02/02/2012 02:25:41 PM
Gaya Hidup Masyarakat Kota Berisiko Stroke dan Jantung
Jakarta - Gaya
hidup masyarakat kota yang gemar menyantap makanan siap saji telah
meningkatkan faktor risiko seseorang terkena serangan stroke atau
jantung.
Hal itu terjadi lantaran LDL (Low Density Lipoprotein), yang ada di dalam makanan siap saji, mengendap di dalam pembuluh darah.
Pakar
kesehatan masyarakat Universitas Indonesia dr Budi Hartono menjelaskan
LDL sebenarnya diperlukan oleh tubuh, tetapi dalam jumlah yang sedikit.
"Bahkan
tubuh pun memproduksi LDL, sehingga bisa dibayangkan apa jadinya jika
seseorang mengkonsumsi terlalu banyak makanan yang banyak mengandung
LDL," ujar dr Budi di Jakarta, kemarin.
Selain kebiasaan
mengkonsumsi makanan yang tidak sehat, kesibukan masyarakat perkotaan
juga membuat orang kota tidak lagi sempat untuk berolahraga. Situasi itu
diperparah dengan semakin buruknya kondisi lingkungan saat ini.
"Misalnya
saja, udara kota yang dihirup seseorang sudah tercemar oleh polutan.
Udara menjadi salah satu faktor resiko yang sulit dikendalikan," ujar
Budi.
Berbeda dengan faktor kebiasaan makan, yang semestinya
bisa dikendalikan, menurut Budi, faktor resiko serangan stroke dan
jantung menjadi pilihan bagi masing-masing orang.
Misalnya saja,
kata dia, orang bisa memilih makanan yang berbeda, meskipun makan di
rumah makan yang sama, sehingga faktor resiko serangan pun berbeda untuk
setiap orang.
Tetapi jika ditinjau dari faktor kualitas udara
yang dihirup, orang tidak bisa memilih. Meskipun orang tersebut hanya
ingin menghirup udara bersih saja tanpa karbon monoksida atau polutan
lain, namun bila kualitas udara di sekelilingnya tidak memenuhi
keinginannya, maka terpaksa ia harus bernafas dengan udara kotor.
Budi
mengatakan, udara yang tercemar karbon monoksida atau polutan lain,
seperti udara di Jakarta, bisa membuat oksigen di dalam darah terdesak.
Atau dengan kata lain, darah lebih suka membawa karbon monoksida
ketimbang oksigen.
Akibatnya ialah tubuh pun kekurangan oksigen.
Salah satu cirinya adalah mudah lelah. Situasi tersebut direspon oleh
Jantung dengan mempercepat aliran darah ke seluruh tubuh. Bisa
dibayangkan, apa yang akan terjadi, jika pembuluh darah tersumbat.
Penyumbatan
pembuluh darah sendiri diakui dr Budi, tidak terjadi seketika,
melainkan penumpukan dari beragam faktor resiko. Tetapi pada situasi
tertentu, saat jantung dipicu untuk bekerja lebih keras, penyumbatan
pembuluh darah bisa berakibat fatal.
Kondisi tersebut mudah
terjadi saat seseorang tertekan, baik secara fisik maupun psikis.
Meskipun tidak dipicu oleh kekerasan fisik, emosi yang memuncak bisa
menyebabkan tekanan darah meningkat. Pada saat itu, jika terjadi
penyumbatan aliran darah, maka pembuluh darah bisa pecah.
Dokter
ahli jantung Dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), dr Robinson
Harahap mengatakan, stroke dalam dunia kedokteran seperti serangan
jantung bisa terjadi disebabkan oleh menyempitnya pembuluh darah.
Dalam
keadaan stres, seseorang mudah terkena stroke atau serangan jantung,
terutama jika ada penyumbatan pada pembuluh darah yang mengalir baik ke
jantung maupun ke otak.
Karena pada saat stres, menurut dokter
Robinson Harahap, otak memerlukan banyak oksigen sehingga memaksa
jantung bekerja lebih cepat untuk mengalirkan darah yang membawa oksigen
ke otak.
Situasi itu berbahaya, terutama ketika darah tidak bisa mengalir dengan baik akibat adanya penyempitan pembuluh darah.
Hal itulah yang membuat pembuluh darah pecah karena tidak bisa menahan tingginya tekanan darah.
Selain
stres, stroke atau serangan jantung juga biasanya terjadi pada orang
yang kurang berolahraga, merokok, diabetes, obesitas (kelebihan berat
badan) dan berusia di atas 40 tahun.
Saat ini, usia muda bukan
jaminan stroke dan serangan jantung tidak bisa terjadi. Sebab, katanya,
telah terjadi banyak perubahan, baik gaya hidup maupun kondisi
lingkungan.
Robinson mengatakan jika yang tersumbat pembuluh
darah ke otak, maka itulah yang disebut stroke. Sementara, jika yang
tersumbat adalah pembuluh darah ke jantung, maka kondisi itu disebut
serangan jantung. Tetapi Keduanya bisa mengakibatkan kematian secara
mendadak.
Dalam kasus serangan stroke secara mendadak, jika
pembuluh darah di sekitar otak sudah pecah, maka itu berakibat fatal
bagi korban. Tanda-tandanya adalah nafas seperti mengorok dan mulut
berbusa. (
IZN - pdpersi.co.id)