Cakrawala

Berita Terbaru

RS Pondok Indah Klaim Jadi Digital Hospital Pertama

Thursday 18 December 2014
Kelompok Rumah Sakit (RS) Pondok Indah mengklaim pihaknya menjadi digital hospital atau RS digital pertama di Indonesia. Sistem digital diimplementasikan menyeluruh, dalam administrasi pasien, layanan klinis dan penunjang medis.

Di Semarang, Tanpa Rujukan Warga Miskin Bisa Berobat ke RS

Wednesday 17 December 2014
Kartu Semarang Sehat (KSS) memungkinkan warga kota itu berobat ke rumah sakit (RS), termasuk untuk dirawat inap, tanpa harus membawa surat rujukan.

2015, RSUD Mataram Jadi Care Support and Treatment HIV/AIDS

Wednesday 17 December 2014
Pada 2015, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram akan menjadi RS Care Support and Treatment (CST) untuk penanganan kasus HIV/AIDS. Surat keputusan (SK) dari Kementerian Kesehatan terkait program itu sudah diterima pada 2013, dan persiapan telah dilakukan pada 2014.
10/09/2012 09:41:46 AM

50% Ibu Hamil di Indonesia Mengalami Anemia

Jakarta - Kondisi kesehatan gizi ibu hamil sangat penting karena sangat berpengaruh terhadap status kesehatan bayi yang akan dilahirkan. Salah satu kondisi yang paling sering diderita ibu hamil adalah anemia. Sakit ini sering kali gejalanya dirasakan ringan dan tidak dianggap berbahaya.

Padahal, anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan bayi lahir prematur, bayi berat lahir rendah, dan risiko kematian pada bayi yang dilahirkan. Anemia pada ibu hamil juga dapat meningkatkan risiko kematian ibu dalam proses persalinan, terutama pada kasus anemia berat.

Pakar gizi sekaligus Direktur Micronutrient Initiative Indonesia Dr Elvina Karyadi PhD mengatakan, prevalensi anemia pada ibu hamil itu sekitar 40-50% atau 5 dari 10 ibu hamil mengalami gangguan kesehatan anemia. “Perempuan hamil rentan mengalami anemia seiring meningkatnya kebutuhan zat besi dan nutrisi tubuh. Gejalanya yang sepele seringkali membuat mereka acuh. Mereka tidak sadar bahwa kurangnya konsentrasi haemoglobin saat hamil bisa berdampak serius bagi janin,” ujar Dr Elvina di Jakarta, kemarin.

Elvina menambahkan, fungsi zat besi adalah untuk mengikat oksigen dalam darah. Jika kekurangan zat besi, ibu hamil akan mengalami gejala kurang darah, seperti pusing, lemas, jantung berdebar karena berat untuk memompa darah, mual, dan pucat. Anemia sulit dideteksi secara kasat mata. Maka itu, untuk memastikan seorang terkena anemia tau tidak bisa dilakukan dengan cek kadar hemoglobin (Hb) di puskesmas atau di rumah sakit.

Menurut Elvina, diperlukan dua sumber zat besi. Pertama, heme iron yang mudah diserap, yang terdapat pada produk hewani seperti daging merah, dan telur. Kedua, non heme iron terdapat pada sayuran hijau seperti bayam, buncis, dan bit. Untuk membantu meningkatkan penyerapan zat besi, wanita hamil disarankan memperbanyak konsumsi vitamin C, seperti kiwi, jeruk, stroberi, pepaya, dan brokoli.

Elvina menambahkan, agar penyerapan zat besi tak terganggu, sebaiknya memberikan jarak konsumsi dengan makanan-makanan yang menghambat. Kendati hanya sedikit pengaruhnya, teh, kopi, dan cokelat tetap dapat menghambat penyerapan besi dari suplemen atau makanan alami lainnya.

“Selain itu, sumber zat besi juga bisa didapatkan dari suplemen seperti tablet tambah darah (TTD) untuk ibu hamil sebanyak 90 tablet selama masa keamilan. Sebenarnya,  pemerintah telah membagikan ttd seacara gratis sejak tahun 70an. Namun, nyatanya angka anemia pada ibu hamil di Indonesia tetap tinggi,” papar Elvina.

Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga pada 2001, prevalensi anemia pada usia subur sebesar 40%. Sementara hasil Riskesdas Kementerian Kesehatan 2010 menunjukkan, 80% perempuan usia 10-59 tahun telah mendapatkan TTD tetapi hanya 18% saja yang rutin mengonsumsinya sesuai anjuran.

Dalam salah satu penelitian yang dilakukan Puslitkes Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia bekerja sama dengan Micronutrient Initiative Indonesia  2012 di empat kecamatan di Kabupaten Lebak dan Purwakarta diketahui kebanyakan ibu hamil berhenti mengonsumsi TTD karena efek sampingnya seperti mual, muntah, dan sembelit. Selain itu persoalan akses dan distribusi TTD juga masih menemui kendala di daerah terpencil.

Direktur Yayasan IBU Ridwan Gustiana menjelaskan dalam mencegah anemia pada ibu hamil, pihaknya bersama dengan The Micrinutrient Initiative Indonesia mengadakan program penanggulangan anemia pada ibu hamil. Peningkatan kualitas program suplementasi TTD dilakukan melalui metode komunikasi perubahan perilaku di Kabupaten Purwakarta di Jawa Barat dan Kabupaten Lebak, Banten.

Ridwan menambahkan, tujuan dari program tersebut adalah perluasan cakupan dan meningkatkan ketaatan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet tambah darah.  Salah satu upaya yang sudah dilakukan antara lain peningkatan pengetahuan petugas kesehatan mulai dari dokter puskesmas, bidan, hingga para kader posyandu. “Cara berkomunikasi juga diperbaiki sehingga ibu hamil mendapat manfaat yang jelas tentang manfaat konsumsi suplemen TTD,” ujar Ridwan. (IZN - pdpersi.co.id)

CONTACT US

  • Kelapa Gading - 14250
  • +6221 45845303 - 04
  • +6221 45857833