Aneka Berita

Berita Terbaru

Surat Edaran Badan POM RI

Monday 27 October 2014

Surat Edaran dari Badan POM RI Perihal : Hasil Pengkajian Aspek Keamanan Obat dengan Zat Aktif Hydroxyethyl Starch (HES)



Prioritas Penduduk Desa: Rokok, Pulsa Baru Beras

Thursday 18 September 2014
"Penduduk desa terutama laki-laki lebih mengutamakan membeli rokok. Padahal, rokok merupakan pembunuh nomor satu di Indonesia, angkanya melebihi penyakit lain akibat wabah dan kecelakaan.

Kenaikan Tarif Listrik

Tuesday 02 April 2013
Dalam rangka mempertahankan kelangsungan pengusahaan penyediaan tenaga listrik, peningkatan mutu pelayanan kepada konsumen, peningkatan rasio elektrifikasi, dan mendorong subsidi listrik yang lebih tepat sasaran maka dilakukan penyesuaian tarif tenaga listrik yang disediakan oleh Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Listrik Negara
02/02/2012 02:25:41 PM

Gaya Hidup Masyarakat Kota Berisiko Stroke dan Jantung

Jakarta - Gaya hidup masyarakat kota yang gemar menyantap makanan siap saji telah meningkatkan faktor risiko seseorang terkena serangan stroke atau jantung.
Hal itu terjadi lantaran LDL (Low Density Lipoprotein), yang ada di dalam makanan siap saji, mengendap di dalam pembuluh darah.

Pakar kesehatan masyarakat Universitas Indonesia dr Budi Hartono menjelaskan LDL sebenarnya diperlukan oleh tubuh, tetapi dalam jumlah yang sedikit.

"Bahkan tubuh pun memproduksi LDL, sehingga bisa dibayangkan apa jadinya jika seseorang mengkonsumsi terlalu banyak makanan yang banyak mengandung LDL," ujar dr Budi di Jakarta, kemarin.

Selain kebiasaan mengkonsumsi makanan yang tidak sehat, kesibukan masyarakat perkotaan juga membuat orang kota tidak lagi sempat untuk berolahraga. Situasi itu diperparah dengan semakin buruknya kondisi lingkungan saat ini.

"Misalnya saja, udara kota yang dihirup seseorang sudah tercemar oleh polutan. Udara menjadi salah satu faktor resiko yang sulit dikendalikan," ujar Budi.

Berbeda dengan faktor kebiasaan makan, yang semestinya bisa dikendalikan, menurut Budi, faktor resiko serangan stroke dan jantung menjadi pilihan bagi masing-masing orang.

Misalnya saja, kata dia, orang bisa memilih makanan yang berbeda, meskipun makan di rumah makan yang sama, sehingga faktor resiko serangan pun berbeda untuk setiap orang.

Tetapi jika ditinjau dari faktor kualitas udara yang dihirup, orang tidak bisa memilih. Meskipun orang tersebut hanya ingin menghirup udara bersih saja tanpa karbon monoksida atau polutan lain, namun bila kualitas udara di sekelilingnya tidak memenuhi keinginannya, maka terpaksa ia harus bernafas dengan udara kotor.

Budi mengatakan, udara yang tercemar karbon monoksida atau polutan lain, seperti udara di Jakarta, bisa membuat oksigen di dalam darah terdesak. Atau dengan kata lain, darah lebih suka membawa karbon monoksida ketimbang oksigen.

Akibatnya ialah tubuh pun kekurangan oksigen. Salah satu cirinya adalah mudah lelah. Situasi tersebut direspon oleh Jantung dengan mempercepat aliran darah ke seluruh tubuh. Bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi, jika pembuluh darah tersumbat.

Penyumbatan pembuluh darah sendiri diakui dr Budi, tidak terjadi seketika, melainkan penumpukan dari beragam faktor resiko. Tetapi pada situasi tertentu, saat jantung dipicu untuk bekerja lebih keras, penyumbatan pembuluh darah bisa berakibat fatal.

Kondisi tersebut mudah terjadi saat seseorang tertekan, baik secara fisik maupun psikis. Meskipun tidak dipicu oleh kekerasan fisik, emosi yang memuncak bisa menyebabkan tekanan darah meningkat. Pada saat itu, jika terjadi penyumbatan aliran darah, maka pembuluh darah bisa pecah.

Dokter ahli jantung Dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), dr Robinson Harahap mengatakan, stroke dalam dunia kedokteran seperti serangan jantung bisa terjadi disebabkan oleh menyempitnya pembuluh darah.

Dalam keadaan stres, seseorang mudah terkena stroke atau serangan jantung, terutama jika ada penyumbatan pada pembuluh darah yang mengalir baik ke jantung maupun ke otak.

Karena pada saat stres, menurut dokter Robinson Harahap, otak memerlukan banyak oksigen sehingga memaksa jantung bekerja lebih cepat untuk mengalirkan darah yang membawa oksigen ke otak.

Situasi itu berbahaya, terutama ketika darah tidak bisa mengalir dengan baik akibat adanya penyempitan pembuluh darah.

Hal itulah yang membuat pembuluh darah pecah karena tidak bisa menahan tingginya tekanan darah.

Selain stres, stroke atau serangan jantung juga biasanya terjadi pada orang yang kurang berolahraga, merokok, diabetes, obesitas (kelebihan berat badan) dan berusia di atas 40 tahun.

Saat ini, usia muda bukan jaminan stroke dan serangan jantung tidak bisa terjadi. Sebab, katanya, telah terjadi banyak perubahan, baik gaya hidup maupun kondisi lingkungan.

Robinson mengatakan jika yang tersumbat pembuluh darah ke otak, maka itulah yang disebut stroke. Sementara, jika yang tersumbat adalah pembuluh darah ke jantung, maka kondisi itu disebut serangan jantung. Tetapi Keduanya bisa mengakibatkan kematian secara mendadak.

Dalam kasus serangan stroke secara mendadak, jika pembuluh darah di sekitar otak sudah pecah, maka itu berakibat fatal bagi korban. Tanda-tandanya adalah nafas seperti mengorok dan mulut berbusa. (IZN - pdpersi.co.id)