Transformasi Digital RS, Dari Akses Secepat Kilat ke Rekam Medis Elektronik Hingga Contact Centre nan Canggih

2022-04-26 11:31:14



PT Info Sarana Medika (ISM) PERSI bekerjasama dengan Pure Storage dan Cisco Indonesia menyelenggarakan Webinar Essential Part of Digital Transformation in Healthcare pada Sabtu, 23 April 2022. Webinar yang diikuti kalangan perumahsakitan, termasuk tim IT serta manajemen dan rumah sakit (RS) itu mengupas berbagai solusi dan perkembangan terkini digitalisasi di RS yang aman, cepat dan nyaman digunakan seluruh tim RS maupun pasien, termasuk ketika mereka berada di rumah.

Product Manager Pure Storage, PT. ECS Indo Jaya Rudi Asit dalam paparan pembukaannya menyatakan pihaknya merupakan distributor resmi produk Cisco Indonesia dan Pure Storage. “Semua sektor industri di dunia dituntut melakukan pengembangan teknologi informasi (TI) untuk mempermudah tim RS dan masyarakat sebagai pengguna jasa. Semua pengguna itu berharap tidak ada lag atau down time berbagai fasilitas TI sehingga everybody happy.”

Fasilitas TI, kata Rudi, juga menjadi kunci sukses RS dalam menangani pasien pada masa Covid-19, penciptaan vaksin hingga mendistribusikannya. “Semua riset itu hingga data statistik itu tak lepas dari teknologi. Sehingga kami berharap pertemuan kali ini bisa membahas transformasi digital di dunia kesehatan yang dapat membangun kualitas, mempermudah individu RS dan masyarakat sehingga kota bisa lebih baik membangun dan menikmati layanan kesehatan.”

Selanjutnya, dalam sesi diskusi yang dimoderatori Direktur Utama PT ISM PERSI dr. Rr. Grace Cielia, MKK, berbicara Country Digital Acceleration Cisco Systems Indonesia David Hermawan yang mengupas topik Accelerating Healthcare Digitalization with Trust. “Kepercayaan adalah komponen yang sangat penting, bagaimana kita mengadopsi teknologi baru dan memastikan layanan kesehatan yang kita berikan tetap berkualitas dan bermanfaat,” ujar David.

Kekuatan data
David kemudian mengutip riset Cisco yaitu Future of Technology Report pada Oktober 2021 secara global, termasuk Indonesia. Salah satu hasilnya, pentingnya aspek fleksibilitas, koneksi sehingga dokter bisa melayani dari mana saja, keharusan dokter mengadopsi IT, peralihan ke aplikasi, semakin pentingnya kecerdasan buatan atau AI, serta otomasi. Terkait AI, dibutuhkan data yang semakin banyak untuk memperlancar proses belajar AI.

“Namun yang terpenting adalah infrastruktur yang perlu kita pastikan, misalnya saat akan deploy sebuah aplikasi, ketika mislanya karena dokter yang menggunakan telemedisin di RS tersebut, ternyata network-nya tidak tidak support band with-nya sehingga akan menjadi bottle neck bagi sebuah organisasi yang sebenarnya sudah siap melakukan digitalisasi.”

David kemudian menjelaskan, Cisco kini sudah diaplikasikan di 13.257 di RS dan fasilitas kesehatan lainnya serta 3.475 perusahaan kesehatan, farmasi serta alkes di lebih dari 100 negara. Selanjutnya, Cisco berkolaborasi dengan Healthcare Information and Management Systems Society (HIMSS) merilis Infrastructure Adoption Model (INFRAM) sebagai tolak ukur. framework-nya adalah kolaborasi, data center, security, transport serta wireless.

“Idealnya semuanya harus otomasi, saat pengisian medical record, selain soal data center, tidak lagi ada input manual, semua harus dilakukan alat-alat yang ada secara otomasi, mulai CT scan hingga sistem lab dan radiologi, untuk mengurangi risiko human error. Semaksimal mungkin harus otomasi serta seamless.”

