Webinar Penerapan Teknologi Otomatisasi untuk Peningkatan Mutu RS, Layanan Kiat Akurat dan Cepat

2022-03-30 17:45:59



Inovasi kalangan rumah sakit (RS), Kementerian Kesehatan serta dukungan industri dalam otomatisasi dan digitalisasi kesehatan dikupas dalam Webinar “Penerapan Teknologi Otomatisasi untuk Peningkatan Mutu Rumah Sakit ” pada Sabtu, 12 Maret 2022. Kegiatan yang diselenggrakan PT Info Sarana Medika (ISM) PERSI dan IBM itu diikuti kalangan perumahsakitan serta pelaku teknologi informasi (TI) RS melalui platform Kitras.

Chief Operating Officer (COO) Sinergi Wahana Gemilang Aloysius Pratomo menyatakan selama masa pandemi, semua industri kian intensif melakukan transformasi digital, termasuk RS. Hasilnya, kini berbagai layanan dan proses bisnis di RS, telah melibatkan TI.

“Seperti yang saya rasakan, mulai mengambil nomor antrian, masuk ke ruangan dokter, proses pemeriksaan, pemberian resep, penulisan rekam medis, hingga pembayaran dilakukan secara digital dan otomatisasi. Kini juga hasil ronsen cukup dilihat di layar komputer dan antrian obat lebih efektif,” kata Aloysius.

Sama seperti industri lainnya, lanjut Aloysius, digitalisasi dan otomatisasi menjadi kunci agar RS bisa berkompetisi untuk menghadirkan pengalaman yang lebih baik bagi pasien.

Sementara, Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Dr. Bambang Wibowo, Sp.OG(K), MARS, FISQua yang dibacakan Ketua Kompartemen Pusat Data dan Informasi Persi Anis Fuad, DEA menyatakan saat ini PERSI beranggotakan 3.000 RS dan memiliki kepengurusan di 32 wilayah. Dalam sambutannya yang berjudul Visi Misi Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia dalam Mendukung Percepatan Digitalisasi Kesehatan di Rumah Sakit, Bambang memaparkan, PERSI juga memiliki kompartemen data, mutu dan litbang dan terkait langsung dengan digitalisasi dan otomatisasi.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, yang juga diperkuat riset PERSI pada 2-5 Maret 2022 pada 500 responden, salah satu aspek digitalisasi yang saat ini paling banyak diimplementasikan RS adalah Sistem Informasi Manajemen (SIM) RS yaitu mencapai 88%. Kendati begitu, masih banyak aspek digitalisasi yang perlu dikembangkan, salah satunya otomatisasi di rekam medis elektronik (RME).

“Contohnya saja untuk fasilitas Pcare milik BPJS Kesehatan yang digunakan layanan kesehatan primer, termasuk 20 ribu Puskesmas, kita lihat ada isian kesadaran, tinggi dan berat badan, sistole, diastole, dan lainnya yang harus diisi manual dan membutuhkan waktu untuk mengisi. Padahal idealnya dokter lebih banyak melakukan layanan langsung, bukan administratif, sehingga dalam aspek ini seharusnya bukan mengisi manual tapi bisa dilakukan otomatisasi,” kata Bambang.

Dengan otomatisasi, pengisian gejala-gejala pasien bisa minim kesalahan dan menyingkat waktu. Bambang menyatakan, guna mengatasi tantangan-tantangan itu maka PERSI mendukung penuh pengembangan transformasi kesehatan digital yang kini intens dilakukan Kemenkes. PERSI juga menghadirkan RS-RS untuk membagi praktik baik yang sudah dilakukan dan membaginya dengan RS-RS yang lain, seperti yang dilakukan dalam forum ini.

Sementara, dalam materinya yang berjudul Automation in Hospital Service: How Far Can We Go? Anis Fuad menyatakan otomatisasi bermakna penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin yang secara otomatis melakukan dan mengatur pekerjaan sehingga tidak memerlukan lagi

pengawasan manusia dalam industri dan sebagainya. Dalam praktiknya, otomatisasi bermakna bagaimana teknologi bisa bekerja sendiri tanpa perlu tenaga manusia untuk mempermudah, mengurangi kesalahan serta mempercepat.

“Tahapan otomatisasi dimulai dari tahapan dasar dari tahapan manual, kemudian diperbaiki, hingga kemudian dipetakan dan diotomatisasi hingga kemudian terintegrasi dan puncaknya, kecerdasan buatan,” kata Fuad.

