23/02/2015 12:55:17 PM

Si Langkah “Akalasia”

Surabaya, Yani Dwi Hirmawati, S.Sos (Public Relations RS Husada Utama) -

Oleh : dr Iwan Kristian SpB-KBD
Akalasia adalah suatu gangguan neuromuscular. Yakni, ketidakmampuan lower esophageal sphincter (cincin otot antara esofagus bagian bawah dan lambung) untuk membuka dan membiarkan makanan masuk ke dalam lambung.

Esofagus terdiri dari 3 bagian: bagian paling atas di mana terdapat sfingter esofagus bagian atas (cincin otot yang berkontraksi sepanjang waktu untuk mencegah aliran balik makanan dari bagian bawah esofagus ke arah atas), corpus dan bagian bawah dimana terdapat sfingter esofagus bagian bawah (cincin otot yang secara normal berkontraksi untuk mencegah asam lambung dan makanan yang terdapat di dalam lambung mengalir kembali ke atas ke esofagus).

Secara normal, sewaktu menelan, sfingter esofagus bagian atas berelaksasi sehingga makanan dapat masuk ke dalam esofagus. Kemudian diikuti dengan kontraksi dari otot-otot bagian atas esofagus tersebut sehingga mendorong makanan ke bawah esofagus sedangkan otot-otot bagian bawah berelaksasi untuk menerima makanan. Perubahan kontraksi dari otot-otot di dalam esofagus ini dikenal sebagai gerakan peristaltik, yang memindahkan makanan sepanjang esofagus ke dalam lambung. Akan tetapi, pada penderita akalasia, sfingter esofagus bagian bawah tidak berelaksasi untuk menyalurkan makanan memasuki lambung.

Hal ini sering disebabkan oleh kerusakan saraf-saraf yang mempersarafi otot-otot esofagus. Oleh karena itu, penderita akalasia dapat menunjukkan gejala regurgitasi makanan, nyeri dada ketika menelan, dada seperti terbakar dan kesulitan sewaktu menelan. Untungnya, kondisi ini merupakan penyakit yang jarang terjadi dan biasanya ditemukan pada usia pertengahan atau dewasa tua. Penanganan termasuk obat-obatan yang membantu merelaksasi otot-otot sfingter dan operasi untuk melebarkan esofagus.

Perkembangan teknologi di bidang kedokteran, membantu mengatasi penyakit ini dengan relatif cepat. Melalui tindakan endoskopi-laparoskopi terhadap pasien akalasia tidak memerlukan waktu berjam-jam lagi. Selain tidak perlu melalui pembedahan, pemulihan pascaoperasi lebih cepat jika dibandingkan dengan metode sebelumnya, pembedahan terbuka (open surgery).

Setelah operasi, ada tahap pembiasaan makanan bagi pasien. Meski saluran pencernaan makanan sudah diperbaiki, pasien dilarang langsung makan makanan kasar seperti nasi. Setelah operasi dinyatakan sukses, pasien baru boleh makan makanan yang halus seperti bubur sari atau bubur halus.

Apabila tidak ada kendala dengan bubur saring, pasien boleh makan bubur nasi. Selanjutnya, tahap terakhir adalah makan nasi. Tahap itu harus dimonitor terus. Harus dipastikan pasien tidak mengalami kesulitan saat makan makanan tahap demi tahap.    Hal itu ditunjukkan untuk memperkecil peluang risiko buruk pascaoperasi. Misalnya, otot stfingter dapat menutup kembali.

Sebenarnya, akalasia bersifat stagnan. Hanya, ada beberapa penyebab yang bisa memicu akalasi bertambah parah. Misalnya stres dan panik. Bila sudah demikian, rasa sakit yang dialami pasien dapat berlipat-lipat.
(pdpersi.co.id)