Cakrawala

Berita Terbaru

156 Ampul Buvanest Spinal Ditarik dari Kepri, Dikirim ke Jakarta

Wednesday 25 February 2015
Sebanyak 156 ampul obat anastesi Buvanest Spinal produksi PT Kalbe Farma ditarik dari peredaran di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), terkait kasus meninggalnya dua pasien di Rumah Sakit (RS) Siloam Karawaci, Tangerang, Banten, 12 Februari lalu.

12% Wilayah Indonesia Kumuh, Rentan Penyakit

Wednesday 25 February 2015
Salah satu target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, penyediaan akses air minum dan sanitasi 100% atau akses universal sanitasi, masih terkendala rendahnya kesadaran, kepedulian juga perilaku masyarakat. Kebiasaan buang air besar di sungai, mandi dengan air tercemar masih sulit dikikis

Vaksin DBD Belum Ditemukan, Cara Mencegahnya Cuma Kebersihan

Tuesday 24 February 2015
Vaksin untuk mengantisipasi Demam Berdarah Dengue (DBD) pernah dibuat di Indonesia, tetapi tidak lulus uji coba sehingga tidak disebarkan kepada masyarakat. Vaksin produksi Bio Farma Bandung itu, dimaksudkan untuk mengatasi dua dari empat jenis virus DBD yaitu tipe 1 dan  2.
16/11/2011 11:57:07 AM

RI Rangking Keempat Jumlah Penderita Diabetes Terbanyak Dunia

Jakarta - Indonesia kini telah menduduki rangking keempat jumlah penyandang diabetes terbanyak setelah Amerika Serikat, China dan India. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penyadang diabetes pada tahun 2003 sebanyak 13,7 juta orang dan berdasarkan pola pertambahan penduduk diperkirakan pada 2030 akan ada 20,1 juta penyandang diabetes dengan tingkat prevalensi 14,7 persen untuk daerah urban dan 7,2 persen di rural.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi kenaikan jumlah penyandang diabetes mellitus di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Sedangkan Badan Federasi Diabetes Internasional (IDF) pada tahun 2009 memperkirakan kenaikan jumlah penyandang diabetes mellitus dari 7,0 juta tahun 2009 menjadi 12,0 juta pada tahun 2030.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menjelaskan, meskipun terdapat perbedaan angka prevalensi, laporan-laporan tersebut menunjukan adanya peningkatan jumlah penyandang diabetes sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun 2030.

“Apalagi, diabetes mellitus saat ini terjadi bukan hanya pada orang dewasa, namun juga terjadi pada bayi dan anak,” ujar Tjandra di Jakarta, kemarin.

Data yang dikumpulkan Unit Kerja Koordinasi (UKK) Endokrinologi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sejak Mei 2009 hingga Februari 2011 menunjukkan terdapat 590 anak dan remaja berusia di bawah 20 tahun yang merupakan penyandang diabetes tipe 1 di seluruh Indonesia. “Data ini diperkirakan merupakan puncak gunung es sehingga jumlah penderita yang sesungguhnya di populasi tentu lebih banyak lagi yang masih belum terdeteksi," ujar dia.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, angka prevalensi diabetes mellitus tertinggi terdapat di provinsi Kalimantan Barat dan Maluku Utara (masing-masing 11,1 persen), diikuti Riau (10,4 persen) dan NAD (8,5 persen).

Sementara itu, prevalensi diabetes mellitus terendah ada di provinsi Papua (1,7 persen), diikuti NTT (1,8 persen), Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu tertinggi di Papua Barat (21,8 persen), diikuti Sulbar (17,6 persen) dan Sulut (17,3 persen), sedangkan terendah di Jambi (4 persen), diikuti NTT (4,9 persen). Angka kematian akibat DM terbanyak pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan sebesar 14,7 persen, sedangkan di daerah pedesaan sebesar 5,8 persen.

Dia menjelaskan, faktor resiko diabetes ada dua yaitu faktor resiko yang tidak bisa diubah seperti ras dan etnik, riwayat keluarga, umur, riwayat melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 kilogram atau pernah menderita DM gestasional dan riwayat lahir dengan berat badan rendah (kurang dari 2,5 kilogram).

“Untuk faktor risiko yang bisa dimodifikasi dari DM adalah berat badan lebih, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemia dan diet tak sehat atau diet tinggi gula dan rendah serat yang akan meningkatkan risiko menderita prediabetes dan DM tipe 2,” papar Tjandra.

Guna mengurangi faktor risiko diabetes tersebut, pemerintah telah mengeluarkan aturan  tentang kandungan gula pada makanan ringan di Indonesia yang dimuat dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 208/1985 tentang Pemanis Buatan dan Permenkes No 722/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan.

Namun, kedua permenkes tersebut  juga masih harus ditinjau ulang dan direvisi mengingat hanya empat jenis pemanis buatan yaitu aspartaam, sakarin, siklamat dan sarbitol yang diatur dalam produk pangan yang ternyata sudah diperuntukkan bagi pelaku diet rendah kalori dan penderita DM.
(Izn - pdpersi.co.id)

CONTACT US

  • Kelapa Gading - 14250
  • +6221 45845303 - 04
  • +6221 45857833