Cakrawala

Berita Terbaru

RS Indonesia di Gaza Beroperasi Desember, Mari Sumbang Rp 50 Ribu!

Thursday 28 August 2014
Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina, akan beroperasi Desember 2014. Saat ini, pembangunannya sudah selesai, dan tengah dilengkapi alat kesehatannya.

Diberi Beasiswa Tapi Tolak Ke Daerah, Dokter Tak Boleh Praktek

Thursday 28 August 2014
Dokter alumni program beasiswa pendidikan pemerintah yang tidak mau kembali ke daerah, Surat Tanda Registrasi (STR)-nya akan ditahan hingga mereka memenuhi kontrak.

Bunda Neuro Center: Stroke Bukan Akhir Segalanya

Wednesday 27 August 2014
Penanganan yang cepat bisa menyelamatkan pasien stroke. Golden periode, batas waktu tertentu pasien stroke akut mendapatkan penanganan akan menghindarkan mereka dari kecacatan dan kematian.
16/11/2011 11:57:07 AM

RI Rangking Keempat Jumlah Penderita Diabetes Terbanyak Dunia

Jakarta - Indonesia kini telah menduduki rangking keempat jumlah penyandang diabetes terbanyak setelah Amerika Serikat, China dan India. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penyadang diabetes pada tahun 2003 sebanyak 13,7 juta orang dan berdasarkan pola pertambahan penduduk diperkirakan pada 2030 akan ada 20,1 juta penyandang diabetes dengan tingkat prevalensi 14,7 persen untuk daerah urban dan 7,2 persen di rural.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi kenaikan jumlah penyandang diabetes mellitus di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Sedangkan Badan Federasi Diabetes Internasional (IDF) pada tahun 2009 memperkirakan kenaikan jumlah penyandang diabetes mellitus dari 7,0 juta tahun 2009 menjadi 12,0 juta pada tahun 2030.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menjelaskan, meskipun terdapat perbedaan angka prevalensi, laporan-laporan tersebut menunjukan adanya peningkatan jumlah penyandang diabetes sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun 2030.

“Apalagi, diabetes mellitus saat ini terjadi bukan hanya pada orang dewasa, namun juga terjadi pada bayi dan anak,” ujar Tjandra di Jakarta, kemarin.

Data yang dikumpulkan Unit Kerja Koordinasi (UKK) Endokrinologi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sejak Mei 2009 hingga Februari 2011 menunjukkan terdapat 590 anak dan remaja berusia di bawah 20 tahun yang merupakan penyandang diabetes tipe 1 di seluruh Indonesia. “Data ini diperkirakan merupakan puncak gunung es sehingga jumlah penderita yang sesungguhnya di populasi tentu lebih banyak lagi yang masih belum terdeteksi," ujar dia.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, angka prevalensi diabetes mellitus tertinggi terdapat di provinsi Kalimantan Barat dan Maluku Utara (masing-masing 11,1 persen), diikuti Riau (10,4 persen) dan NAD (8,5 persen).

Sementara itu, prevalensi diabetes mellitus terendah ada di provinsi Papua (1,7 persen), diikuti NTT (1,8 persen), Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu tertinggi di Papua Barat (21,8 persen), diikuti Sulbar (17,6 persen) dan Sulut (17,3 persen), sedangkan terendah di Jambi (4 persen), diikuti NTT (4,9 persen). Angka kematian akibat DM terbanyak pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan sebesar 14,7 persen, sedangkan di daerah pedesaan sebesar 5,8 persen.

Dia menjelaskan, faktor resiko diabetes ada dua yaitu faktor resiko yang tidak bisa diubah seperti ras dan etnik, riwayat keluarga, umur, riwayat melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 kilogram atau pernah menderita DM gestasional dan riwayat lahir dengan berat badan rendah (kurang dari 2,5 kilogram).

“Untuk faktor risiko yang bisa dimodifikasi dari DM adalah berat badan lebih, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemia dan diet tak sehat atau diet tinggi gula dan rendah serat yang akan meningkatkan risiko menderita prediabetes dan DM tipe 2,” papar Tjandra.

Guna mengurangi faktor risiko diabetes tersebut, pemerintah telah mengeluarkan aturan  tentang kandungan gula pada makanan ringan di Indonesia yang dimuat dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 208/1985 tentang Pemanis Buatan dan Permenkes No 722/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan.

Namun, kedua permenkes tersebut  juga masih harus ditinjau ulang dan direvisi mengingat hanya empat jenis pemanis buatan yaitu aspartaam, sakarin, siklamat dan sarbitol yang diatur dalam produk pangan yang ternyata sudah diperuntukkan bagi pelaku diet rendah kalori dan penderita DM.
(Izn - pdpersi.co.id)