Cakrawala

Berita Terbaru

KLHK di Rapat Darurat Limbah Medis PERSI: Tumpukan Mencapai 8.000 Ton di Seluruh Indonesia

Friday 06 April 2018
Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperkirakan tumpukan limbah medis di rumah sakit (RS) seluruh Indonesia mencapai 8.000 ton. Limbah-limbah medis itu tertumpuk di banyak RS pasca penertiban insenerator RS yang dinilai tidak memenuhi syarat.

Pemusnahan Tumpukan Limbah RS di Fasilitas Pabrik Semen Tunggu Kepmen LHK

Friday 06 April 2018
Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan  (KLHK) pada Selasa (3/4) telah menandatangani kesepakatan dengan 4 pabrik semen untuk melakukan pemusnahan limbah medis yang kini menumpuk di rumah sakit (RS). Pabrik-pabrik semen itu masing-masing berlokasi dua di Jawa Barat, 1 Banten dan 1 lagi di Sumatera Barat. 

Agar Makin Trengginas Tangani Kejahatan Obat dan Makanan, BPOM Lantik Tiga Direktur Baru

Thursday 05 April 2018
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM) melantik tiga direktur baru di Kedeputian Bidang Penindakan untuk mempercepat penanganan kasus kejahatan obat dan makanan. Ketiga direktur baru itu terdiri atas Direktur Penyidikan, Direktur Intelijen dan Direktur Pengamanan. 
Arsip
24/02/2012 03:42:10 PM

Setiap Tahun, Penderita Alergi di Indonesia Bertambah 30 Persen

Jakarta - Berdasarkan data dari World Allergy Organization (WAO) 2011 menunjukkan bahwa prevalensi alergi terus meningkat dengan angka 30-40 persen dari total populasi dunia. Data tersebut sejalan dengan data dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) yang mencatat bahwa angka kejadian alergi meningkat tiga kali lipat sejak 1993 hingga 2006. Di Indonesia, beberapa peneliti juga memperkirakan bahwa peningkatan kasus alergi mencapai 30 persen per tahunnya.

Pakar alergi-imunologi anak DR Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K) menjelaskan, pencegahan alergi sedini mungkin sangat dianjurkan guna mengurangi dampak yang ditimbulkan pada kehidupan anak di kemudian hari.

“Gejala alergi yang dapat menyebabkan gangguan pada hidung, tenggorokan, telinga, mata, saluran pernapasan, pencernaan hinga kulit ini dapat mempengaruhi kesehatan dan kenyamanan anak dalam beraktifitas sehari-hari," kata Dr Zakiudin di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, dampak alergi tersebut dapat mempengaruhi kualitas hidup anak seperti terbatasnya aktivitas belajar, bermain, sulit kosentrasi hingga sulit tidur. Sedangkan indikator paling tepat untuk deteksi dini alergi adalah melalui riwayat keluarga, karena alergi bersifat genetik dan bahkan pada orang tua yang tidak memiliki riwayat alergi, bayi tetap memiliki risiko alergi sebesar 5-15 persen.

Dosen Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia DR. Dr. Luciana B Sutanto, MS. SpGK menambahkan, pemberian air susu ibu (ASI) ekslusif dapat menekan timbulnya kasus alergi yang bersifat genetik (diturunkan), yang paling banyak terjadi pada anak berusia di bawah 2 tahun, terutama di bawah 3 bulan.

“Selain memberikan gizi yang optimal, pemberian ASI eksklusif hingga bayi berumur 6 bulan dapat mengurangi risiko alergi. Risiko alergi pada bayi yang mendapat ASI sangat rendah, karena pada dasarnya ASI secara alami diproduksi sesuai dengan kebutuhan bayi, serta ASI mengandung protein yang berperan mengurangi risiko alergi," papar dia.

Menurut Dr Luciana, beberapa jenis makanan yang paling sering menyebabkan alergi sehingga tidak dianjurkan diberikan kepada bayi dengan usia terlalu muda telur, susu sapi, kacang-kacangan, kedelai, gandum, ikan dan seafood. Sebab, semakin kecil usia bayi/anak makin sensitif terhadap terjadinya alergi.

Kendati ASI dapat mencegah alergi, ibu tetap perlu memperhatikan makanan yang dikonsumsi saat menyusui dengan menghindari makanan yang berpotensi menimbulkan alergi. Gaya hidup sehat ibu juga memiliki peran penting dalam mencegah alergi, yaitu dengan menjaga kebersihan lingkungan misalnya menjaga kebersihan rumah dengan membersihkan perabotan rumah dari debu, tungau dan memastikan udara dalam ruangan mengalir dengan baik.

“Debu yang beterbangan di udara sangat mudah terhirup dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan, seperti rhinitis dan asma,” papar dia.

Luciana menambahkan, setelah mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan, bayi sudah dapat mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI yang juga harus mempertimbangkan risiko bayi terkena alergi makanan. Untuk mengenali apakah bayi alergi terhadap makanan, maka pemberian makanan pendamping ASI yang pertama dianjurkan diperkenalkan satu per satu jenisnya.
(IZN - pdpersi.co.id)

CONTACT US

  • Crown Palace Blok E/6, Jl. Prof Soepomo SH No.231, Tebet, Jakarta Selatan - 12870
  • +6221 8378 2901-02
  • +6221 8378 2902