Menyangkut aspek mutu dalam pelayanan di RS dalam pengembangan otomatisasi adalah keamanan, efektif, beroritasi pada pasien, tepat waktu, hemat biaya serta adil. “Jadi walaupun ada otomatisasi, kita tetap menyapa pasien dengan baik. Begitu pula konsep otomatisasi di industri lain, ketika sepenuhnya mesin yang bekerja, tidak dapat diaplikasikan dalam dunia kesehatan.”

Selanjutnya, Kepala Instalasi Sistem TI RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Poentoro, S.Si, M.Kom dalam paparannya Best Practice Sharing : Manfaat Sistem Otomasi untuk Peningkatan Mutu Pelayanan di RSWS : Kemarin, Sekarang dan Masa Depan menyatakan otomatisasi telah dilaksanakan di RS dengan 1.000 tempat tidur memiliki pusat-pusat layanan berbeda gedung serta memiliki 2.000 SDM. “Tentu kondisi itu memerlukan sentuhan TI untuk pengelolaan antar gedung, informasi antar gedung baik itu dalam layanan pasien maupun administratif.”

Salah satu otomatisasi yang dilaksanakan di antaranya adalah Anjungan Pendaftaran Mandiri Pasien Kontrol (APMPK). Layanan itu memudahkan pasien kontrol berulang untuk mengakses layanan rawat jalan, dokter menginputkan pengkajian RME jika pasien diputuskan untuk kontrol Kembali, maka dibuatkan surat keterangan kontrol yang akan digunakan pasien pada kunjungan berikutnya di mesin APM. Pasien cukup melakukan scan qrcode yang terdapat pada lembaran surat kontrol ke mesin APMPK.

“Sebelum ada APMPK, pasien antri dari subuh serta belum pasti jadwal pelayanan. Kini, sesudah ada APMPK, pasien tidak perlu ambil antrian, pasien tidak perlu antrian online serta waktu tunggu lebih cepat. Selanjutnya, pengembangan yang kami lakukan adalah mobile pasien terintegrasi untuk antri registrasi online juga sebagai guide harus menuju kemana setelah dilayani di satu tempat.”

Otomatisasi lainnya dilakukan aspek Keuangan. Sebelum ada sistem otomatisasi, tidak ada kendali realisasi anggaran serta tidak diketahui kondisi real penggunaan anggaran masing-masing akun. Kini, penggunaan anggaran terkendali, ada informasi real time penggunaan anggaran masing-masing akun, sehingga bisa memberikan informasi apakah akan ada perubahan anggaran terkait anggaran yang sudah habis pagunya atau anggaran yang tidak termanfaatkan. Sedangkan pengembangan yang diangendakan adalah notifikasi ke mobile manajemen terkait informasi up to date penggunaan anggaran yang perlu di sesuaikan.

Selanjutnya, Senior Sales Services Manager IBM Wahyudi Alamsjah menyatakan kini digitalisasi menghadapi tantangan kompleksitas dengan berbagai aplikasi yang sudah berjalan. “Solusi dari kami adalah IBM Hyperautomation, tujuannya adalah efisiensi, kecepatan dan perbaikan kualitas.”

Sistem itu, kata Wahyudi, akan mengawal peralihan dari sistem manual, mulai dari membaca data yang semula manual hingga penggunaan robot yang membantu akan melampirkan data yang dibutuhkan berbagai pihak di RS.

“Chatbot contohnya, itu adalah satu robot. Robot ini bekerja secara otomatis, tanpa kesalahan. Mereka juga akan bisa mengambil keputusan, terutama yang bersifat rutin atau kriterianya memungkinkan, bisa dilakukan robot secara otomatis,” kata Wahyudi.

Selanjutnya, Automation Technical Sales IBM Indonesia Faisal Defry Hussainy dalam paparannya, Driving Hyperautomation Strategy Towards Smarter Hospital menyatakan sistem yang dikembangkan bahkan bisa mengenali tulisan tangan untuk melakukan ekstraksi data dari sistem manual menuju otomatisasi.

Pada tahap selanjutnya, bahkan Operational Decision Manager (ODM) bisa diterapkan oleh tenaga medis speerti yang dipraktikkan Antwerpen University Hospital yang menyatakan telah mempercepat dan menajamkan akurasi dalam pengambilan keputusan terkait diagnosa dengan ODM. “IBM ODM mengkombinasikan keahlian dokter dengan sistem dalam mendiagnosa hingga pemberian resep. ODM menggunakan data dalam model prediksi sehingga memperkuat akurasi dan tentunya mempercepat proses.” (IZn – persi.or.id)