Cakrawala

Berita Terbaru

Sibuk Eksis di Sosmed, Relasi Manusia Kian Lemah

Thursday 11 February 2016
Rajin menggunakan gadget untuk media, kualitas hubungan antarmanusia justru menurun. Kondisi itu patut diwaspadai masyarakat Indonesia karena penduduk negeri ini tercatat memiliki tingkat penggunaan gadget atau smartphone yang tinggi, rata-rata tiga jam per hari. Porsi penggunaan terbesarnya adalah untuk media sosial.

Disangka Demam Biasa, Padahal DBD, Lima Balita Tewas

Thursday 11 February 2016
Disangka hanya demam biasa, lima balita di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, meninggal dunia karena demam berdarah dengue (DBD) yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti.  

Waspadai Siklus KLB DBD Lima Tahunan!

Wednesday 10 February 2016
Masyarakat diminta mewaspadai siklus kejadian luar biasa (KLB) berjangkitnya demam berdarah dengue (DBD) yang siklusnya terjadi lima tahunan. Siklus itu terjadi pada 2011 sehingga KLB DBD diperkirakan terjadi pada 2015, namun karena kasus kabut asap maka KLB DBD itu dikuatirkan terjadi pada 2016.
24/04/2012 09:29:00 PM

Pemerintah Gratiskan Obat Malaria Jenis Baru

Jakarta - Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk tidak lagi mengkonsumsi obat-obatan malaria yang dijual bebas tanpa konsultasi dengan petugas kesehatan. Sebab, kebiasaan itu akan membuat penyakit malaria menjadi resisten terhadap obat. Selain itu, pemerintah sudah mengratiskan obat malaria untuk jenis baru yaitu Artemisinin based Combination Therapy (ACT) di Puskesmas dan Rumah Sakit (RS) pemerintah.

“Penyakit malaria kini menghadapi permasalahan baru terkait mulai munculnya resistensi terhadap obat malaria tertentu,” ujar Direktur Penyakit Bersumber Binatang Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Rita Kusriastuti dalam press briefing memperingati Hari Malaria Sedunia di Jakarta, Selasa.

Rita juga meminta masyarakat untuk tidak mengonsumsi obat-obat malaria yang lama karena sudah ada gejala resistensi. “Sekarang kita menggunakan obat baru, Artemisinin based Combination Therapy (ACT) yang pemberiannya harus dilakukan dokter dengan dikonfirmasi oleh laboratorium,” papar dia.

Menurut Rita, resistensi terhadap obat merupakan permasalahan baru yang muncul terkait penyakit malaria yang masih mengancam hingga setengah penduduk dunia dan menjangkiti 216 juta orang per tahunnya.

“Dengan menggunakan ACT atas rekomendasi dokter dan dosis yang tepat, penyakit malaria diharapkan untuk dapat ditangani secepatnya dan menghindarkan kematian yang masih terjadi hingga 655 ribu orang tiap tahunnya,” ujar dia.

Menurut Rita, jumlah penderita malaria di Indonesia sebenarnya tidak terlalu banyak dibandingkan dengan negara-negara Afrika. Jumlah pasien malaria tahun 2011 tercatat sebanyak 256.592 orang dengan jumlah kematian 388 orang, menurun dari 2010 yang berjumlah 432 kematian.

Pemerintah menargetkan untuk melakukan pengurangan atau eliminasi malaria mulai tahun 2015 di beberapa pulau dan tahun 2030 untuk eliminasi malaria total di seluruh Indonesia.

Secara rinci, pada tahun 2015 diharapkan eliminasi malaria dapat dilakukan di Pulau Jawa, Provinsi Aceh, dan Kepri sedangkan eliminasi tahun 2020 ditargetkan dilakukan di Pulau Sumatera, Provinsi NTB, Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi serta tahun 2030 di Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, NTT dan Maluku Utara.

Sementara itu, Director CDC Unicef William Hawley menjelaskan, di Indonesia ada sekitar 25 spesies nyamuk anopheles yang menyebarkan malaria, dibandingkan dengan Afrika yang hanya memiliki dua jenis spesies. Tiap spesies punya cara masing-masing untuk menularkan malaria dan punya perilaku khusus.

“Yang berbahaya adalah nyamuk yang makan darah manusia dan memiliki siklus hidup yang panjang, lebih dari 10 hari," kata William.
(IZN - pdpersi.co.id)

CONTACT US

  • Crown Palace Blok E/6, Jl. Prof Soepomo SH No.231, Tebet, Jakarta Selatan - 12870
  • +6221 8378 2901-02
  • +6221 8378 2902