Cisco, kata David, mendukung semua proses digitalisasi itu mulai networking, collaboration, security, services hingga application infrastructure. Salah satu institusi yang mengaplikasikan solusi Cisco adalah Mercy Virtual di Amerika Serikat yang menginterasikan 40 RS dalam 1 dashboard. “Contact center di sana dikawal oleh perawat dan dokter yang tersertifikasi yang ketika seorang pasien menelepon maka dengan sistem kolaborasi, semua data medis dari berbagai lokasi bisa ditelusuri. Pasien juga dibekali device untuk mengukur temperatur, tekanan darah. Sistem ini dikelola juga dengan sistem security yang baik untuk memastikan gadget yang dibawa pasien itu tidak justru berbahaya bagi sistem RS.”

Di Indonesia, sistem Cisco di antaranya telah diaplikasikan di RS Pusat Pertamina Extention Simprug serta RS Wisma Atlet. “Tersedia pilihan rapid deploy serta full pack bisa satu atau dua tahun perjalanannya. “Prinsipnya menghubungkan people technology serta places.”

Kisah sukses RS Pondok Indah Group
Selanjutnya, System Engineer Pure Storage Indonesia Panji Adiprabowo dalam paparannya yang berjudul Why Pure for Healthcare menyatakan pihaknya adalah data platform company yang menunjang proses digitalisasi kesehatan sebagai landasan utama. “Data ini digunakan untuk menyimpan data pasien maupun non pasien. Kami menjadi leader selama 8 tahun berturut-turut, dan membantu RS yang besar maupun kecil untuk selanjutnya disimpan di lingkup internal atau komputasi awan.”

Pihaknya, kata Panji, akan membantu proses digitalisasi di RS, mulai manajemen rekam medis, hingga kecerdasan buatan untuk membantu pembacaan hasil radiologi yang keduanya dinaungi sistem keamanan. “Sehingga teknologi bukan hanya menjadi sumber biaya, tapi sebagai enabler, di antaranya saat membantu hasil-hasil imaging. Sementara dalam penyimpanan data, layanan kami tidak ada masa kadaluwarsa.”

Salah satu kelompok RS yang telah menggunakan Pure Storage, kata Panji, adalah RS Pondok Indah Group yang baru-baru ini meraih validasi Electronic Medical Record Adoption Model (EMRAM) Tingkat 6 dari HIMS Tingkat 6. EMRAM mengukur kematangan digital rumah sakit di seluruh dunia dengan Tingkat 7 sebagai tingkatan tertinggi. Pencapaian ini menjadi yang pertama di Indonesia.

Baru 16% RS Indonesia miliki rekam medis berkualitas
Dari aspek perumahsakitan, Ketua Kompartemen Pusat Data dan Informasi Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Anis Fuad, DEA menyatakan dibandingkan dengan sektor industri lain, layanan kesehatan memiliki tantangan dari kompleksitas dan tingginya investasi pada teknologi serta sumber daya manusia.

“Suryey PERSI pada Maret 2022 menunjukkan, dari 3.000 RS yang ada di Indonesia, 50% telah menerapkan rekam medis elektronik namun mungkin baru 16% yang sudah bagus. Dari aspek teknologi, kesiapan infrastruktur baru 40% RS yang merasa kondisinya telah baik. Ini menjadi catatan bagi para pemangku kepentingan.”

Harus top down
Sementara pada sesi yang dibawakan praktisi TI Kesehatan Ir. Tony Seno Hartono, M.Ikom mencuat pentingnya RS menerapkan rekam medis elektronik dikaitkan dengan regulasi penyimpanan data selama 5 tahun serta 10 tahun dalam bentuk ringkasan. “Sehingga dapat dibayangkan rekam medis berbentuk kertas akan memakan biaya,” ujar Tony.

Selanjutnya Tony juga menekankan bahwa kuci utama digitalisasi di RS adalah kepemimpinan. “Keputusannya harus top down serta tim IT harus bisa mengkomunikasikan keuntungan penerapan digitalisasi ini dengan baik pada tim keuangan dengan bahasa yang dipahami dengan baik, misalnya berapa keuntungan yang bisa diperoleh, efisiennya.Jadi digitalisasi ini bukan cost tapi enabler. Namun, tentu saja penerapan bisa dilakukan langkah demi langkah sesuai ketersediaan investasi dan kebutuhan.” (IZn – persi.or.id)