu orang tiap tahunnya,” ujar dia.

Menurut Rita, jumlah penderita malaria di Indonesia sebenarnya tidak terlalu banyak dibandingkan dengan negara-negara Afrika. Jumlah pasien malaria tahun 2011 tercatat sebanyak 256.592 orang dengan jumlah kematian 388 orang, menurun dari 2010 yang berjumlah 432 kematian.

Pemerintah menargetkan untuk melakukan pengurangan atau eliminasi malaria mulai tahun 2015 di beberapa pulau dan tahun 2030 untuk eliminasi malaria total di seluruh Indonesia.

Secara rinci, pada tahun 2015 diharapkan eliminasi malaria dapat dilakukan di Pulau Jawa, Provinsi Aceh, dan Kepri sedangkan eliminasi tahun 2020 ditargetkan dilakukan di Pulau Sumatera, Provinsi NTB, Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi serta tahun 2030 di Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, NTT dan Maluku Utara.

Sementara itu, Director CDC Unicef William Hawley menjelaskan, di Indonesia ada sekitar 25 spesies nyamuk anopheles yang menyebarkan malaria, dibandingkan dengan Afrika yang hanya memiliki dua jenis spesies. Tiap spesies punya cara masing-masing untuk menularkan malaria dan punya perilaku khusus.

“Yang berbahaya adalah nyamuk yang makan darah manusia dan memiliki siklus hidup yang panjang, lebih dari 10 hari," kata William.
(IZN - pdpersi.co.id)

CONTACT US

  • Crown Palace Blok E/6, Jl. Prof Soepomo SH No.231, Tebet, Jakarta Selatan - 12870
  • +6221 8378 2901-02
  • +6221 8378 2902