Cakrawala

Berita Terbaru

Nyanyian Ultah Anak Thalassemia Buat SBY Di RSCM Kiara

Tuesday 16 September 2014
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendapat kado istimewa dari anak-anak penderita thalassemia pada ulang tahunnya ke-65. Kunjungan SBY ke Pusat Kesehatan Ibu dan Anak Kiara di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM)

Baru 86% Bayi Diimunisasi

Tuesday 16 September 2014
Persentase bayi yang diimunisasi setiap tahunnya mencapai 86% dari 4 juta angka kelahiran di Tanah Air. Pemicu tingginya angka bayi yang belum terpapar imunisasi, tidak memiliki akses pada pelayanan kesehatan serta rendahnya kesadaran orang tua

Menkes Minta Pemda Integrasikan Jamkesda Ke JKN

Monday 15 September 2014
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menghimbau pemerintah daerah (pemda) yang menerbitkan kebijakan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) segera mengintegrasikannya dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan
16/11/2011 11:57:07 AM

RI Rangking Keempat Jumlah Penderita Diabetes Terbanyak Dunia

Jakarta - Indonesia kini telah menduduki rangking keempat jumlah penyandang diabetes terbanyak setelah Amerika Serikat, China dan India. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penyadang diabetes pada tahun 2003 sebanyak 13,7 juta orang dan berdasarkan pola pertambahan penduduk diperkirakan pada 2030 akan ada 20,1 juta penyandang diabetes dengan tingkat prevalensi 14,7 persen untuk daerah urban dan 7,2 persen di rural.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi kenaikan jumlah penyandang diabetes mellitus di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Sedangkan Badan Federasi Diabetes Internasional (IDF) pada tahun 2009 memperkirakan kenaikan jumlah penyandang diabetes mellitus dari 7,0 juta tahun 2009 menjadi 12,0 juta pada tahun 2030.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menjelaskan, meskipun terdapat perbedaan angka prevalensi, laporan-laporan tersebut menunjukan adanya peningkatan jumlah penyandang diabetes sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun 2030.

“Apalagi, diabetes mellitus saat ini terjadi bukan hanya pada orang dewasa, namun juga terjadi pada bayi dan anak,” ujar Tjandra di Jakarta, kemarin.

Data yang dikumpulkan Unit Kerja Koordinasi (UKK) Endokrinologi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sejak Mei 2009 hingga Februari 2011 menunjukkan terdapat 590 anak dan remaja berusia di bawah 20 tahun yang merupakan penyandang diabetes tipe 1 di seluruh Indonesia. “Data ini diperkirakan merupakan puncak gunung es sehingga jumlah penderita yang sesungguhnya di populasi tentu lebih banyak lagi yang masih belum terdeteksi," ujar dia.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, angka prevalensi diabetes mellitus tertinggi terdapat di provinsi Kalimantan Barat dan Maluku Utara (masing-masing 11,1 persen), diikuti Riau (10,4 persen) dan NAD (8,5 persen).

Sementara itu, prevalensi diabetes mellitus terendah ada di provinsi Papua (1,7 persen), diikuti NTT (1,8 persen), Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu tertinggi di Papua Barat (21,8 persen), diikuti Sulbar (17,6 persen) dan Sulut (17,3 persen), sedangkan terendah di Jambi (4 persen), diikuti NTT (4,9 persen). Angka kematian akibat DM terbanyak pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan sebesar 14,7 persen, sedangkan di daerah pedesaan sebesar 5,8 persen.

Dia menjelaskan, faktor resiko diabetes ada dua yaitu faktor resiko yang tidak bisa diubah seperti ras dan etnik, riwayat keluarga, umur, riwayat melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 kilogram atau pernah menderita DM gestasional dan riwayat lahir dengan berat badan rendah (kurang dari 2,5 kilogram).

“Untuk faktor risiko yang bisa dimodifikasi dari DM adalah berat badan lebih, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemia dan diet tak sehat atau diet tinggi gula dan rendah serat yang akan meningkatkan risiko menderita prediabetes dan DM tipe 2,” papar Tjandra.

Guna mengurangi faktor risiko diabetes tersebut, pemerintah telah mengeluarkan aturan  tentang kandungan gula pada makanan ringan di Indonesia yang dimuat dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 208/1985 tentang Pemanis Buatan dan Permenkes No 722/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan.

Namun, kedua permenkes tersebut  juga masih harus ditinjau ulang dan direvisi mengingat hanya empat jenis pemanis buatan yaitu aspartaam, sakarin, siklamat dan sarbitol yang diatur dalam produk pangan yang ternyata sudah diperuntukkan bagi pelaku diet rendah kalori dan penderita DM.
(Izn - pdpersi.co.id)